Belajar Bahasa Indonesia

Jalanan lancar pagi ini, karena isu demo besar-besaran, kayanya bikin orang pada nggak kerja (kaliyeee). Alhasil kecepetan dateng ke sebuah event, daripada bengong, meri bikin blogpost.
Capek ngomongin politik, mari kita belajar bahasa Indonesia :D
Gue nggak cerdas-cerdas amat sih, masih sering typo dan alpa pemisahan dimana atau di mana? Dirumah atau di rumah? Dan lain sebagainya. Tapi cukup sering gemes sama orang-orang yang menulis tanpa mengindahkan aturan yang seharusnya. Hal paling dasar untuk menulis, nih, misalnya:
- Pergunakan huruf kapital setelah titik, tanda tanya, tanda seru. Seriiiing banget gue lihat hal ini diabaikan. Padahal kalo ngetiknya pake smartphone, biasanya langsung terprogram setelah tanda-tanda baca tersebut, kasih spasi lalu akan muncul dengan huruf besar.
- Nah, berkaitan dengan poin diatas, penggunaan spasi setelah tanda baca juga salah satu hal mendasar dalam tekhnis penulisan.
- Penggunaan huruf kapital. Selain setelah tanda baca, huruf kapital juga digunakan untuk nama orang, negara, kota, atau lokasi seperti Candi Borobudur, Taman Mini Indonesia Indah, Ancol, dsb. Sapaan terhadap orang lain, seperti bapak, ibu, tante, dst menggunakan huruf kapital JIKA diikuti oleh nama mereka. Misalnya Ibu Lita, Bapak Suwarno (bapak gue nih), Tante Ira, dan seterusnya. Hal ini berlaku juga dengan titel atau pangkat, seperti presiden, jika diikuti dengan nama maka akan berhuruf kapital. Misalnya Presiden Sukarno atau Gubernur Jakarta.
- Huruf yang luruh dengan awalan. Ada 4 huruf yang luruh, yaitu K, P, T, S. Jaman SD, gue menghapalnya jadi KaPur TuliS :D Nah, ini juga banyaaaaak banget yang masih suka salah. Misalnya mengomunikasikan, bukan mengkomunikasikan. Mengilat, bukan mengkilat. Menyemangati, bukan mensemangati. Mematuhi, bukan mempatuhi. Mengubah, bukan merubah (kalo ini beda lagi, bukan luruh tapi menambahkan awalan menjadi meng-.
Hal-hal mendasar seperti ini kan seharusnya gampang banget, ya. Untuk penggunaan awalan di- gue masih suka bingung, jujur aja. @ondeymandey lebih hapal sih, karena dia kan memang editor. Tapi menurut gue, kalau hal-hal dasar seperti di atas itu udah disadari, harusnya buah tulisan juga akan lebih nyaman dan enak dibaca.
Kenapa sih, hal ini perlu? Untuk yang punya anak, nantinya anak-anak kita akan belajar tekhnis penulisan, kan, nah kalau ibunya tulisannya berantakan, gimana mau ngajarin anaknya?
Banyak lagi tata bahasa yang harus dpelajari, sih. Ada fonetik, semantik, morfologi, majas, pepatah, dsb. Tapi karena otak gue saat ini nge-load-nya hanya segitu dulu, jadi cukup sekian dan terimakasih, nanti kita lanjutkan lagi yaaa..

sent from my Telkomsel Rockin'Berry®

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

6 comments:

  1. Perkara edit bahasa ini suamiku bangeett.. Dia lulus jurusan teknik, tapi skripsinya nggak dapet koreksi sama sekali tentang editorialnya

    Btw, Mbak lit, kok "mengilat" terasa aneh yaa.. kalo gak dikasi tau bahwa itu adalah mengkilat, mungkin aku gak ngeh maknanya dah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa, memang ada beberapa kata yang kalo luruh rasannya jadi aneh. Seperti mengompensasi= kompensasi, mengomunikasikan, dsb. Tapi kalau mengikuti pakemnya, ya, begitu :)

      Wah, suamimu heybat!

      Delete
  2. TFS ya mak.. ditunggu pelajaran selanjutnya.. aku siap belajar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, gue juga masih belajar koook :)

      Delete
  3. Ih bner loh ternyata bhs Indo itu g segampang kliatannya,baru bener2 bljr itu pas persiapan UMPTN 200th lalu hehe yg masi inget bgt tuh standardisasi,apotek bukan apotik,atlet bukan atlit,eh bener kan ya?
    Pas bgt sama kerjaan gw skrg review perjanjian2,tapi berhubung bos gw perfeksionis bgt jadi malah lebih sering meriksain yg typo2&editorial nya drpd materi perjanjiannya hehe

    ReplyDelete