Mencari Sinyal



Langit kecil bisa dibilang bukan bayi yang anteng. Kalo mau tidur, harus sambil nempel ke gentongnya alias nenen. Otomatis, gue kudu stand by kalo dia mau tidur. Pas gue kerja? Otomatis PR besar buat nyokap (waktu kami masih numpang di rumah beliau) atau pengasuhnya. 

waktu baby mau digendong sama salah satu sahabat gue aja mukanya udah jeba jebi kemudian byar... mewek! :))
Sampai usia di bawah 8 bulan, Langit mau nyusu ASIP dari botol. Alhamdulillah nggak bingung puting. Jadi proses tidur lumayan terkendali.

Di atas usia tersebut, Langit menolak minum ASIP dari botol, jadi deh pengasuhnya harus putar otak kalo Langit rewel karena ngantuk. Digendong sambil digoyang-goyangin (bahasanya 'dieyong') itu nggak mempan. Alhasil, si pengasuhnya ajak jalan iseng-iseng bolak balik dari ujung ke ujung gang dan bisa tidur. Atau diajak keliling naik ojek. Sampai sekarang, Langit tenar di kalangan tukang ojek. LOL. Apa kalau udah tidur bisa ditaro di tempat tidur? Oh, tentu tidak. Once in a blue moon aja, rasanya. Jadi, ya, kalo udah tidur, tetap dalam posisi digendong. Kalo dipikir-pikir, alangkah nyusahinnya anak gue ini zaman bayi.

Awal-awal kelahirannya, ortu dan tetua-tetua menganggap Langit rewel karena lapar. Standar lah, apalagi anak gue ng-ASI. Sampe-sampe bokap gue bilang, "kalo nggak mau nyusuin anaknya, papa beliin susu aja!". Darr! Ngamuk dong, gue.

Karena berdasarkan berbagai sumber, bayi rewel bukan hanya karena lapar. Bisa jadi ngantuk, nggak nyaman, kedinginan/ kepanasan, ada yang dirasa sakit atau simple, kembung perutnya.

Semakin Langit besar, kerewelannya berkurang. Apalagi kan dia sudah bisa berkomunikasi, ya. Walaupun kadang sinyal yang diberikan salah, hehe. Namapun bocah, maksudnya ngantuk tapi dia repot minta makan dengan menu mengada-ada. Atau GTM alias Gerakan Tutup Mulut yang #cetar_membahana di kalangan ibu-ibu padahal karena gigi mau tumbuh atau perutnya nggak enak. Sebenarnya di sini kita sebagai orangtua bisa sambil ngajari anak supaya dia kenal sama sinyal tubuhnya.
Kalau waktu bayi lebih berhati-hati, karena ia masih ASI eksklusif, pas udah masuk usia toddler, lumayan bisa dicoba pake obat-obatan. Tapi alhamdulillah, karena nggak ngefans sama obat dan dokter, maka gue biasanya home treatment aja. Bukannya sotoy, ya. Tapi emang nggak ngefans aja #sikap

Langit usia sekarang juga sudah bisa banget komunikasi. Kalaupun nggak dikomunikasikan, gue makin bisa membaca sinyal yang dikirimkan, misalnya:

  • matanya udah ngantuk, kekeuh nggak mau tidur. Dia bakal mulai ketawain berbagai hal nggak jelas. Kaya orang lagi fly, haha. Seriusan! Segala macam dia ketawain. Kalo udah gini, bisa-bisanya gue deh giring dia ke kamar mandi untuk ganti baju, sikat gigi dan bebersih, kemudian bacain 1 buku cerita, dijamin langsung merem.
  • nggak mau makan nasi tapi ngemil melulu. Nah, ini biasanya dia bosen. Entah bosen suasana makan di rumah terus (maklum ibunya kerja, jadi pergi cuma bisa akhir pekan) atau perutnya nggak enak. Kalau udah begini, solusinya cuma dibiarkan dia mau makan apa aja/ nggak makan sekalian (toh biasanya besok pagi-pagi dia bangun minta makan karena lapar. Sekalian mengajari konsekuensi nggak makan itu laper), ajak makan di luar atau beliin makanan yang dia minta. Kalau perutnya kembung biasanya dia suka tepuk-tepuk perutnya, "perutku nggak enak", ini paling gampang. Olesin Vicks Vaporub, kelar. Entah karena sugesti atau apa, biasanya langsung anteng. Mungkin efek kandungan menthol dan eucalyptus Vicks Vaporub bikin badannya hangat dan nyaman, ya.
  • di tempat baru tiba-tiba rewel. Ini agak jarang, sih. Langit jarang rewel, palingan dia hanya akan "maunya sama ibu" aja. Nah, kalo begini, biasanya akan gue biarkan Langit sama gue beberapa saat. Sambil gue kenalin ke tempat/ orang-orang yang ada di lokasi tersebut. Kalo dia mau gabung sama yang lain, syukur. Enggak juga nggak apa-apa. Gue sih nggak mau sibuk cari alasan ke orang lain kenapa anak gue nggak mau main, misalnya. Karena, ya, kadang kita yang dewasa kalo lagi nggak mood sama orang baru, juga nggak mau gabung, kan?

Apa lagi, ya?
Intinya, sih, bagi gue, kalo anak rewel kita harus bisa baca sinyal yang dikirimin si anak. Dulu Bu Elly Risman sempat ngajari juga bagaimana baca sinyal yang dikirim anak. Kita bisa lihat dari ekspresi muka (alis, dahi, mulut), tubuh (tangan mencengkram, kaki menegang, dsb), nada tangisan, dan lain sebagainya.

Jadi, daripada kesal atau malah ikut marah karena nggak ngerti sinyal yang dikirim anak, mendingan kita mengenali anak dulu, deh.

Ih, sotoy, ya, gue. Masa suruh kenalin anak? Ya pasti pada kenal, kan?

Maksud gue, kenali anak lebih dalam. Gimana sih ekspresinya kalau marah, sakit, dsb? Gimana gerak tubuhnya saat dia lagi mikir atau ketakutan? Dsb. Karena setiap orang kan beda-beda. Yang satu mungkin akan megang-megang bibir saat berpikir serius, sementara yang lain akan menggabungkan kedua tangannya kalau lagi cemas.

Nah, udah tau belum sinyal anaknya masing-masing?

*tulisan ini dipersembahkan atas kerjasama penulis dengan Vicks Indonesia

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

5 comments:

  1. Langit maunya digendong pas kecil? Chica juga Lita, biarpun cuma siang aja. Tapi karena yang ngasuh siang Yang Ti nya, malem Ibuku suka ngeluh kaki beliau serasa kaya batu gara2 gendong sambil jalan2 demi anakku bisa tidur :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, kalo siang dan ga ada gue. Kalo ada gue, aman karena nempel ke gentong :D
      Haduh, kasihan ibu2 kita, ya, huhuhu.. Tos ah, Chica sama Langit :D

      Delete
  2. Makasih Mba Lita. Sekarang saya juga kalo pas Aaqil gak mau makan yasudah coba aja ditawarin makanan lain dan kalau tetep ga mau saya biarkan ajah. Makasih lagi Mba ilmunya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaaa seneng banget kalo bermanfaat mas. salam tiga jari metal buat aaqil dari langit \m/

      Delete
  3. hai nenglita,
    sorry for late reply your comment on my post "girl in black" (www.andiniseptela.blogspot.com)
    you can find (socks) on Itc (something like that), if u live in Jakarta. it super easy to find :)
    about the price? very cheap! around 7.000-15.000 rupiah.
    hth ya :)
    thank you

    ReplyDelete