Thursday, May 16, 2013

Show off!

Kemaren gue tweet tentang 'di kala niat baik malah mengundang nyinyir'.

Gue ga mau dan ga bisa cerita secara kronologis mengenai hal ini. Nanti malah disangka show off :)

Intinya, gue heran aja sama orang-orang yang nyinyir dengan perbuatan baik yang udah kita lakukan. Gue nggak bilang gue sudah melakukan hal baik, karena gue, elo, atau siapapun nggak tau, perbuatan baik ini, baik kata siapa.

Dan gue yakin, orang yang ngomong bahwa gue show off, juga ga tau apa maksud dari perbuatan gue. Dia juga ga tau gue siapa dan apa cerita di balik perbuatan gue.

It is sad, you know. Ga ada maksud hati supaya gue dibilang si baik hati, peduli sesama, and so on. Ga penting buat gue! Kalo itu penting, dari awal gue udah bawa ga cuma segitu. Kalo itu penting, gue bakal nenteng ke mana-mana.
Kepedulian terhadap sesama bukan hal yang harus digembar-gemborin atau diajak-ajak, tapi harus datang dari hati.

Kalo gue tweet setelahnya, posting di socmed setelahnya, atau cerita ke orang lain, ga lain hanya untuk menggambarkan bahwa gue SANGAT merasa bersyukur barang yang gue bawa bisa bermanfaat untuk orang lain. Barang yang selama ini dilupakan, ditaro di pojokan gudang, ternyata berharga dan dirindukan oleh orang lain. I wanna share my feeling, bukan barang yang gue bawa atau perbuatan yang gue lakukan. Gue pengen berbagi perasaan yang gue rasain. Dan berharap orang lain bisa merasakan.

Tapi rupanya salah, ya. Masih banyak orang-orang berpikiran sempit dan menganggapnya beda. Kalo kata seorang teman, "itu tantangannya berbuat baik". Setuju banget.

Singkat kata, daripada lo nyinyirin sama apa yang gue lakukan, mendingan lo lakukan apa yang menurut lo nggak show off aja, gimana?
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, May 13, 2013

Traveling

Duile, apa banget gue nulis tentang traveling. Secara pengalaman traveling sangat minim, lokasi yang pernah dikunjungi juga bisa dihitung dengan jari, rasanya.
But I love traveling!
Who doesn't?
Rasanya di kolom hobi nyaris semua orang, bisa diisi dengan aktivitas yang satu ini, deh. Apalagi yang namanya jurnalis, mau ga mau harus akrab dengan kegiatan yang satu ini. Jurnalis tapi ga suka traveling? Sayang bener!
Ya, rekam jejak gue traveling memang kebanyakan berkat pekerjaan. Kalaupun bukan, makin sedikit lagi, deh, pengalamannya :))
Walau sedikit, tapi mau mencatat beberapa hal mengenai packing-an saat traveling, ah. Selama ini, gue emang nggak suka bawa barang banyak-banyak kalo pergi-pergi. Istilah 'the more the merrier' nggak berlaku. Hehe. Berat, bok!
Prinsipnya cuma:
- tau itinerary yang akan berlaku saat traveling,
- bikin perencanaan pakaian yang akan dipakai (serius bener, ya, bo. Biarlah, daripada berat bawaannya). Kalau gue, bentuknya gini kira-kira:
Berangkat: jeans- kaos item
Hari 1: celana cokelat- kaos putih
Hari 1- malam: jeans- blus bunga-bunga
Dsb..
Percayalah, hal ini sangat memudahkan, apalagi perempuan suka bingung pakai baju apa di pagi hari. Hehe.
- kalau nginep 2 malam, baju tidur 1 set aja bawanya,
- kalau nginep di hotel, nggak usah bawa handuk dkk, karena biasanya disediakan,
- kalau numpang nginep di rumah kenalan dan lebih dari 2 hari, sempatkan nyuci, terutama pakaian dalam,
- karena gue pake kerudung, gue selalu bawa baju dengan warna netral: hitam, putih, cokelat atau turunannya, untuk mempermudah hidup (baca: matching-matchingin kerudung sama baju)
- kalo urusan pakaian dalam, nah, ini yang harus dilebihin. Perhitungannya 1 hari butuh 2, lebihkan 2 dari jumlah kebutuhan.
Hari ini gue ke Nias. Bawaan gue cuma... 1 ransel untuk 3 hari 2 malam.
Road trip semingguan sama Langit dan Igun, bawaannya cuma 1 koper kabin dan 1 ransel untuk kami bertiga.
Ke Bali kemarin 3 hari 2 malam, cuma bawa 1 weekend bag dan 1 tas harian. Itu juga udah bawa baju dan sepatu buat lari, ankle boot buat event segala :D
Walau kadang-kadang berasanya kalau bawaan sedikit, "ada yang ketinggalan, ga ya?". Untungnya sejauh ini, sih, aman sentosa.
- dan baru inget, jaket ketinggalan-

Powered by Telkomsel BlackBerry®







Saturday, May 4, 2013

Belajar Kecewa

Tadi pas di #FDgaragesale, gue ajak Langit. Karena suami ke bengkel, terus kalo gue ke kantor, pasti bakal lama. Kasihan aja dia berduaan doang di rumah sama mbaknya.

Sampe kantor ternyata Putri bawa Kaia, Nopai ajak Maika dan Hani sama Jehan plus Jibran. Langit langsung main sama Maika dan Kaia di ruang meeting.

Setelah beberapa lama, tau-tau Langit nangis. Cari gue. Ditanya kenapa, dia bilang, "mau sama ibu". Ya sudah, gue temenin. Terus nggak lama udah mau ditinggal lagi, berdua sama Kaia karena Maika pergi sama Nopai.

Singkat cerita, ketika kami sampai rumah, mau tidur, Langit baru cerita kenapa dia nangis. "Aku mau stiker Maika, tapi nggak dikasih", gue nyaris ketawa, untung ga jadi, karena Langit suaranya bergetar menahan tangis.

Lalu gue tanya, "Langit udah minta sama Maika?". Udah, katanya. Ya gue jelasin, bahwa, itu stiker Maika, jadi hak-nya Maika untuk ngasih atau enggak. Sama halnya kalau mainan Langit mau dipinjem temannya, Langit punya hak untuk ngasih atau enggak.

"Langit sedih, Maika nggak kasih?". Langit ngangguk, "tapi kenapa Kaia dikasih?". O, jadi dia kecewa plus bingung kali ya, kenapa temannya dikasih, dia enggak.

"Langit sudah semakin besar, itu namanya Langit belajar untuk kenal sama perasaan kecewa, sedih. Langit marah sama Maika?". Dia menggeleng.

"Ya, itu namanya Langit kecewa. Langit harus tau, bahwa nggak semua hal di dunia ini, bisa sesuai dengan keinginan Langit". Iye, gue tau, bahasanya masih terlalu kompleks untuk anak usia 5tahun. Selesai gue ngucapin itu, dia nutupin mukanya pake guling, lalu nangis tersedu-sedu.

Antara lucu sama terharu lihatnya. Tapi gue nggak mau langsung menghibur dengan mengalihkannya dengan hal lain supaya lupa sama perasaannya, karena menurut gue, ini masalah serius (untuk anak usia 5tahun) yang baru belajar mengenali perasaan kecewa. "Langit mau gimana, jadinya?".

Dia minta gue nanya sama Maika kenapa nggak kasih dia. Hehe, ada-ada aja, kan? Tapi, ya, gue lakukan. Setelah sebelumnya nanya, "Langit udah tanya tadi, kenapa nggak dikasih stiker?". Katanya udah, tapi Maika tetap nggak kasih.

Setelah itu, baru gue janjikan, besok akan kasih dia stiker juga. "Kalo ibu kasih stiker, Langit masih sedih nggak?". Enggak, katanya. Lalu dia peluk gue, terus tidur.

Ya, nak, dalam hidup, nggak semua hal harus sesuai dengan keinginan kita. Semakin kamu besar, kamu akan belajar hal tersebut. Kekecewaan demi kekecewaan pasti akan datang. Tapi, somehow, kita akan belajar untuk menghadapinya. Entah bagaimana caranya..

*peluk erat Langit*


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, May 3, 2013

Apps- Apasiih?

Gue anaknya nggak banci gadget. Biasanya apa yang ada, ya gue pake aja.
Baru-baru ini gue punya Galaxy Cam, nah, lumayan seneng deh nih ngotak ngatiknya. Terutama di Playstore kan banyak banget apps yang bisa di-download secara gratis.

Sebelumnya, sih, sering otak atik Samsung-nya Igun, tapi secara bukan punya sendiri, ya, udah download games Hello Kitty, eh dihapus sama dia :|

Secara ijk nggak tacky banget anaknya, jadi apps yang ada palingan cuma:
- Apps- nya Langit. Awal-awal dulu, dia mau semua games, ngabis-ngabisin memori, haha. Sekarang, sih, tinggal puzzle-nya Strawberry Shortcake, Belajar Membaca, Kids TV (apalah itu, yang udah filterin video-video dari youtube khusus anak-anak dan udah dikategoriin).
- Games gue. Hihihi, untuk menghilangkan kebosanan, ada beberapa games kaya yang restoran burger, guess the word, song pop, coin dozer (eh, kok banyak, ya, ternyata?)
- Apps yang bermanfaat. Berhubung gue punya ini camera, jadi nggak bisa lah gue download yang buat olahraga, berat kale! Jadi gue download palingan tweetcaster buat tweet dari Mommies Daily, Instagram, Photo Grid, Camera 360 (bermanfaat untuk nambahin kadar cakep muka sekitar 80%) plus DecorativeJI.

potonya jelek, ya? maklum, gadget cuma 2, kalo mau foto BB, pake Galaxy Cam, foto Galaxy Cam, ya pake bb :D

Apps yang terakhir ini, awalnya karena pengen ngecat ruang tamu rumah. Eh, sebenernya pengen cat rumah seluruhnya, tapi karena satu dan lain hal (bilang aja budget, ya, hihihi), jadi mikir untuk ruang tamu aja dulu. Nah, ruang tamu rumah gue ini agak ajaib, sih, bentuknya, karena langit-langitnya nggak pake plafond jadi tinggi banget.

Iseng-iseng cari apps yang berhubungan dengan rumah, nemu si DecorativeJI ini. Suka banget! Gue bisa memperkirakan berapa jumlah cat yang harus dibeli, jadi nggak kelebihan atau kekurangan. Bukan pelit, lho, tapi memperhitungkan secara cermat :p

Selain itu, yang gue suka Let's Colour, karena bisa mix and match warna-warna di rumah sesuai sama mood yang kita inginkan plus kode cat tembok yang dibutuhkan. O, iya, apps ini dari cat tembok Jotun. Untuk urusan merek, sutra lah, ya, Jotun kan salah satu cat tembok yang top di antara yang pop *halah ketauan angkatan berapa*.

Ini memudahkan banget, sih, jadi pengalaman dulu waktu renovasi rumah, gue cuma ngebayang-bayangin doang cat tembok yang diinginkan. Warna merah sama oranye, gimana ya, warna hijau sama biru bakal gimana ya? Dan berakhir, cuma ngecat rumah dengan warna abu-abu :|

Nah, kalau pake apps ini, jadi kelihatan paduan warnanya cocok apa nggak, dan lain sebagainya.

Ada juga games ColourPop. Modelannya sih kaya Bejeweled, ya. Lumayan lah untuk kao lagi bosan. O,  iya, selain itu, yang penting untuk beberapa orang, ada fitur Jotun Geomancy yang bicara masalah Feng Shui dan elemen-elemen. Bisa tanya jawab pulak sama praktisi Feng Shui. Kumplit lah, apps ini untuk rekan-rekan *ceile* yang akan/ sedang/ berencana bangun atau renovasi rumah.


Monday, April 29, 2013

Harus Punya Prinsip!

Gue percaya, hidup HARUS punya prinsip.
Salah satu tokoh parenting, Elly Risman, kerap mengatakan, "ber-iPad anak orang, ber-iPad juga anak kita. Jadi orang tua nggak punya prinsip banget, sih, lo?".

Gue rasa, ribuan orang akan merasa #jleb sementara yang lainnya defensif :D

Memang, kalimat ini dilontarkan saat bahas topiknya berkaitan dengan gadget. Sering banget kita bilang bahwa, anak-anak zaman sekarang, 2-3 tahun usianya, tapi udah gape operasiin gadget. Yah, well, kita (para orang tua) yang menyediakan fasilitas tersebut, kan, ya?

Walau demikian, bagi gue pribadi, kalimat ini nggak hanya di masalah gadget semata. Gue anggapnya malah lebih kompleks: jadi orang jangan ikut-ikutan. Harus punya prinsip.

"Tapi, kalo ikutin yang baik, boleh, dong?"
Boleh banget. Tapiiiiii, baik menurut siapa? Baik untuk siapa?
Misalnya, nih, perkara diet. Dari zaman SMP, gue udah sering banget denger kata ini. Lalu mulailah gue tau yang namanya minum teh-tehan ala Herbalax, dsb, lalu ada diet rendah kalori, diet nggak makan nasi, diet atkin, food combining, diet pulau zuma (ini ada beneran ga sih, gue bacanya di buku Girls Talk :p ), dan yang lagi hits ngejus!

Gue nggak pernah diet.
Bukannya gue nggak mau berperut six pack ala Gwen Stefany (halah, teeteub), secara kan, ya, (seinget gue Carlo Master Boot Camp yang kasih tau ini) 70% abs are made in the kitchen, not in the gym. Jadi, elo mau crunching, planking, sit up sekuat tenaga, tapi makan tetap 'berantakan', ya, perutnya ga bakal six packs. "Tapi rata, lho!". Yes, rata. Kalo lagi tidur telentang juga perut rata, yes?
Balik ke topik, statement gue ga bisa diet, maksudnya lebih merujuk ke: gue-ga-pernah-ngikutin-aneka-diet-yang-lagi-tren. Gue lebih makan secukupnya, dan kebetulan emang bukan tipe yang mencari kebahagiaan lewat makan. Jarang banget kalimat, "makan enak yuk", keluar dari mulut gue. Karena bagi gue, semua makanan itu cuma terbagi 2: enak dan nggak doyan. Hahha. Jadi, gue makan, karena harus. Jarang banget berlebihan.

Perkara hal ini, menurut gue, kita ga bisa ikut-ikutan. Setiap orang kan komposisi tubuhnya beda. Dengan tinggi dan berat yang sama, BMI persis sama pun, komposisi dalam tubuhnya beda: fat-nya, muscle, protein, mineral, dsb.
Sebelum ikutan diet yang lagi hits, kenali tubuh lo, dulu deh. Apa yang berlebih dalam tubuh, apa yang kurang. Dari situ, bisa tau, apa yang boleh dimakan, apa yang enggak. Jadi 'diet'nya efektif. Bukan yang udah, kasarnya, nih, nyusahin diri sendiri, eh nggak efektif. Pernah dengar teman/ keluarga/ malah diri sendiri, pingsan/ masuk RS karena diet? Nah.........

Lalu perkara menjadi orang tua.
Men, masalah diet aja lo nggak bisa ikut-ikutan, apalagi jadi orang tua?! Jadi orang tua menyangkut kehidupan manusia lain, lho. Nggak usah juga semua orang anaknya pake stroller Quinny (masih hits ga sih? Haha), kita kudu make. Semua orang anaknya udah disekolahin, anak kita juga. Anak orang nonton Disney, Barney, Princess, dsb, anak kita juga! Padahal anaknya nggak demen-demen amat (ini gue banget, ajak Langit nonton Barney live, ternyata dia nggak suka *sigh* untung aja gratis, haha). Dsb dst. Kita (atau anak kita) nggak harus sama dengan anak orang lain, kan?

Bahkan, ya, ASI yang sudah pasti yang terbaik aja, lo tetap kudu riset. Kenapa ASI terbaik untuk anak, ibu dan seluruh keluarga? Ngasih ASI karena emang-dari-sononya-orok-pasti-netek, ya nggak apa-apa juga.

Tapi, dengan riset, pengetahuan yang lebih mendalam, kita akan lebih 'berjuang' dalam pemberian ASI. Bukan yang "ASI eksklusif tapi campur susu botol sedikit" (melirik tajam ke arah KD).
Dengan riset, kita akan tau risiko jika tidak memberikan ASI. Dan yang paling penting, kita ngasih ASI karena pengen kasih yang terbaik, bukan karena HARUS. Nah, harus ini, nih, yang bahaya. Bisa-bisa kita nyusuin, tapi sambil mengeluh, capek, suami enak banget ga harus nyusuin, tiap berapa jam memerah ASI itu nggak enak, sampe urusan payudara nggak kencang lagi. X_x

Dan masih banyak contoh-contoh lain di dunia ini yang, yah, kita harus punya prinsip saat menjalaninya. Yang gue jabarkan di atas adalah prinsip gue. Kalo ada yang punya prinsip "harus ikuti tren yang sedang berlaku", ya terserah juga. Kan prinsip hidup orang beda-beda :)

Piss ah!
Powered by Telkomsel BlackBerry®