Another Lesson

Kemarin gue lari-lari sore di GBK sama Adis. Terus baliknya sekitar abis Isya, tadinya agak ngeri juga ga dapet omprengan. Tapi pas jalan keluar, kok ada Avanza jalan pelan-pelan. "Ah ini pasti omprengan". Benar aja, seorang bapak baru balik kantor sekalian ngompreng. Yang naik mobilnya, baru berdua, gue dan satu ibu lagi.

Gegara maraknya berita penculikan, perampokan, plus kebanyakan nonton serial kriminal, gue rada parno. Gimana kalo tau-tau bapak dan ibu ini kerjasama culik gue? Iya, GR banget emang. Hahaha.

Karena agak nervous, gue sibuk ajak ngobrol mereka berdua. Haha. Bedon yak. Tapi serius, ini gegara berita kehilangan mbak financial planner kemaren emang rada parno. Walaupun si mbak ternyata nggak hilang melainkan menghilangkan diri. But anyway, intinya parno. Titik.

Si ibu yang satu ternyata turun di Jatiwaringin, berarti dia duluan, dong. Tinggal gue sama si bapak.




Bapak: "mbak turun mana?"
Gue: "Galaxy pak"
Bapak: " ya udah bareng aja kalo gitu, saya juga pulangnya ke Galaxy"

Terus dari situ gue ajak ngobrol, tanya macam-macam. Ternyata si bapak kantornya di daerah BEJ. Ngomprengin mobilnya iseng-iseng aja. Daripada kena macet bete sendirian. Urusan untung rugi, dia nggak mikir. Toh ada atau nggak penumpang, dia tetap harus berangkat dan pulang kantor.

Sampai ke statement, "saya kalo pagi juga anter anak dulu,mbak, ke sekolah mereka". Pas gue tanya di mana, ternyata anaknya di GPS, salah satu sekolah swasta bergengsi untuk wilayah Galaxy-Kalimalang dan sekitarnya. Ada dua pulak di sana.
Di titik ini gue udah yakin si bapak orang baik. LOL. Lagipula, dengan dia mampu nyekolahin anak-anaknya di sana, tapi masih mau kasi orang lain tumpangan berbayar nggak seberapa itu toughtful sih imho.

"SMP mau lanjut di sana lagi pak, anak-anak?"
"Wah nggak mbak. Mau saya masukin asrama katolik di Bogor"
"Loh kenapa pak, pertimbangannya apa?" *anjrit gue bak reporter televisi ga sih?*
"Supaya anak saya mandiri.."

Jadi menurutnya, ke dua anak laki-lakinya manja. Terbiasa hidup dengan ibu (istrinya) yang siap sedia untuk si anak. "Bahaya mbak,kalo terus begini. Sampai kapan mereka mau dilayani ibunya?".

Kata si bapak, awalnya si anak dan ibunya nggak setuju dengan wacana asrama. Tapi si bapak nggak menyerah, "setahun saya bujukin mereka". Salutnya gue, walau ke asrama adalah keinginan si bapak, tapi dia ga mau maksa. Dia suruh anaknya browsing dulu tentang sekolah di asrama. Terus, dia ajak anaknya mengunjungi asrama-asrama di beberapa daerah mulai dari Bogor sampai Ambarawa, sampai si anak tumbuh sendiri minatnya untuk sekolah di sana. Dan si anak sendiri yang memilih akan berasrama di mana. Kali ini, anak dikasih kebebasan.

Mungkin cerita ini biasa aja, tapi dari kacamata gue, ini beda sih. Sering gue tau kalo orangtua ingin sesuatu atas anaknya, maka mereka akan memaksa. Akan memutuskan hal tersebut tanpa pedulu anaknya mau apa nggak. Atau cerita lainnya, si ortu justru ngalah sama keinginan anak.

Cerita ini bikin gue ngeh, bahwa ada cara lain lagi. Maksa anak supaya nurut keinginan kita, tapi pelan dan ajak anak kenal dulu jadi justru si anak mau memutuskan sendiri.

Ini bisa diaplikasikan ke mana aja sih. Misalnya makanan, ada yang suka nanya anak mau makan apa? Ofkors ini baik. Tapi kebayang ga kalo anak jawabnya, "ayam balado seperti di rumah Nin", sementara hari itu kita nggak belanja ayam, atau kita nggak bisa masak *mengaca sedih*. Terus kalau kita kasih pilihan "ayam kecap aja ya", karena adanya itu. Anak bakal kecewa atau protes kan, "lah tadi nanya, kok sekarangmalah ditawari yang lain?".

Kalo nawarinnya, "kamu mau makan ayam kecap atau telor dadar?" *hihi contoh pilihannya ya telor dadar, yang gampil bikinnya*. Jadi, kita biarkan dia milih, dengan pilihan yang sudah ditentukan.

Nggak tau cara ini salah apa nggak, tapi bagi gue, cara ini baik  untuk ditiru. Memberikan pilihan juga ada triknya. Satu pemikiran gue, karena kita belum tentu selamanya bisa memenuhi keinginan anak. Nggak selamanya kita harus mengabulkan kemauan anak yang mungkin terasa tanpa batas.

Kalau kata artikel Leija di Mommies Daily, anak harus merasakan kecewa dari kecil. Kalau nggak, kita seperti sedang membesarkan raja-raja kecil di rumah.

Ya nggak, sih?

Thanks bapak yang semalam ngompreng atas pencerahannya.

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

8 comments:

  1. wah keren. jadi dapet another lesson juga nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, belajar bisa dari mana saja yaa :)

      Delete
  2. wah iya yah, bisa jadi trik tambahan untuk negosiasi dengan anak nih.
    thanks ya mbak

    ReplyDelete
  3. Iya emang kalo anak disuruh memilih, sebisa mungkin diarahin untuk beneran milih yang kadang dia gak mau dua-duanya. Ato belajar milih yang dia mau dua-duanya. Intinya anak belajar bahwa dia gak bisa memiliki semua yang dia mau, makanya dia harus belajar memilih satu dari beberapa pilihan yang semuanya dia suka.

    Juga belajar memilih satu dari semua pilihan yang dia gak ada yang mau. Dan dia tetap harus memilih, karena gak ada pilihan untuk skip ato tidak memilih. Walopun semuanya gak ada yang enak buat dia, tetep dia harus bisa memilih.

    Eciyeee....kalo sotoy gini, gw lebih mirip kayak asisten si Mbak arteis pendukung toge ato asisten Bu Elly nih. Padahal mah dalam praktek nyatanya masih emak-emak gagap parenting wakakakak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang kalo ngomong gampang, ya, Ndah.. tapi kenyataan tak seindah impian, hahahaha!
      Tapi setuju tuh, kasih pilihan yang sama2 nggak enak atau kasih pilihan yang sama2 enak. Biar anak mikir :)

      Delete