Being Promoted

Di setiap bidang kerja pasti ada yang namanya promosi, alias kenaikan jabatan. Promosi pertama gue kalo ga salah tahun 2002-an dari reporter jadi Produser Pelaksana.

Untuk dipromosikan, biasanya ada beberapa penilaian. Tapi yang udah pasti, biasanya adalah kapabilitas atau kemampuan. Pas dipromosi pertama kali, berhubung kantor kecil, jangan bayangin yang serius-serius lah ya. Kebetulan emang salah satu yang pertama di kantor tersebut, jadi ditunjuk. Masalah krmampuan, wallahualam. Yang pasti abis dari Produser Pelaksana, naik jadi Produser dan kemudian head division.

Kemudian pindah kantor ke yang jauuuuh lebih besar. Gue ingin mulai dari awal, jadi tim kreatif. Setahun berjalan, kantor buka channel baru. Eh, gue ketularan dipromosikan juga jadi Produser. Alhamdu..lillah..

Namanya promosi jabatan, menurut gue ga bisa dipaksakan. Kadang dia datang aja sendiri, justru di saat kita menikmati pekerjaan tersebut.



Kenapa begitu?
Teori gue nih, saat kita menikmati sebuah pekerjaan maka biasanya kita melakukan kerjaan dengan sepenuh hati, menjadikan pekerjaan tersebut sebagai bagian hidup. Kalau udah gini, hasilnya lebih maksimal.
Walaupun ga memungkiri, ya, ada juga yang udah menikmati kerjaan tapi malah jadi rutinitas. Ga ada passion-nya lagi. Hasilnya? Ya gitu-gitu aja. Tetap sesuai sih sama demand, cuma karena udah ilang passion, jadi ya biasa aja.

Bagaimana cara supaya dipromosikan?
Gue sih ga bisa kasih kiat,wong bukan career coach 😁. Paling menurut gue, do your best. Standar kan? Iya,abis emang itu aja. Yah, standar lainnya, nikmati dan syukuri apa yang dilakukan.

Banyak kerjaan? Bersyukur masih punya kerjaan. Banyak orang yang ingin ada di posisi lo saat ini.
Gaji kecil? Manusia ga pernah puas. Akil Muhtar gajinya 150juta per bulan, masih korupsi, noh.
Rekan kerja menyebalkan? Tanya balik ke diri sendiri, apa kita rekan kerja yang menyenangkan?
Ga cocok sama bos? Hello, ini kerja bukan pernikahan.

Satu nasihat yang gue inget perkara kerja: Jangan berhenti dari kerjaan karena dorongan dari dalam, tapi berhentilah saat ada tarikan dari luar 😊 . Nasihat ini diberikan oleh Pak Bos Riza Primadi.

Anyway kalau mau dikaitkan sama Pilpres (yak teteub), Jokowi adalah contoh karyawan yang dipromosikan bertubi-tubi. Dari walikota, gubernur, sekarang jadi presiden.

Membaca kisah-kisah promosi kerja, berarti doi kinerjanya baik kan? Kalo nggak, ya masa Megawati mau ngalah trah Soekarno nggak dicalonin apa-apa dari PDIP. Bahkan Cawapres aja nggak lho!



Nah, kalo orang pada ngomongin janji Jokowi menyelesaikan tugas jadi gubernur, gimana ya, namanya juga dipromosiin? Itu kan sama aja lo dipromosiin jadi Kepala Divisi dari posisi lo sekarang, misalnya staf admin terus lo nolak karena "Wah nggak bisa pak, saya kan kontraknya jadi staf admin. Saya nggak amanah nanti kalo jadi Kepala Divisi". Gitu maksudnya?

Ah karena gencarnya pilpres, apa-apa jadi dikaitkan sama pilpres dah. Haha.

#salam2jari ✌

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

2 comments: