Happily ever after

Kalo kata Slank, "ini cuma khayalan saja, cerita orangtua.."
Iya, kalimat happily ever after kayanya cuma pas untuk dongeng-dongeng Disneyland, Princess, pokoknya pelem dan aneka novel romantis lainnya.
Ini nih, pagi-pagi jadi kepikiran beginian gara-gara banyak dengar dan baca status di jejaring sosial para ABG galau. Mungkin mereka pikir kalau menikah, satu rumah, 24 jam bersama, itu adalah penyelesaian dari sebuah masalah yang mereka hadapi selama pacaran? Oh, honey, you are wrong!

Kepikiran nggak, setelah menikah akan tinggal dimana? "Ah ngontrak aja, lebih enak, merasakan pahit manis hidup berdua". Akuuur, setujuuu, dulu juga temennya yang nulis postingan ini anggapnya demikian. Tapi kemudian orangtua berkata, "mendingan dirumah aja dulu, kan lumayan uang buat kontrak di tabung dulu buat DP rumah". Nah, kalau pasangan setuju mah, cangcing, kalo nggak setuju atau mengiyakan tapi berat hati? Apa nggak jadi 'friksi' tuh?

Masalah dalam kehidupan rumah tangga, menurut gue jauuuuuh lebih kompleks dibandingkan sekedar masalah pacar nggak telpon, sms ga dibales, cemburu sama teman kerjanya, dst dsb. Apalagi kalo udah punya anak, beuh, masalah gituan mah ga ada seujung kuku, kale..

Pernikahan, nggak cukup hanya cinta. Butuh uang untuk makan dan hidup. Lalu apa cukup dengan cinta dan uang? Oh cencu tidak, berapa banyak pasangan yang gue kenal dan tau secara hati masiih cinta dan financially ok, tapi tetap ada masalah. Nggak sedikit yang berujung pada perceraian.

Lah, terus apalagi dong?
Toleransi. Sebanyak-banyak cinta yang lo punya, ada duit sekarung, tapi kalo toleransi rendah, kelar cyin. Serius.
Toleransi macam apa sih, emang, yang dibutuhkan?
Dari hal keciiiiiil, seperti suami tidur ngorok, demen pake handuk atau sikat gigi bersama, naro pakaian kotor dimana-mana, istri nggak bisa masak, istri doyan belanja, dst dsb sampai hal besar, misalnya ikut campurnya keluarga besar dalam rumah tangga atau malah perbedaan keyakinan.
Coba, kalo ga toleran dengan hal-hal kecil semacam itu, apa kabar dengan masalah besar? Apa nggak jadi bahan ribut sehari-hari?

Emang kita tau itu si prince charming-nya Putri Salju mau bantuin cuci piring apa nggak? Atau Ken-nya Barbie yang ngoroknya sampe kedengaran satu RT?

Gue juga bukan 'sang benar' yang udah cukup punya toleransi ke suami. Ofkors, sometimes I sweat small things, tapi setelah melalui badai besar, rasanya hal-hal kecil menjadi semakin kecil karena gue punya isu besar yang harus diselamatkan dari biduk (ta'ela) rumah tangga ini.

So, happily ever after? Dapet salam dari Cinderella :D

(Ah ya, postingan ini ditulis saat macet tadi pagi, tapi batere abis, jadi baru lanjut tengah malam deh)

sent from my Telkomsel Rockin'Berry®

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

No comments:

Post a Comment