Cipika Cipiki

Cipika cipiki artinya adalah cium pipi kanan-kiri, di mana saat 2 orang berjabat tangan diakhiri dengan saling menempelkan pipi kanan dan kirinya.

Cipika cipiki ini dikenal dengan social air kiss, karena biasanya dilakukan atas nama pergaulan atau untuk mereka yang hubungannya lebih personal. Tapi belakangan sih udah jadi tradisi, ya.


Siapa yang sering melakukan ini?


Gue mengenal cipika cipiki pas zaman SMA. Sekitar kelas 2 atau 3 kalo ga salah, pas udah merasa anak gede, mulai deh melakukan ini dengan teman-teman perempuan. Kalo sekarang mah, sama teman yang sering yang ketemu nggak pernah melakukan aktivitas ini, dulu pas SMA mungkin lagi norak-noraknya, ya. Datang pagi, cipika cipiki. Mau pulang, cipika cipiki. Bahkan berpisah di kantin karena mau masuk kelas duluan juga cipikia cipiki. Lebay? Ho oh.

Seiring pertambahan usia, dan alasan pekerjaan gue di dunia hiburan slash media, cipika cipiki jadi meningkat. Nggak hanya dengan sesama jenis, tapi juga dengan lawan jenis. Bahkan anak-anak ICAS juga kena imbasnya. Kami yang biasanya nggak melakukan kontak fisik seperti itu, jadi memberlakukan cipika cipiki. Kasian juga mereka, untung sesama mereka yang notabene laki semua nggak menjalankan itu.

Ya, atas nama pergaulan dan kebiasaan, gue menganggap cipika cipiki biasa aja. Hal itu terus berlangsung sampai suatu saat Igun menyatakan pandangannya akan hal tersebut. Pas lagi pacaran sih, gue anggapnya itu hanya bentuk cemburu. Mungkin di dunia dia yang anak gunung ga kenal social air kiss ini, kan.

Tapi memang, makin dewasa kami (gue dan anak-anak ICAS), justru udah jarang banget cipika cipiki. Mungkin emang bukan kebiasaan kami aja kali ya. Ya secara membernya laki semua. Jadi mereka melakukan itu ya cuma sama gue aja kalo lagi ngumpul. Well, aneh juga sih kalo sesama laki saling cipika cipiki. Jadi kalo dadah-dadahan seringnya tos aja. Laki banget kan, gue? Haha.
Eh, walaupun di beberapa budaya, sesama laki juga banyak yang saling cipika cipiki. Jokowi sama Prabowo aja cipika cipiki. 


Tapi hati-hati disangkain gendam :p

Terus di Arab juga, sesama laki pada cipika cipiki. Kalo kata temen gue yang keturunan Arab, trik supaya nggak beradunya nggak salah pas cipika cipiki adalah, dimulai dengan menyorongkan pipi kanan dulu. Kalo sesama cewe sih, salah beradu masih lucu. Kalo sama lawan jenis, masih malu-malu kucing doang. Lah kalo sesama laki? #darrAkhirnya, kebiasaan cipika cipiki di antara anak ICAS pun hilang. Paling yang nyisa di gue adalah sama beberapa sahabat cowo (yang doyan cowo juga #eh).

Tapi kemudian begitu punya anak, dan Langit makin besar, gue mulai mikir. Kan anak gue mencontoh apa yang gue lakukan. Sempat Langit doyan ngajak salaman sambil cipika cipiki sama orang yang ditemui.

Waduh!

Lalu bagaimana gue mengajari Langit untuk berhati-hati sama lawan jenis kalau dia liat gue melakukan cipika cipiki bahkan sama sahabat-sahabat gue yang laki-laki.

Apa kabar dong sex education yang gue gembar gemborkan penting untuk anak, kalo anak gue bisa sembarangan cipika cipiki sama orang?



Ah, anak kecil kan lucu. Siapa sih yang napsu?


Heloh, sering-sering nonton CSI, Criminal Minds atau Law and Order gih.
Better safe than sorry.

Dia kan belum paham banget mana yang murni persahabatan, mana yang bukan. Intinya lumayan PR lah, ya, jelasin kenapa sama om ini boleh itu nggak dan seterusnya. 

Kaya semalam kami cium bibir, terus gue bilang, cium bibir itu bolehnya sebentar. Dia nanya, kenapa di TV itu boleh lama? (Ya, sekali dua kali suka kecolongan lagi nonton CSI terus Langit ikutan nonton. Ketika ada adegan itu, gue nggak suruh dia tutup mata atau apa, karena justru dari situ bisa gue masukin nilai-nilai pendidikan seks). Menjawab pertanyaannya, gue bilang bahwa cium bibir bolehnya kalau udah nikah, kalau udah jadi pemanten (bukan salah ketik, tapi Langit emang nyebut pengantin itu pemanten:p ).

Tanpa mikir, guepun kemudian menghilangkan kebiasaan ini. Nggak usah ngomongin landasan agama deh, gue udah tau kalo ini salah. (maksudnya cipika cipiki sama lawan jenis ya), paling gue lakukan sama saudara aja, ini juga dalam special occasion semisal lebaran gitu.


Biarin amat orang mikir gue nggak moderen atau nggak asik karena nggak cipika cipiki. Toh kadar keasikan gue bukan diukur dari situ. Tsah. Moderen atau nggak bukan dari situ juga.

Akhirnya, cipika cipiki dengan lawan jenispun hilang dari orbit gue.

Apa kabar dengan pergaulan gue? Sahabat-sahabat laki yang udah nikah dan punya anak sih biasanya standar aja. Mungkin mereka juga mikir apa yang ada di pikiran anaknya liat bapaknya cipika cipiki sama perempuan yang bukan emaknya, ya? Hehe.

So, babay cipika cipiki!

Eh, tapi menurut kalian gimana mengenai cipika cipiki dengan lawan jenis? Sah apa nggak sih?

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

10 comments:

  1. uhmmmm....aku sih melakukan itu ke lawan jenis yg udah deket secara personal. suami hrs kenal deket, dan tau kalo aku sama si orang-orang itu emang deket. kebanyakan sahabat di kuliah, eks bos yang emang udh kenal bingits, ato temen/ senior yang kita sama-sama tau dia suka laki. di luar agama, menurutku sih wajar aja (emang dasar akunya nakal hahaha). kecuali no reason, gak deket ngajak cipika cipiki. hihihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, iya.. aku awalnya juga gitu Prita. Sekarang sih masih babay, apalagi kalo di depan Langit ya. Masih berusaha juga sebenernya :D

      Delete
  2. Pas awal dateng Jakarta dan bergaul dengan manteman di sini sayah laget banget diajakin cipikacipiki sama manteman cewek. Untungnya gang cowok gak ada yang ngajakin. Bisa salah gaul saya. Hahahaha. Sampe sekarang masoh gak nyaman diajakin cipikacipiki. Temen sih udah paham dan gak maksa. Hihihi.

    ReplyDelete
  3. Mungkin karena gue di Bogor (yang walaupun dekat secara lokasi dengan jakarta tapi adatnya bisa jadi berbeza), jadiiii.. disini (atau pergaulan gue aja, kali, yaaa) cipika-cipiki antar mantemen lawan jenis itu, errrr, bukan hal yang biasa (bisa jadi tontonan orang!).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi.. Iya gitu? Lebih enak dong, ya. Amannnn... Hehehehe

      Delete
  4. paling sesawa perempuan aja kalau aku mbak

    ReplyDelete
  5. Aku dulu ga pernah Lit (mungkin karena tinggal di Malang). Kalo sekarang, cuma sama suami, adek ipar satu2nya (cowo juga) dan alm. bapak mertua. Dulu aku agak kaget pas ngeliat antar mereka bertiga (meski cowo) kok cipika cipiki (mereka bertiga selalu cipika cipiki tiap ketemu, tapi terbatas sama keluarga aja)? Tapi makin ke sini malah berasa deket, mungkin karena aku ga pernah liat yang kaya gini di keluargaku sendiri.

    Yang bikin kaget pas para bos dateng (mereka org Perancis) dan cipika cipiki ke bos yang di sini (sesama cowo) dan tiba2 cipika cipiki sama kita sekantor pas salaman. Ternayata di negara mereka budaya nya memang begitu. Untungnya cuma sekali itu, ga tau mereka belajar tentang budaya di sini atau gimana, sekarang kalo dateng ga pernah cipika cipiki lagi sama kami yang cewe (eh cowo juga, kecuali sesama orang sana hehe).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya, kalo ketemu sama yg budaya aslinya begitu suka nggak enak. Mau ga mau jd ngikut deh.

      Delete