BBM, oh, BBM..

Yang lagi rame diberitain adalah mulai 1 April 2012, BBM alias Bahan Bakar (yaelah, lupa hurup M-nya apa) naik dari 4500 jadi 6000 rupiah. Oh iya, ini untuk BBM yang bersubsidi ya, atawa bensin premium.
*eh udah ingat, M-nya Minyak, pinter kan, gue? Haha*

Kenaikan harga BBM pastinya bakal berimbas ke banyak hal. Contoh paling gampang, ongkos angkutan umum. Buat yang nggak pernah naik angkot, mungkin kenaikan dari 4500 jadi 5000 atau 6000 akan berasa "duile, lebay amat, cuma naik gopek/ seceng doang". Tapi yaaaaa, buat para pengguna angkot akan berasa, lho. Salah satu alasan orang naik angkot kan, karena (umumnya) nggak punya kendaraan pribadi. Kalaupun ada yang punya kendaraan pribadi tapi memutuskan naik angkot, biasanya jarang banget. Enak-enak naik mobil sendiri, ga desak-desakan, ga nungguin angkot di pinggir jalan, ga kepanasan, ga pegel kalo ga dapet duduk, mosok mo naik angkot.
Aheum, boleh dong, gue bangga (lagi) untuk hal yang satu ini *melototin mobil yang lebih sering ngendon di garasi rumah*, setidaknya membuktikan komitmen untuk nggak nambah-nambahin mobil di tengah kubangan kemacetan Jakarta :)

Nah, buat para angkoters, kenaikan ongkos akan mempengaruhi pengeluaran perbulan. Coba, 500 perak dikali 20 hari kerja, aja, udah 10 ribu. Itu bisa untuk makan siang, lho! (Eh ga percaya, masi ada makan siang yang 10 ribu? Coba mampir depan Commonwealth Kemang Raya, nasi rames pinggiran itu gue makan cuma 8 ribu perak!).

Hal lain yang berpengaruh adalah sembako. Kok bisa? Ya iyalah, sembako itu kan diangkut ke pasar/ agen/ supermarket pake mobil, nah akibat BBM naik, biaya operasional juga akan naik, dong! Ngaruh deh, ke harga-harga barang yang ada di pasar.
Percaya deh, emak-emak yang sering bertindak sebagai manajer keuangan rumah, pasti akan 'berasa' banget kalau belanja pas harga barang naik. Ya kan? Ya kan? Gue aja suka tercengang, "kayanya cuma masak begini doang, kok habisnya 40 ribu" (gini doang itu= sayur 1 macam dan lauk spt ikan/ ayam/ daging 1 macam).
Nah, golongan menengah aja (kalo kata Vitri-nya QM, kita-kita ini *kita? Elo aja kali, Lit!* masuknya golongan menengah. Heits, jangan protes, selama masih mengeluh sama pengeluaran dan berasa hidup ini kuraaaaaang, aja, pukul rata lah, jadi golongan menengah *semena-mena*, hihihi) kebingungan menghadapi kenaikan harga-harga, walaupun tetap mampu membeli, ya. Gimana dengan golongan dibawah kita?

Jadi, kenaikan BBM salah?
Menurut pendapat gue dengan rendah hati (terjemahan bebas dari in my humble opinion alias IMHO), nggak salah juga sih. Kalau tujuannya supaya banyak yang bawa kendaraan pribadi kemudian merasa "ih bawa mobil mahal ya, naik angkot, ah!" tercapai, ya alhamdulillah. Mana tau jalanan jadi nggak macet kan, karena satu persatu merasa bawa kendaraan sendiri itu mahal.

Memang sih, nggak akan segampang itu membuat yang biasa naik kendaraan pribadi beralih ke kendaraan umum. Apalagi 'protes'nya kan, kendaraan umum di Jakarta belum memadai. Padahaaaal, u'll never know until you try..
Dan memang sih, masalah kendaraan umum ini HARUS jadi PR besar pemerintah Jakarta kalau emang niat mengurangi kemacetan.

Tapi yaaaaah, kalau berharap terus sama pemerintah, nggak akan mengubah apapun dong! Kenapa nggak coba dari hal yang keciiiil, seperti diri sendiri gitu?

*gue ini kalo bikin postingan beginan pasti UUA, ujung-ujungnya angkot :D. Ngelamar jadi humas PPD apa ya? :p*


sent from my Telkomsel Rockin'Berry®

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

2 comments:

  1. yah mbak lit.. Ak kan bru saja menikmati angkot2 ibukota. Masak taripnya uda mo naik ajah.. *hahah. Protesnya salah sasaran*
    menurutku t yg harusny dbenerin t soal harga mobil/motor ma pajak deh. Lha mobil ja skrg murahnya gitu. *padahal y eik tetep g mampu beli.wkwkwk* etapi kalo pajaknya digedhein nti tambh dikorupsi lg. Woh.. Serba salah. -_-"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa.. Kemaren baca di salah satu berita, dalam range waktu sekian bulan itu ada 900.000 mobil baru turun ke jalan. Gila kaaaan? Mana ga mau macet banget cobak?

      Emang harus dari mentalnya dulu kali ya, dibenerin. Pajak digedein, jadi celahh korupsi. Ah, dilema...

      Delete