Cuti Hamil

Baru-baru ini Pak Dahlan Iskan, Menteri BUMN, menyarankan untuk karyawan BUMN mendapatkan cuti hamil selama 2 tahun. Di detik.com sampai dibikin semacam voting, pro atau kontra.

*kesalahan tengah malam, besok ada event pagi, bacain +/-290an komentar satu-satu*

Mau bikin pro kontra-nya ala gue, ah.
Pro:
- kewajiban ibu dan hak anak mendapatkan ASI menjadi lebih terjamin. Nggak ada alasan, ASI ga cukup untuk stok selama si ibu kerja.
- tumbuh kembang anak berada di tangan yang tepat, yaitu si ibu sendiri.
- ibu bisa full konsentrasi mengasuh anak
- di salah satu negara (mohon maap, gue lupa persisnya, kalo ga salah Finlandia), Ibu Elly Risman pernah cerita bahwa pendidikan disana sangat maju. Hal ini karena perempuan hamil dapat cuti hingga 3th (mohon koreksi, ya, kalau ada yang tau kepastiannya). Menurut bu Elly, dengan waktu anak yang lebih banyak dengan ibunya, maka anak lebih gembira sehingga otaknya mampu menyerap informasi/ edukasi lebih banyak.

Kontra:
- cuti 3 bulan aja banyak pekerja yang pas masuk kerja lagi dapat kerjaan setumpuk, apalagi 2 tahun? :D *curcol*
- dunia semakin cepat berputar, dalam 2 tahun pasti banyak banget hal yang berubah
- di satu negara lagi (lagi-lagi gue ga terlalu pasti ingatnya, kalo ga salah Norwegia) kedua orangtua mendapat cuti bergantian selama 18 bulan/ 2 tahun gitu deh. Jadi ga hanya ibu yang dapat cuti, tapi ayah juga.
- di salah 1 komen ada yang bilang, kalo anaknya 5 berarti cuti bisa sampe 10 th dong? :D

Udah, kepikirannya cuma segitu doang :))

Mau bahas di poin ketiga dari kontra gue, ah. Hal ini jauh lebih bagus sih, karena yang dimaksud dengan cuti hamil, menurut gue bukan untuk pemulihan diri si ibu, tapi lebih kepada pengasuhan/ bonding orangtua kepada si anak. Masalah pengasuhan kan bukan jamannya lagi diserahkan ke ibu, tapi juga ayah.

Lagi-lagi teringat kata Ibu Elly (oh yes, I remember almost everything she said), Indonesia is a father-less country. Coba lihat, dimana-mana, kebanyakan anak-anak Indonesia lebih sering berinteraksi dengan perempuan di awal kehidupan mereka. Ibu, pengasuh, guru playgroup/ TK, nenek, suster rumah sakit, dst dsb.

Tentu ga ada yang salah dengan hal ini. Perempuan memang insting pengasuhannya lebih tinggi dibanding laki-laki. Walaupun memang, banyak juga yang pihak ayah/ kakek yang mengasuh anak, tapi gue rasa ga sebanyak yang diasuh perempuan, ya. Salah satu contoh kakek gue almarhum, beliau lebih ngurus kami cucu-cucunya/ anak-anaknya dibanding nenek gue.

Bisa dibilang, walaupun perempuan memang kebanyakan by nature mengurus anak, tapi ada perbedaan signifikan dalam hal pengasuhan dengan laki-laki. Yang gue alami, nih, sama bokap dulu masih kecil gue bisa main dengan bebas. Nah, ini jadi teringat sama Ibu Najeela Shihab, yang bilang kebanyakan laki-laki memang menerapkan permainan untuk bonding sama anak/ cucunya. Dari bermain ini, banyak hal bisa dieksplor untuk mengenal anak, jadi bisa memahami karakter anak. Jadi buat para ayah, jangan berhenti/ sungkan untuk main sama anak-anaknya, ya *ngomong sama IgunN*

Ternyata kadang perempuan sendiri yang suka 'menghalangi' campur tangan kaum laki-laki dalam pengasuhan. Misalnya, "kok nyuapinnya begitu, sih?", "jangan digendong begitu, dia ga betah", "kenapa pakein bajunya yang ini, kan ga matching", daaaAan banyak lagi :D ucapan-ucapan kaya gini, yang sering bikin para ayah (mungkin) jadi, "ah ya sudahlah, kalo gitu gue main aja, ga ngurusin".

Nah (lagi), jadi inget kata nyokap gue yang suka bilang, "ah orang laki kan ga tau ngurusinnya, makan, mandi, segala macam, taunya cuma pas udah beres terus ajak main, deh!". Tanpa sadar, mungkin kita sendiri yang mengondisikan keadaannya seperti itu.

Sekarang sih, kalau gue lihat di dunia maya, laki-laki yang peduli sama urusan 'rumah tangga' udah cukup banyak, ya. Misalnya, kalau seminar parenting atau kesehatan, banyak sekali gue ketemu ayah-ayah yang ikutan menyimak serius.

Sahabat-sahabat gue yang lelaki pun sering bbm/ telpon gue untuk tanya mengenai kesehatan anaknya, ASI istrinya, atau behavior serta milestone anak. Gue bangga banget, deh, punya sahabat-sahabat yang peduli sama urusan 'domestik'!

Balik lagi ke masalah cuti hamil 2 tahun. Gue pas awal tau cuti hamil 3 bulan, sempat bilang "gile, gue ngapain aja 3 bulan ya? Mudah-mudahan ga bosen". Dan ternyata diaminin. Ga baby blues, ga ada keluhan berarti, dan 3 bulan berlalu begitu cepat. Pas cuti hamil kelar, antara berat tapi excited balik lagi ngantor.
Ada beberapa teman/ kenalan yang malah resign sebelum balik lagi ngantor. Entah karena nggak bisa ninggalin anak atau karena keenakan mengasuh anak.

Itu baru 3 bulan, dimana bayi usia segitu biasanya belum terlalu bisa diajak main. Kebayang nggak, kalau 2 tahun? Anak kita udah bisa jalan, ngoceh, diajak ngobrol, dan banyak lagi! Pasti makin berat ninggalinnya untuk full time ngantor, kan?

Nanti yang ada ga ada lagi wanita karir, karena banyak yang memilih lanjut stay dirumah. Apa jangan-jangan hal ini untuk semakin memperkuat posisi patriarki di Indonesia? *parno kelebihan*

Jadi Pak Menteri, saya setuju 2 tahun cuti hamil, tapi bagi-bagi sama suami, gimana? Setuju, ya?
sent from my Telkomsel Rockin'Berry®

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

2 comments:

  1. Tambahin 1 lagi poin kontra:

    Sekarang aja cuti 3 bulan karyawati itu dianggap disturbing lho untuk beberapa perusahaan. Banyak yang maksa karyawati itu keluar dulu, baru balik lagi setelah melahirkan. Jadi perusahaan nggak harus menggaji si karyawati selama dia cuti hamil.

    Kebayang kan kalo usul cuti hamil 2 tahun, posisi perempuan di bursa kerja bakal tambah turun deh. Saya sih lebih setuju kalo kayak di negara-negara Balkan yang cuti hamilnya dibagi dua, ke ibu dan ayah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya, itu banyak banget tuh, yang suruh keluar dulu tapi setelah pulih bisa kerja lagi. Ciiiih, dasar kapitalis *eh bener ga istilahnya?*

      Delete