Di Balik Ruang Kelas

Kemarin sore akhirnya gue nonton video anak SD di Sumatra Barat yang rame-rame mukulin seorang temannya anak perempuan.
Hasilnya? Cuma tahan 10 detik!

Tau istilah dada bergemuruh ga? Nah itu yang gue rasain. Bukan cuma emosi, marah, kesal, sedih yang campur aduk jadi satu, tapi juga khawatir, kecewa.. bakal seperti apa mereka saat besar nanti? Ke mana orang dewasa di sekolah itu saat tindak bully ini terjadi? Duh :(

Anak gue sekarang ini SD, makanya mungkin gue merasa lebih terlibat emosinya lihat berita ini. Beda waktu dulu pas ada beberapa berita serupa.

Yang gue heran dengan kejadian ini, terjadinya di dalam ruang kelas lho. "Ah di daerah sih, gurunya nggak kaya di Jakarta". Ehm, inget kasus alm. Renggo, murid SD di Jakarta Timur? Dia 'disiksa' di dalam kelas yang ironisnya berada persis di sebelah ruang guru.

Flash back, gue jadi berusaha mengingat apa yang dilakukan gue waktu dulu masih sekolah saat di dalam ruang kelas tertutup tanpa pengawasan orang dewasa.
Ngobrol, pindah duduk, bergerombol di salah satu sudut, becanda, dst dsb. Nggak, gue ga bilang zaman udah berubah dan sekarang anak-anak makin parah. Cuma, anak-anak lebih merasa bebas saat dalam kelas tanpa ada pengawasan orang dewasa. Ya nggak? Dulu sih, ada teman gue yang suka bawa majalah porno terus dilihat rame-rame kalo guru ga ada..

Sebagai orangtua, secermat-cermatnya kita milih sekolah tapi saat anak di dalam kelas, kita nggak bisa mengawasinya kan? Emang lo mau sepanjang hidup ngintip anak di dalam kelas dari balik jendela? 

Kelasnya yang ada tas-tas bergantungan
Sekolah Langit, konsep ruang kelasnya terbuka. Dindingnya hanya setengah, tak berpintu. Waktu pertemuan orangtua pertama kali, Ibu Delfi menjelaskan kenapa konsepnya seperti ini, "Untuk menghindari ancaman yang sering terjadi di dalam ruang kelas".

Di balik ruang kelas, ada banyak hal yang nggak bisa kita pantau. Di dalam ruang kelas itulah anak pertama kali mengenal dunia yang sesungguhnya dalam skala kecil. Ruang kelas bisa dibilang ruang simulasi anak dalam menghadapi dunia di mana mereka bisa belajar menyelesaikan masalah.
Di dalam ruang kelas ada si tukang bully, si baik hati, si pengadu, si pantang menyerah, si pekerja keras, si populer dan seterusnya.

Anak kita mau jadi yang mana?



Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

4 comments:

  1. Haduuuh serem banget ya mbak. Mau dibawa kemana masa depan bangsa ini klo sekelas sd aja udh kayak gitu. *sok bijak*
    Etapi bener looh. Aku juga suka gak nahan klo lihat kekerasan2 macam gt. Rasanya itu yaa ikutan sakit juga ni badan.. --"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangeeettt.. PR besar di dunia pendidikan dan parenting :(

      Delete
  2. ya ampuuun.. sedih banget memang ada kejadian-kejadian seperti ini. Hiks, semoga semakin banyak orang tua dan guru yang lebih peduli sama anak-anaknya ya Mba Lita...

    ReplyDelete