Begini Ceritanya...

10 Juli
Gue: "Jadi papa nyoblos Jokowi nggak?"
Bokap: "Nggak lah, susah itu dia mau maju disini, pasangannya Ahok itu juga kan non muslim, susah sama Betawi deh. Biarin, pilih Foke aja"
Gue: : "Lah, gimana, Foke banyak nggak benernya, juga"
Bokap: "Iya, emang. Lagian, Jokowi sudah di Solo aja, deh! Solo jadi bagus, ya minimal jadi Gubernur Jawa Tengah, deh"

Itu sekilas pembicaraan gue dan bokap malam sebelum Pilkada. Bokap gue Solo asli, gue pikir akan bangga kalau Jokowi di Jakarta. Eh, ternyata nggak. Dia kayanya merasa sayang kalau Jokowi ke Jakarta, mungkin takut kesayangan warga Solo itu jadi kambing hitam atau lebih buruk, ikut terjerumus ke kejahatan politik dan konspirasi Jakarta.

Anyway,
Gue memang warga Bekasi. Tepatnya sudah hampir 4 tahun gue tinggal di Bekasi, KTP dan KK? Masih di Condet. Nah, pas tahun kemaren, gue ngurus surat-suratan ini dan pindah semuanya ke Bekasi. Jadiiiiii, gue adalah salah satu orang yang menyesal nggak bisa ikut nyoblos Pilkada kemaren. Padahal seumur-umur lahir dan tinggal serta 'diakui' sebagai warga Jakarta, pas giliran gue urus surat pindah Bekasi, eh pilkadanya seru!

Kenapa seruuu?
Bulan Maret lalu, gue pernah nulis tentang Jokowi for DKI 1?. Pertama mendengar tentang beliau, gue langsung googling, apalagi dengan backsound 'Pemimpin dari Surga' di berita tersebut (news maker, kalo nggak salah) menurut gue agak lebay. Apa benar, ia segitu 'lempeng'-nya? Apalagi bokap gue orang Solo, merasa aja gitu ada kedekatan emosi. Dari gugel, berita atau blog yang gue temukan, nyaris semuanya memuji dan mencintai beliau. Kenapa gue bilang nyaris? Karena saat itu Jokowi belum maju ke Pilkada, jadi nggak ada alasan bagi orang-orang tertentu untuk menjelekkan dia.
Dahsyat, gue pikir, orang ini.

Kekaguman gue sama beliau pun nggak berhenti, gue follow twitternya, dan mulai tau bahwa dia pecinta musik cadas. Ikut berada di tengah-tengah penikmat musik pas Rock in Solo 2011. Ga pake tempat khusus pulak, cuma emang dia berdirinya di depan aja. Widih, mantab! Setau gue, pecinta metal atau rock n roll nggak takut menyuarakan isi hatinya. Persis seperti Jokowi nggak takut ketika gubernur Jateng Bibit Waluyo, yang notabene  adalah seniornya di PDIP (partai yang mendukung dia di pemulihan Walikota Solo), memarahi dan bahkan bilang ia goblok karena Jokowi menolak pembangunan mal di Solo yang perizinannya sudah gol oleh pak gubernur.

Ketika beliau sudah resmi jadi cagub DKI, yang memuja banyak, bersorak kegirangan juga nggak sedikit. Yang nyinyir? Widih, jangan ditanya! Berbagai serangan baik karena orang dibelakangnya (Megawati dan Prabowo) bahkan sampai pribadinya. Bahkan banyak yang me-RT tweet Jokowi yang isinya kecintaan beliau pada Solo dengan nambahin komentar seperti "tuh, hatinya di Solo" atau komen-komen pedas yang bikin gue gemas. Padahal secara akal sehat, ya, banyak juga anak Indonesia yang berhasil di luar negeri tapi Indonesia tetap ada di hati mereka. Atau Ali Sadikin dulu pas jadi gubernur DKI tapi mudik ke Sumedang, ya nggak apa-apa juga, kan? Wong kampungnya disana. Nggak salah dong?

Mbok ya kalau mau nyerang, mikir-mikir dulu, jangan sebodoh itu.

Gue nggak pernah menyatakan atau kepikiran untuk menjadi tim sukses atau mendukung Jokowi jadi gubernur DKI. Tapi gue nggak bisa membohongi, bahwa gue bangga sama Jokowi. Siapapun yang ada di belakangnya, atau ada pemetaan politik ke depannya, nggak terlalu gue peduliin, karena yang gue kagumi adalah pribadinya. Sederhana, tegas, dekat dengan rakyat dan simpel. Misalnya, waktu syuting debat cagub di sebuah stasiun tv, untuk menghalau macet beberapa kandidat menyewa/ menggunakan jasa pengawal jalan raya (susah nulis bahasa aslinya, hahaha), sementara Jokowi memilih untuk berangkat lebih pagi. Simpel, kan? Pilihan yang bisa dilakukan oleh semua orang.
Mungkin kekaguman gue pada Jokowi, mirip dengan mas penulis di Kompasiana yang judulnya Titip Pak Jokowi di DKI.
 
Ndilalah, beberapa hari pasca pengumuman resmi dari PDIP bahwa Jokowi jadi cagub, salah satu teman kami menghubungi, minta tolong suami untuk bantu bikinin film pendek tentang salah satu cagub. Gue tanya, "cagub yang mana". "Jokowi", kata suami. Okesip!

Udah pernah lihat belum? Ini silakan:


Kalau pasangannya, Ahok, jujur memang gue ketinggalan berita beliau. Setelah tau pasangannya Jokowi, baru gue browsing tentang dia. Yang gue dapat? Mirip, plek, sama Jokowi. Nanti akan gue bahas juga ah, Koh Ahok, ini. Dan memang mereka berdua ini sangat cocok dengan jargon PDIP yang disebut sebagai 'Partainya Wong Cilik' atau Gerindra yang menggaungkan ekonomi kerakyatan. Fyi, im not a big fan (boro-boro big fan, demen aja kaga sama PDIP atau Gerindra atau tokoh siapapun didalamnya), walaupun secara jargon atau apalah itu yang diusungnya sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia kebanyakan.

Kemarin, gue (yang nggak nyoblos ini) sibuk depan tv sama suami, sibuk dan deg-degan, gonta ganti chanel apalagi ketika quick count sementara dimulai. Kami cari perbandingan, tv pertama yang kami lihat, awalnya Foke unggul, kami pindah ke tv lain, ternyata Jokowi yang unggul, terus aja begitu sampai akhirnya mendapati kenyataan di semua tv quick count sementara ini Jokowi unggul dengan perolehan suara diatas 40%.

Alhamdulillah?
Iya, karena rekam jejak Jokowi dan Ahok diakui oleh masyarakat Jakarta. Tapi di lain sisi, gue agak risau karena dengan masuk Jakarta, berarti siap digempur kanan kiri. Nggak hanya oleh para politisi atau pejabat yang bercokol di kota ini, tapi juga oleh rakyatnya, belum lagi haters-nya yang udah pasti makin nyinyir sama sosok beliau karena gacoan cagubnya kalah.

Alhamdulillah-nya baru sebatas itu. Karena selain masalah putaran kedua, ketika misalnya beliau terpilih jadi DKI , sederet masalah dan problema sudah berbaris mengantre manis untuk diselesaikan. Apalagi tipikalnya adalah, masalah harus diselesaikan oleh pemimpin. Padahal hal-hal kecil seperti buang sampah penyebab banjir, kemacetan yang disebabkan banyaknya mobil pribadi, bisa dilakukan dengan partisipasi masyarakatnya sendiri. Tapi yah, mungkin kebiasaan 'diselesaikan' masalahnya oleh orang lain atau menumpahkan masalah pada pihak lain? Entahlah. Siapapun yang jadi pemimpin, nggak akan bisa menyelesaikannya sendiri, dong. Butuh partisipasi warganya juga untuk berubah menjadi lebih baik.

Apapun yang terjadi, i know your not a saint, sir, but i think you can help this city to be a better place. Amin.




Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

6 comments:

  1. Gue komen soal Koh Ahok boleh ya Lit, jadi gue berteman baik dgn orang yang dijanjikan oleh si engkoh tambang besi di Bangka kalau beliau bisa jadi Gubernur Babel, tapi ya tentu saja ada syaratnya...berupa dukungan dana untuk kampanye. Yaaa ternyata si engkoh nggak sekece pemberitaannya sih... ya nama pun politik yeee... pasti ada balas budi dan sebagainya... hal yang sama yg dilakukan calon lain... tapi kan citranya.... ah sutralah...
    Tapi gue (yang juga cuma numpang hidup di Jakarta) sangat khawatir akan siapa yang di belakang beliau-beliau ini.... tim suksesnya termasuk Hercules, maaan...

    Gue salah satu pengagum Jokowi, beberapa kali bolak-balik ke Solo, gue ngobrol dengan org pabrik nanya2 soal perkembangan kota Solo dan salut dengan pendekatan Jokowi terhadap warga, salah satunya moderenisasi pasar.
    Tapi gue cukup kecewa ketika Jokowi ikut pilkada Jakarta terlebih ketika tahu siapa yang mendanai dan menyuruhnya; antara gemes dan curiga dia mengejar hal yang lebih besar juga takut nanti dia dijadiin kambing hitam; pan Jkt emang berat ya bok...
    Tapi (lagi) trus gue mikir, jangan-jangan dia mau dicalonin karena pake diancam sama Prabowo, jangan-jangan dia dipaksa pake piso, "hayo klo gak mau dicalonin lu gue bunuh lo" eee ya kaleeee... Kita juga gak tau kenapa dia mau mencalonkan diri ye... Jawabannya pasti lebih dari sekedar "disuruh partai" seperti yang selama ini dijadikan alasan untuk meninggalkan kotanya.
    Seandainya... seandainya... Jokowi tidak disokong oleh Prabowo (dan preman-preman di belakangnya)
    *sigh panjang deh komennya*
    *harusnya ngeblog sendiri* :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo bikin ceritanya juga :D

      Iya, Tjep, politik itu mau ga mau emang 'kotor', sih. Makanya gue ga demen politik, hehehe...

      Dan mengenai backing-nya sapa, gue merem aja deh, bukan berarti ga peduli ke depannya akan gimana, tapi maksudnya, gue emang ga yang mendukung gimana2 Jokowi jadi DKI1, tapi gue suka pribadinya dan sikapnya selama di Solo. Kalaupun nnatinya dia jadi DKI1, mudah2an aja bisa membawa kebaikan.
      Jadi, gimana kalo kita anggap mereka diancam aja sama Prab, hihihi...

      Dan mengenai dia mengejar sesuatu yang besar, berbaik sangka aja dulu, ya, mudah2an yang dikejar adalah kebaikan untuk Indonesia. Sekali lagi, walaupun caranya (ternyata) lewat didukung Prab, mari kita positive thinking dulu. Karena politik bukan 1+1=2, tapi banyak sekali kemungkinannya *serius banget bok* hihihi...

      Delete
    2. Ikutan yaaa... Ternyata bukan cuma gue yg belagak gilak curigesyen jokowi nyalon DKI1 karna diancam. Di bayangan gw pake ancem2 ala pki gitu, serem bowww... Lagian kalo di track back kayanya dia gak segitunya amat ikutan arus politik, eh tiba2 join ama prab. Yah pd ahirnya kta cma bsa bantu doa ya, mudah2an yg hatinya terang akan semakin terang

      Delete
    3. LOL, kita kebanyakan nonton film2 penuh konspirasi kali ya :D

      Delete
  2. setujuuuh mbak! :) aku udah baca bukunya, dan sangat2 respek sama dia. Kalo sebelumnya, melihat partai di belakangnya Gerindra dan PDIP, terus ada Ahok yang Chinese dan non muslim, kok kayaknya "enggak banget".Tapi setelah baca, dan browsing2, secara Ahok itu meskipun Chinese dan non muslim, dia bikin mesjid2 di Babel (tempat dia bertugas).Pas ditanya kenapa bikin mesjid, dia bilang,"Lah wong, penduduk yang kristennya cuma sedikit, dengan gereja segini juga cukup. Tapi penduduk muslimnya banyak, wajar kalo bikin mesjid". *ancungin jempol*. Kalo Jokowi, setelah baca bukunya, makin makin cinta aja deh, kereeeen banget! pintar (sll juara kelas), sederhana (sering naik sepeda ontel keliling2 solo, ga mau ganti mobil dinas karena masih bisa dipakai, istrinya masih suka belanja di pasar tradisional, dll), merakyat (sering makan di k5 bersama keluarga), nasionalisme (bangga dengan mobil buatan es em ka, bangunan2 bersejarah tetap dijaga ga bole jadi mol, lebih baik pasar2 tradisional daripada toko2 spt indomart, dll makanya ijin untuk bikin swalayan susah, bikin mol juga susah), bersih (Solo jadi kota dengan index korupsi kecil 6.4, camat2 lurah2 yang korupsi di-phk), selain itu pemikiran untuk membangun kotanya juga bagus. Solo jadi kota yang tidak banjir (mengurangi banjir), banyak hotel2, investor2 masuk, jadi kota yang dikunjungi wisatawan, dll. Hidup kotak2. Bismillah, mudah2an bisa mengatasi problema ibu kota Jakarta. Amin

    ReplyDelete
  3. Amiin, memang pribadi mereka masing-masing 'mempesona' ya. Mudah-mudahan sekali lagi, terbukti kalau menmang mereka diizinkan jadi DKI 1 dan 2 :)

    ReplyDelete