Working in a men's world

Mulai minggu lalu, Affi mewakili Female Daily siaran di U FM 94,7 sama Moza Pramita tiap Kamis pagi. Nah, topik pertama kemaren adalah 'working in a men's world'. Sambil dengerin kemaren gue beberapa kali kaya yang mau interupsi isi pembicaraan gitu :D

Iya, gue memang bukan yang kerja di lapangan banget, seperti engineer atau apa lagi sik, yang kerja berat khas laki-laki gitu? Tapi kebetulan dari dulu lingkungan kerja gue kebanyakan laki-laki. Kameramen, editor, produser, bos, driver, PA, Unit, hampir semuanya laki-laki.

D blogpost Gue dan Lelaki, gue cerita bahwa dari kecil memang lebih dekat dengan sepupu yang laki-laki, lalu jaman SMA pun ngegeng sama laki semua. Semua hal ini bikin gue lebih mudah 'blend' dengan lingkungan lelaki. Kalaupun ada perempuan, kebanyakan mereka yang memang bekerja di lingkungan lelaki juga jadi kaya laki deh!


Beberapa hal yang gue pahami dari bekerja dengan lingkungan laki-laki: 
  • Berpikir taktis, semuanya harus mudah dipraktikkan, nggak hanya indah dikatakan. Misalnya, memilih bintang tamu. Dulu pas diskusi kreatif tema yang keluar adalah seleb dan infotainment, pengen undangnya mbak LM dan CT (jauh sebelum video sama AP keluar, ya). Ternyata LM nggak mau kalo ada CT begitu juga sebaliknya. Padahal kan bakalan oke berat kalau mereka berdua tampil satu frame, tapi ya karena susah menyatukannya, daripada basi, mendingan ganti tema dan narsum yang lebih masuk akal.
  • Menilai seseorang hanya dari karya, bukan pribadi atau bahkan cara berpakaian. Di Sariayu, selantai lelaki semua, gue doang yang perempuan. Mana peduli mereka gue mau pake baju macam apa, yang penting copy packaging jadi 2 jam lagi! Haha!
  • Saat bilang “hayo” ya, maksudnya hayo, jalan, berangkat, lakukan sekarang.
  • Mencari solusi jika ada masalah, bukan mencari tau duduk permasalahan. Biasanya kalau solusi sudah dijalankan, dan udah beres baru deh nanyain akar permasalahannya. Misalnya nih, ada trouble dengan narasumber waktu syuting (nggak jadi datang atau meninggalkan set ditengah-tengah live- iya, ini pernah kejadian pas mbak RA jadi bintang tamu), gue prefer mencari solusi dulu supaya di layar tetap bagus acaranya, instead of cari tau kenapa RA cabut. The show must go on, right? 
  • Nggak mempermasalahkan hal kecil. Misalnya, meeting pakai baju apa (yang penting ga kucel, nggak pake sendal jepit, dan ga bau badan), mau makan apa pas begadang ngedit (hellow, masih ada warung makan deket kantor yang buka jam 3 pagi aja udah untung), dst dsb.
Ada kerugiannya? Ya pasti, misalnya nggak ada teman buat bahas tas yang dipake si artis A palsu apa nggak (nah, ini biasanya malah gue bahas sama artis lainnya, hahahaha) atau nggak ada yang peduli baju gue matching apa kaga, padahal kan kadang-kadang butuh juga komentarnya. Kalau masalah di underestimate karena jadi perempuan yang kerja di lingkungan laki-laki, gue ga pernah merasa demikian, sih.
Mungkin di beberapa bidang kerja, ada yang begitu,tapi kebetulan di bidang kerja gue nggak. Atasan gue sangat menganggap serius apa pendapat gue, rekan kerja selini nggak pernah mengabaikan apa yang gue omongin, yang ada dibawah gue (waktu di 21, semua stafnya lelaki) juga nganggap serius kalau kami berdiskusi atau meeting. Misalnya yang dibawah gue mau adu argumen, ya silakan. Enaknya juga sama lelaki kalo adu argumen nggak dimasukin ke hati (malah seringnya gue yang masukin ke hati, hihihii)
Saat ini, di Female Daily, rekan kerja gue semuanya cewek (eh iya, ada Eko). Dunia dan behavior-nya sangat berbeda dengan kehidupan gue sebelumnya. 180 derajat bok, bedanya! Kadang-kadang gue aja yang suka lupa bagaimana harus bersikap dengan lingkungan yang berbeda ini. Ya maap, dari 11 tahun kerja, 8-9 tahun diantaranya di lingkungan lelaki, bok!

Apakah perbedaan ini in a good way or a bad way, yah, menurut gue mah, segala hal pasti ada kekurangan dan kelebihan, kan? Apa yang ada, mari dinikmati dulu. Jangan sampai jadi kufur nikmat juga :D

Lagipula, we're living in this patriarcy world. Mau kerja sama cewe semua atau laki semua, tanpa disadari, dengan jenis kelamin sebagai perempuan pasti sering mengalami yang namanya tidak dihargai pendapatnya, tidak diakui 'kehebatannya' dan lain sebagainya hanya karena kita perempuan.
Tapi, im not the one who will "teriak-teriak" in the name of 'kesetaraan gender'. Ngapain teriak-teriak doang, mendingan lakukan saja. Just like men do, maybe?

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

No comments:

Post a Comment