Main Monopoli, Bukan Cuma Buat Beli Brastagi


Gue dan keuangan itu nggak banget deh.

Kayanya hal ini udah kebentuk sejak sekolah dulu. Inget kan waktu gue cerita ‘permusuhan’ gue sama guru akuntansi pas zaman SMA? Bibit-bibit ketidaksukaan gue sama hal yang berkaitan sama hitung-hitungan duit kayanya udah ada sejak dulu. Bukan karena gurunya, tapi emang kayanya gue dan penghitungan keuangan itu ciong banget :p

Ketika udah melek finansial pun, gue paham sih konsepnya. Misalnya pencatatan keuangan itu penting, memisahkan uang dalam pos-pos tertentu itu penting, dan seterusnya. Tapi entah kenapa ketika menjalankan, buyar semua.

Mirip kaya temen gue yang nggak bisa nyetir, walaupun dia paham konsep nyetir mobil itu gimana :D

Beberapa waktu lalu, gue ikut financial workshop yang diadain oleh Cigna.


Workshop kali ini menurut gue beda banget sama workshop-workshop financial lain. Eh nggak tau juga ya, ada yang serupa apa nggak. Tapi dari  yang pernah gue ikutin sih, ini beda banget. Karena apa?


Karena pembicaranya cuma ngomong sebentar, sisanya kita main monopoli!

Iya, main monopoli kaya zaman kita kecil dulu.

Di workshop ini sebenernya mau ngajarin bahwa asuransi itu penting, investasi juga penting dan mau lihat sejauh mana kita bisa mengelola aset-aset yang kita miliki. Apa selama ini keuangan kita hanya nunggu gajian aja? Atau kita mampu ambil risiko untuk invest sesuatu yang pada akhirnya bisa jadi passive income?

Sekelas kemarin dibagi jadi 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 7 orang. Terus kita-kita ini milih profesi yang udah ada. Profesinya masih yang umum sih, dokter, polisi, guru, dan seterusnya. Gue jadi dokter dong! Pendapatannya lumayan besar dibanding yang lain.

Sistemnya bak monopoli beneran, jadi lempar dadu terus jalan sesuai angka yang keluar. Di papan monopoli ada tanda-tanda misalnya “Wow”, “Berita”, “Oops”, gajian, dan seterusnya. Kalau kita lewatin kotak gajian, kita dapat duit dari bank.

Nah, supaya lebih tercatat, masing-masing peserta dapat selembar kertas yang isinya pencatatan keuangan, kolom hutang, cicilan, dan lain-lain. Pokoknya seperti hidup seharusnya, lah!

Yang seru lagi, di tiap tanda Wow, Berita, dan lain-lain itu, kita harus ambil kartu. Nah, langkah kita selanjutnya itu ditentukan oleh isi kartu. Misalnya ada penawaran beli saham, beli ruko dengan harga jual sekian dan harga sewa sekian, pembelian asuransi, ada juga pengeluaran-pengeluaran seperti benerin rumah bocor, uang sekolah anak, kondangan, dan lain-lain.

Ndilalah nih, gue memang nggak pernah dapat kartu yang pengeluaran, tapi juga jarang dapat penawaran beli saham atau aset yang harganya oke. Alhasil di akhir permainan, harta gue ya segitu-gitu aja. Walaupun udah sanggup ngelunasin hutang kartu kredit, tapi kenaikan harta gue nggak signifikan. Beda banget sama suaminya Niya (AE kantor yang kepaksa ikut untuk lengkapin jumlah peserta). Selain beruntung dapat penawaran-penawaran yang harganya ok, dia juga berani ambil risiko misalnya pinjam bank demi meningkatkan aset.

Hal yang gue pelajari seputar keuangan dari permainan ini adalah:
  • Kesempatan nggak datang dua kali.
Memang, kadang kesempatan yang ke-2 lebih oke, tapi kalau kesempatan pertama masih masuk akal kenapa nggak? Ini tuh model kaya kepengin beli sepatu yang diskon 50%, kadang suka mikir “Ah ntar aja pas 70% diskonnya”. Eh nggak taunya pas udah further reduction, sepatu yang dipengenin udah nggak ada atau masih ada tapi size-nya habis.

*pengalaman pribadi amat kayanya*

Ok itu contoh yang kurang sesuai kayanya ya.

Contoh tepatnya gini, pas lagi harga saham turun kadang kita suka nunggu sampe lebih turun lagi. Dibesok-besokin buat belinya. Eh alih-alih turun, harganya malah naik. Nyesel deh!
  • High risk, high return
Mencontoh dari Errol suaminya Niya nih pas di monopoli kemarin. Dia berani ambil risiko untuk beli ruko, padahal uangnya belum cukup. Tapi dengan perhitungan yang matang, dia pinjam uang bank sebagai tambahan. Uang sewa yang dia dapat per bulan buat bayar cicilan ke bank.

Kelihatannya memang dia nggak dapat uang tambahan tiap bulan. Tapi kan asetnya nambah.
  • Perhitungan yang matang diperlukan
Ini gue meleset banget. Dalam monopoli aja meleset, apalagi kehidupan nyata *curcol*. Kemarin itu di akhir permainan, uang cash gue banyak, tapi aset nggak naik. Padahal harusnya gue bisa ngitung dengan matang dengan uang yang ada bisa diinvest ke mana aja dan hasilnya apa.
Biar kata mainan, tapi ngitungnya kudu serius bok!
  • Keuangan kalo cuma nunggu gajian itu nggak baik
Ah ini mah, jleb! Di kehidupan nyata begini, ya rupanya tercermin juga ke monopoli. Tiap kali gajian girangnya bukan main. Duit banyak! Tapi nggak mikir gimana caranya biar duit yang ada bisa muter dan jadi passive income supaya ke depannya tiap bulan nggak Cuma nunggu gajian.
  • Asuransi penting...
Sebagai proteksi. Kemarin itu ada seorang peserta yang renovasi rumah, biayanya cukup besar. Padahal kalau dia beli asuransi, biaya renovasi itu di-handle sama asuransi.

Ini bikin gue mikir panjang sih mengenai asuransi dan buru-buru minta bikinin skema asuransi jiwa sama sepupu yang kebetulan agen asuransi.

Asuransi kesehatan juga nggak kalah penting. Sehat itu mahal bok. Makanya, mumpung masih ngerasa sehat, buru-buru deh bikin asuransi dan jaga kesehatannya.

Nggak susah kan, kalo nggak makan gorengan? Nggak susah kan 15 menit sehari olahraga? Bukan semata-mata buat kurus, tapi buat sehat. Siapa lagi yang sayang sama badan kita kalau bukan kita sendiri?

Last but not least..
  • Jangan cuma punya cita-cita beli Brastagi, kota paling mahal di monopoli
Maksudnya, cita-cita harus setinggi-tingginya, tapi realistis. Mau cita-cita naik haji pas usia 40? Insyaallah bisa kekumpul kan uangnya asal ada planning yang jelas untuk mencapai tujuan itu. Masalah uang kelar, tinggal masalah jadwal tunggu deh karena bentrok sama kuota haji :(

Duh, mudah-mudahan setelah belahar di acara Cigna kemarin keuangan gue membaik ya.

*ya kali bisa membaik sendiri, elo usaha dulu lah untuk memperbaikinya, Lit!*

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

14 comments:

  1. bermanfaat banget ya mbak lita acaranya kemarin, makasih udh diikutsertain... :)
    aku langsung ketampar krn selasanya birru dirawat, trs BPJS gak berlaku padahal udah di RS rujukan..hiks..

    duh kuota haji.. *speechless inget ibuku*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hah, kenapa Birru ga bisa?

      Iya nih kuota haji apalagi kalo nggk oONH plus, BHAY banget T_T

      Delete
    2. kamarnya full-booked mbak, pdhl kelas 1. kalah ama yang 'emang sengaja pengen dirawat' karena gratis...udh nelpon ke rujukan lainnya tetep full. jd heran, itu hotel apa RS. jadinya bayar pribadi, baru dapet kamar. hiks.

      Delete
    3. Haaaah, pas pake dana pribadi baru bisa? Kok gitu siiih.. Semoga Birru sehat selalu yaa...

      Delete
  2. permainan favorit gw banget nih Lit, si Monopoly.
    Tapi emang di kehidupan nyata kadang maju mundur takut salah perhitungan.
    Gw masih nyisa PR asuransi jiwa yang mumpuni nih, kalo kesehatan alhamdulillah udah tercover dengan baik. Haji? Emmmm *kemudian disambit mamah dedeh*

    ReplyDelete
  3. Aaaaak. Jadi pengen banget ikutan maennya Mba Lita. Padahal dulu jaman sekolah juga ga seneng banget sama yang namanya ekonomi sekarang mah demeen baca beritanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah jd ortu ya, mau ga mau kudu melek ekonomi krn berkaitan sama keuangan. Hihi..

      Eh tapi mainannya beneran seru lho!

      Delete
  4. Ngatur duit nya mah gampang mba... yang susah itu ngatur hasrat belanja... hiks hiks hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Omaygat, hasrat itu susah banget emang. Ada workshopnya ga sih? Kalo ada juga pasti kita jago teori doang ya, praktiknya minus. Hahaha..

      Delete
  5. Aaaahh, gw beneran susah nih, ikutan investayong yg high risk *tadahin tangan mintak (naik) gaji* hahahahaha

    ReplyDelete
  6. Aku dong, kerjaannya bikin laporan keuangan tapi keuangan sendiri kacauuu *toyor diri sendiri*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, apa lebih enak ngerjain keuangan orang lain? :))

      Delete