Terus, Salah Gue?

Kalo baca berita, terutama belakangan ini, seperti biasa dong, ya, #TeamJokowi, gue selalu baca setiap berita tentang beliau. Nah, banyak banget masalah yang 'dilemparkan' ke pemprov. Misalnya macet, banjir, UMP, angkutan umum, kesejahteraan guru, dan lain sebagainya.

Gue ga mau bicarain masalah Jokowi, sih, di sini (tapi di beberapa post ke depan PASTi akan ngomongin dia dan Ahok, haha). Gue cuma mau cerita, betapa kadang manusia gampang banget melemparkan masalah ke orang lain.

Macet.
"Pemerintah sih, ga mau nyediain angkutan umum yang memadai"

Kalau angkutan umum memadai, situ yakin, mau naik angkot? Beneeeer? Bawa mobil pribadi kan enak, nyaman, adem, ga kehujanan, ga nunggu lama, dst dsb.

Era Sutiyoso, dese mau bikin Trans Jakarta. Angkot nyaman untuk masyarakat. Yang caci maki? BANYAK! Yang sinis? BANYAK! Eh, tapi setelah ada, ternyata banyak yang suka tuh!

Trans Jakarta, sebenarnya udah jadi salah satu contoh moda transportasi publik yang mendekati ideal. Walaupun, sampai saat ini masih banyak banget kekurangan sana sini.

Jalurnya ga steril, banyak kendaraan pribadi masuk. Salah pemerintah?
Haltenya kemaren ditembaki pas dini hari. Salah pemerintah?
Pas transit halte pindah jurusan, jalannya jauh. Salah pemerintah?
Armada kurang. Nah, kalo ini gue ga tau deh, salah siapa. Hehe.

Sedianya, Trans Jakarta bisa menjadi penarik perhatian para kaum eksekutif yang membawa kendaraan pribadi. Ternyata, nggak juga. Jumlah kendaraan pribadi di jalan Jakarta, berdasarkan contekan dari akun @nebengers masih 98%.

Memecahkan masalah kemacetan, menurut hemat gue (yang suka ga hemat juga sih), ga bisa diletakkan di pundak pemerintah semata. Atau sebulan terakhir ini, pundaknya Jokowi dan Ahok.

Mau dibikin jalanan sebanyak apa pun, yakin seyakin-yakinnya, yang bawa kendaraan pribadi makin banyak.

Mau disediakan angkutan umum yang nyaman, paling hanya 20-30% yang mau meninggalkan kendaraan pribadi mereka di rumah. Ga percaya? Yuk, buktikan.

Studi atau wacana mengenai kemacetan udah banyak banget, deh. Pemberlakuan ganjil genap, warna mobil, ERP (electronic road pricing), dst. Tapi percayalah, selama manusianya/ masyarakatnya ga berpartisipasi dalam perubahan, ya kondisinya juga bakal begini-begini doang. Contoh, 3 in 1 yang menurut gue pantas di meng-endorse akun @nebengers aja malah mendatangkan profesi baru: joki.

Banjir.
Sahabat gue, kebetulan rumahnya dekat sama lokasi banjir luapan Sungai Ciliwung. Percaya nggak percaya, pihak RT/ RW-nya ga menyediakan lokasi pembuangan sampah. Lah, kalo sampah rumah tangga penuh, piye? Hup! Tinggal lempar depan rumah, alias Kali Ciliwung :(

Sahabat gue pendatang di daerah situ, protes dengan kondisi ini. Pihak birokrat (maksudnya RT/ RW) bilang, ya sudah terbiasa di sini demikian. Pernah disediakan, ga kepake. Karena dongkol, sahabat gue beserta suaminya, sering keliling tetangga sekitar untuk pisahin sampah-sampah kering kemudian dia tumpuk di halaman rumahnya. Pas ada tukang beling/ pengumpul barang bekas, baru dia kasih. Kasih 'pendidikan' ke orang-orang sekitar pun ga berguna. Ini, salah pemerintah?

Salah satu rencana Jokowi adalah membuat Kampung Deret/ Susun, dsb. Gue pernah baca di sebuah situs berita, komentar warga sekitar bantaran sungai tersebut mengenai hal ini. "Yah, ga mau pindah dari sini. Banjir mah, udah biasa. Lagian kalo rumah susun, ribet ah". Salah pemerintah?

Sering banget gue lihat mobil keren di jalan, buka jendela, 'plung' dengan entengnya melemparkan entah itu tisu, bungkus permen, puntung rokok, dan banyak lagi. "Ah, cuma selembar tisu, it won't kill you". 1000 orang mikirnya begitu, salah pemerintah?

Ya-ya, di beberapa negara, pemerintahnya memang 'keras' untuk urusan kebersihan dan disiplin. Ada seorang teman, sekarang tinggal di Swiss, menurutnya untuk buang sampah di sana kudu mikir. Kenapa? Karena plastik untuk wadah sampahnya itu mahal harganya. Emang ga bisa pake plastik bekas carefour atau giant? Hehe.. "Ya sampahmu nggak akan diangkut, Lit".

Satu sisi pemerintah harus keras untuk urusan sampah ini. Masalah banjir, selain posisi Jakarta yang memang cekungan, ruang terbuka untuk serap air kan juga udah jauh berkurang. Bayangin, Jakarta tempo dulu, lupa tahun berapa persisnya, pokoknya pas Pitung masih hidup, deh! Waktu belum banyak gedung bertingkat (mal, apartemen, perkantoran, dst dsb) udah pernah banjir besar, lho. Nah, bandingkan dengan saat itu, tanah Jakarta menurut sebuah penelitian juga amblas sekian cm per tahun.

Nah, dengan kondisi seperti ini, masa iya kita nih, yang pada pinter-pinter, mau berharap sama beberapa orang aja? Mulai dari diri sendiri, dong!

Kalau dalam agama gue, 'anna zhofatu minal iman, kebersihan itu sebagian dari iman'. Langit aja tau lho :)

Masih banyak contoh-contoh lainnya. Tapi jempol udah pegel ngetiknya pake bb.

Sebaiknya niiiih, sebelum menuntut sama orang lain (pemerintah dalam hal ini), yuk kita ngaca dulu, periksa diri sendiri, kita sudah melakukan apa untuk hal yang kita protes itu? Udah naik angkot tapi masih kena macet? Ya emang ga fair, sih. Kita udah panas-panasan, desak-desakan naik angkot, masih juga kena macet. Kalo gue mah mikirnya, yang waras ngalah, karena bawa mobil dengan kondisi jalanan seperti saat ini bikin gue nggak waras :))

Kalo ngomongin masalah kemacetan dan angkutan umum sama gue ga akan ada habisnya, deh. Haha!

Hidup angkot!


sent from my Telkomsel Rockin'Berry®

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

2 comments:

  1. hiii

    can i link this to my fb acct?
    i like ur point of vies and im totally agree!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, thank you. Silakan jika memang tulisannya bisa membawa kebaikan *halah* :)

      Delete