From Charity Run to Jakarta Marathon

I'm not a big fan of running.
Tapi, perlu diakui, olahraga ini merupakan salah satu olahraga termudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Tinggal pakai sepatu, cus, lari. Walaupun, pada akhirnya karena banyak yang menganggap ini mudah maka olahraga ini juga risiko cideranya lebih tinggi.
Awalnya saya lari hanya karena untuk memaksimalkan jadwal olahraga minimal 3x seminggu. Di akhir pekan, Sabtu dan Minggu saya biasanya lari sore. Nggak jauh-jauh, paling 4-5 km saja. Sementara di hari kerja saya melakukan strength training sendiri di rumah (sebelum akhirnya rutin pilates).
Enough about me.
Tahun lalu, saya ingat Hani pernah mengajak saya ikut Adidas King of the Road. Komentar saya, "Sudah capek lari pakai bayar pula?" Haha.
Lalu di bulan Maret, ada charity run di Ragunan, karena uang pendaftaran nantinya untuk disumbangkan, saya pun bersedia mengikutinya ketika Rini mengajak saya ikut. 5k saja waktu itu. Dan surprisingly, saya cukup menikmati. Mungkin karena larinya di Ragunan yang notabene banyak pohon dan adem, ya. Beda sama rute lari saya di komplek yang saingan sama angkot. LOL.
Selang 2 bulan, ada acara lari lain yang kali ini cukup besar, Wine and Cheese. Waktu itu sepertinya acara olahraga lari belum sesering beberapa bulan belakangan ini. Kategorinya cuma satu yaitu 10k. Wakwaow! Nekat, akhirnya saya dan beberapa member forum yang sering nongkrong di thread running janjian ikut acara ini.
*kiri ke kanan: Cinta (Cintaalexandria), Saya, Dini  (Yuki_no_hana), Anita (MrsCullen), Rini (R33n3e)
Oh, ya, di Wine and Cheese ini saya baru sembuh dari cacar air pula! Jadi selama 2 minggu lebih sebelum acara saya sama sekali nggak latihan. Hasilnya, 90 menit untuk 10k pertama saya, sepertinya nggak memalukanlah ya.
Setelah itu saya mulai nggak terlalu rutin lari. Kombinasi banyak kerjaan, tugas luar kota dan bulan puasa jadi alasan. Agustus ada independence run. Kategorinya 8 dan 17k. Nggak mau terlalu optimis, akhirnya pilih 8k saja. Hasilnya, 60 menit untuk 8k.

Tapi karena acara ini gratis, maka finisher medal hanya berlaku untuk 1000 finisher pertama. Yah, secara acara larinya istana, jadi banyak dari kepolisian plus angkatan yang notabene lari adalah makanan mereka sehari-hari. Saya manyun saja, deh, dan yang penting foto! LOL.
Setelah itu saya memang bilang mau fokus untuk Jakarta Marathon saja. Eh, tiba-tiba 2 minggu sebelum JakMar ada Allianz Jakarta Heart Run. Kali ini saya pilih kategori 5k. Hasilnya? Aduh, ini malah kurang oke. Ceile. Rute yang dibuat panitia sayangnya kurang steril dari pengendara motor. Alhasil di setiap persimpangan dan U turn, para pelari harus memelankan langkah atau berhenti sama sekali. Kalau di Ragunan yang bebas kendaraan saya bisa menuntaskan 5k dalam waktu 30 menit, maka kali ini harus puas di angka 40 menit.

27 Oktober, hari yang ditunggu-tunggu tiba.
Setelah sebelumnya penuh drama akibat saya yang lupa di mana saya menyimpan dan mengonfirmasi pembayaran, saya pun akhirnya memakai bib Rini, kebetulan Rini ada musibah sehingga batal ikut. Drama ini berlanjut ke pengambilan bib seperti yang dialami hampir semua peserta. Mulai dari antre yang mencapai waktu 5 jam, sampai nomor dada/bib yang tertukar dengan peserta lain.
Nah, kalau biasanya saya bareng sama Rini berangkat (nebeng maksudnya. LoL) kali ini saya berangkat sendiri. Start time untuk kategori 10k adalah pukul 05.15. Saya berangkat dari rumah pukul 03.45 dan tiba di lokasi pukul 04.15. Sudah banyak pelari di sana. Padahal matahari belum lagi terbit. Tepat pukul 05.00 pelari half dan full marathon berangkat. Lalu kami menyusul setelahnya.
Menurut saya, yang cukup bikin merinding adalah panitia menyediakan banyak volunteer untuk menyemangati para pelari. Jadi walaupun pengunjung Car Free Day belum berdatangan, tapi kami sudah banyak cheerleader-nya. Oh, ya, kali ini running buddy saya adalah Nana (nanaulie) yang baru pertama kali mengikuti acara olahraga lari untuk kategori 10k.
Penyakit saya kalau lari jarak jauh adalah Buang Air Kecil (BAK). Di kilometer 5, biasanya keinginan buang air kecil memuncak, jadi bikin nggak fokus. Untung di setiap acara tersedia toilet. Kalau di Jakmar kemarin, toilet pertama ada di km 7. Waktu Wine and Cheese juga di km 7. Jadi, deh, saya mampir sejenak untuk BAK :D
Setelah itu baru saya bisa fokus lagi untuk berlari dengan pace seadanya sampai ke garis finish. Hasilnya, 80 menit untuk 10k *berdasarkan catatan waktu saya*. Lumayan, naik 10 menit dibanding Wine and Cheese :) tapi justru Nana yang baru pertama 10k sudah sekitar 5 menit di depan saya. Hebat!
Overall, saya cukup bangga dengan apa yang saya capai. Berlari sendiri dengan mengikuti acara olahraga lari itu sangat berbeda adrenalinnya. Kalau lari sendiri saya biasanya menyerah di kilometer 4 atau 5, kalau di acara olahraga lari, karena banyak saingan (dan kompetitif, haha), saya bisa lebih bersemangat.
Walaupun demikian, saya masih belum ada niat untuk ikut half atau full marathon. Masih sadar dirilah, dengan kemampuan. Daripada nanti malah merepotkan orang lain kalau saya pingsan di tengah jalan atau tiba-tiba saya milih memberhentikan taksi untuk pulang ke rumah, kan, repot, ya? LOL.
Buat yang mau ikutan acara olahraga lari, ada jadwal run event, lho, di forum. Kami juga sering janjian di acara tertentu di forum ini. Seru, lho, olahraga sekalian gathering :D

*tulisan ini sudah ditayangkan di FashioneseDaily

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

2 comments:

  1. Ih ini kok kece-kece sih baju larinya.. hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. baju larinya kan dapet dr penyelenggara. Lumayan, sejauh ini bagus2 :)))

      Delete