Banjir, Macet, dan Persoalan

Kemarin banjir besar datang lagi. Tahun lalu, pas bulan Januari juga persis 3 bulan setelah pasangan Jokowi-Ahok dilantik jadi Gubernur dan Wagub DKI.

Setelah setahun lebih masa kepemimpinannya, kok masih banjir? Kok masih macet?

Bukan karena gue ngefans atau,#timJokowi. Tapi masalah ini memang harus diatasi bersama-sama.

Banjir, misalnya.
Waduk udah dikeruk, sungai dinormalisasi, tapi warga masih buang sampah sembarangan atau masih banyak lho keluarga yang buang sampah ke sungai. Cek aja masyarakat yang tinggal di sepanjang Ciliwung itu. Gue pernah cerita di salah satu blogpost di sini (maap ga insert link, gue aja lupa nulisnya kapan 😁) bahwa alih-alih buang sampah ke lokasi pembuangan, mereka lebih suka yang simpel, lempar ke sungai. Padahal, kalo kebanjiran yang disalahkan siapa?




Jakarta, memang posisinya bak cekungan. Dia dikelilingi wilayah yang lebih tinggi. Dilintasi sungai besar pulak. Nah sedianya, sungai ini membawa air dari dataran yang lebih tinggi ke laut dengan melintasi Jakarta. Tapi di perjalanannya si air, banyak rintangan. Sampah, wilayah sungai yang jadi sempit akibat sedimentasi, pemukiman, dan lain sebagainya.

Salah siapa?
Bisa jadi pemerintah, nih, karena melakukan pembiaran terhadap hal ini. Sungai kalo dari awal dijaga, rajin-rajin dibersihin, dkk, harusnya masih bisa melakukan tugasnya dengan baik. Tapi kan nggak. Bertahun-tahun ya berulang aja. Bangun rumah, buang sampah, kebanjiran. Teruuuus aja begitu.

Belum lagi masalah ruang terbuka hijau yang makin minim. Nggak ngomongin Jakarta aja nih. Bekasi juga banget. Mal di mana-mana, ada tanah kosong dikit, dibangun lah apartemen, ruko, mal, hotel. Luar biasa. Jalanan Kalimalang yang notabene sebelahnya sungai aja bisa banjir lho.

Eh, apa salah pemerintah seutuhnya?
Entahlah. Daripada nyalahin pemerintah, mending kita lakukan sesuatu.

Lalu macet.
Gosh, gue udah kebanyakan ngecap kayanya soal ini. Dan mungkin beberapa orang bakal nyinyir karena mungkin tulisan-tulisan gue ini bak 'Sang Benar' banget, ya. *sape yang nyinyirin GR aje Lit*

Pagi ini udh 1,5 jam di jalan dan gue baru sampe tol Jatiasih, yang jaraknya hanya sekitar 5km dari rumah. Bus Trans Galaxy yang gue naikin, memutuskan lewat JORR karena tol dalam kota total banget macetnya. Trans Galaxy sebelumnya yang berangkat jam 7 pagi, barusan dicek baru sampe Halim.

Harus ada peraturan atau sistem yang tegas sih kayanya. Barusan baca berita, salah satu pengamat bilang, persulit semuanya! Kepemilikan kendaraan pribadi, terutama. Misalnya beli mobil harus cash atau beli harus ambil nomor antre.
Masalahnya ya, di kala macet udah #cetar_membahana #terpampang_nyata aja, pemerintah masih bisa ngeluarin kebijakan mobil murah. Menurut ngana?
Apapun alasannya menurut gue udah nggak tepat sih. Terutama kalo alasannya mobil ini bukan cuma buat di Jakarta. But helloooh, desainnya itu mobil city car banget. Kalo mau buat luar Jakarta, yang katanya daerah Kalimantan dkk itu, nggak kepake kali dah city car. Huff!

Mempersulit kepemilikan kendaraan kayanya juga mission impossible. Banyak jalan menuju Roma, cyin. Kebijakan 3in1 aja memunculkan profesi baru yaitu joki 3in1. Proses bikin SIM, paspor dkk memupuk profesi calo atau, 'biro jasa'. So, #menurutngana ?

Gue bitchy dan sok paling benar ya? Fufu.. Ya gitu deh. Abis kesel dengan kondisi saat ini. Pemilihan wakil rakyat secara langsung aja tetap nggak bisa membela kepentingan umum. Walau pasti ada orang bersih di sana, cuma ya jatuhnya tergerus dengan yang lain. Sedih.

Mudah-mudahan banyak yang nyaleg dengan motivasi membenahi Indonesia, bukan membuncitkan perut semata.

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

6 comments:

  1. Nggaaaa kok Mba. Ngga sok bener. Merasakan juga apa yang njenengan rasakan.
    Kalo naik ojek lewat pedalaman tanah abang aja, ngelihat orang dengan seenak udelnya ngebuang sampah seplastik gede ke sungai di belakang rumah. Itu tumpukan sampah lebih tinggi daripada kedalaman sungai saya rasa *lebay*
    Daaaaan, sebagai orang yang bekerja di bank dan membiayai perusahaan produsen LCGC itu saya juga prihatin melihat persetujuan pemerintah atas proyek mobil itu. Sampe sekarang sih saya juga salah satu penyumbang kemacetan Mba Lita. Tapi sebisa mungkin meskipun nyetir saya patuhin lalu lintas dan gak maen serobot biar gak nambah macet.
    Komitmen ke diri sendiri akan segera beralih ke public transport once it is feasible.

    ReplyDelete
    Replies
    1. setujuuuuu! setidaknya bisa berperan serta menertibkan yang semrawut di negeri kita tercinta yaaaa :)

      Delete
  2. mudah2an orang2 pada nyadar dan kembali berperilaku tertib ya mbak biar jakarta bebas banjir dan macet.
    btw, mbak lita pindah bombana aja saya jamin bebas maceet *nyengir* *kemudiandigaplok* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iiiih, Bombana di mana siiiih? #persoalan

      Delete
  3. sulawesi tenggara mbak, di pelosok negeri.. entahlah dia tertera di peta atau tidak #tetappersoalan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aih enaknya.. Aku malah pengin ngerasain tinggal di luar Jakarta. Beneran belum pernah lho, selain Bekasi :))

      Delete