Perbedaan

Namanya hidup pasti ada perbedaan. Nggak usah sama kenalan, sama saudara sekandung yang notabene berasal dari rahim dan 'bibit' yang sama aja bisa beda pendapat kok. Apakah perbedaan selalu jelek?

Sebagai orang Indonesia, dari kecil gue udah biasa hidup dengan perbedaan. Beda agama, beda suku, bahkan agamanya sama tapi alirannya beda juga ada. Ya nggak?

Apakah yang kita ikuti selalu lebih baik daripada yang lain? Tentu tidak, ya. Semua pasti sama baiknya, menurut gue. Nggak ada yang lebih baik nggak ada yang lebih buruk.

Ini hanya masalah pilihan.

Di antara begitu banyak perbedaan, ada satu hal yang dalam pandangan gue harus sama, yaitu hak azasi.

Hak ini merupakan hak yang paling mendasar dari seorang manusia. Hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan hak untuk bersuara (mohon maaf kalau ada yang salah tapi ini yang menurut gue mendasar).

Yang terakhir ini, menurut gue kadang suka susah dimengerti orang lain. Ada norma sosial yang harus ditaati.

Nggak enak mendebat orang lain..
Nggak enak menyuarakan isi hati atau perasaan..
Nggak enak mau bilang bahwa hal yang sedang berjalan nggak sesuai..
Nggak enak, pokoknya nggak enak!

Wajar sih.
Tapi jangan sampai hal ini mengikat kita dalam keseragaman. Ibu-ibu ngurusinnya keluarga aja ga usah ngurus negara.

Lah, kita akan membesarkan anak yang diharapkan jadi future leader kan? Kalau kita masa bodoh sama urusan negara, mau besarin anaknya gimana? Selamanya dalam comfort zone dalam rumah? Dia kan harus berkembang, mengenal lingkungan, dunia luar dan negaranya. Siapa yang harus mengenalkan itu semua kalau bukan kita, orangtuanya?

Lalu, bagaimana kita mau mengenalkan kalau kita nggak belajar? Kalau kita nggak terlibat dalam urusan bernegara?

Siapa yang paham bagaimana RS harusnya bersikap pada konsumennya kalau bukan kita, target marketnya?
Siapa yang paham bagaimana pendidikan anak kalau bukan kita, orangtua yang notabene adalah sekolah pertama bagi anak kita?

Adanya perbedaan pendapat kerap membuat kita bilang maaf. Adanya perbedaan membuat kita sering bilang sorry.

Padahal, beda kan nggak salah?

Gue jadi inget video campaign-nya Pantene yang #shinestrong ini:

Di mana perempuan keseringan bilang maaf, bahkan dalam situasi yang seharusnya dia nggak harus bilang maaf.

Ya, maaf, terimakasih dan tolong adalah 3 kata ajaib yang harus kita kuasai dan ajari ke anak. Tapi yang sering kita lupa adalah bagaimana dan dalam situasi apa 3 kalimat tersebut harus diucapkan. 

Gue pribadi sadar akan hal itu..

Menurut gue, kalo kita menguasai hal di atas, rasanya kita bakal bisa  jadi pribadi yang lebih kuat dan tentunya jadi contoh bagi anak untuk menjadi manusia dengan pribadi yang kuat.

Sekali lagi, nggak usah takut untuk berbeda dan menyuarakan pendapat. Kalau kita aja nggak berani menyuarakan pendapat, siapa yang akan memperjuangkan hal itu?

Dan jangan lupa untuk berbesar hati menerima perbedaan :)

*tulisan ini dibuat karena adanya 'protes' saat Mommies Daily nulis tentang Pilpres*
sent from @nenglita 's phone

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

No comments:

Post a Comment