Rekam Jejak



Istilah rekam jejak kayanya populer belakangan ini seiring dengan terlaksananya Pemilu baik legislatif ataupun presiden. Menurut gue, rekam jejak seseorang itu nggak hanya berlaku dalam politik. Coba kalau lo ngelamar kerja, pasti lampirin CV yang salah satu isinya pengalaman kerja di mana aja. Dengan gitu si perusahaan baru ini bisa mendapatkan gambaran kira-kira si pelamar ini pernah ngapain aja sih?

Selain ngelamar kerja, rekam jejak juga diperlukan saat lagi PDKT pacaran. Haha. Iyalah. Cowo yang pernah melakukan kekerasan sama pacarnya, dan orang-orang tau tentang hal tersebut, pasti kalo dia deketin cewe lagi, yang ada pada takut. Atau cewe yang dikenal suka morotin pacar-pacarnya, nah cowo yang mau deketin tapi modal standar, ya pasti mikir-mikir.

Lesson learned, jangan aneh-aneh lah sama anak orang. Daripada seret jodoh :p

Kalau menilik dari atas, berarti rekam jejak bukan hanya hal-hal yang tertuang dalam kertas ya? Tapi ada hal-hal lain yang jadi pertimbangan seseorang terhadap orang lain. Misalnya dalam kerjaan, CV si A bagus banget. Usia muda tapi perjalanan karir melesat dengan cepat. Di atas kertas, dia kandidat yang bagus lah. Tapi dengar punya dengar, si A ini bossy, suka lempar tanggung jawab atau carmuk sama atasan dan menindas bawahan. Apakah ia masih jadi kandidat yang bagus?


Hal ini yang bisa dipelajari dari pilpres kali ya. Di atas kertas, masing-masing kandidat bagus. Yang satu perjalanan karirnya mulus, berhasil membawa kota yang dipimpinnya dapat banyak penghargaan, dan seterusnya. Kandidat lain, perjalanan karir juga mulus. Lulusan luar negeri, pasukan yang dipimpin pernah berjasa untuk Indonesia.

Tapi di luar itu, ada penilaian lain. Kandidat yang satu dikenal sosok yang ramah, populer, hangat dan tak berjarak. Yang lain dikenal tegas (apalagi banyaknya berita dan cerita tentang 'ketegasan' beliau).
Setelah pilpres, dan KPU mengumumkan hasilnya, yang satu alih-alih menerima keputusan, yang ada malah menuntut ke MK. Beragam alasan dikemukakan. Mulai dari yang masuk akal sampai yang bikin dahi ini dikerutkan tanda hal tersebut nggak masuk logika. Alhamdulillah semalam MK sudah membuat keputusan untuk tidak mengabulkan gugatan. Gue bersyukur lebih karena sidang ini tak hanya memakan waktu dan energi, tapi juga biaya dan yang pasti menimbulkan rasa waswas masyarakat.

"Akankah ada kerusuhan lagi?"

Kemarin, Jakarta Siaga 1. "Jakarta kaya mau perang nih!", kata seorang teman. Suasana tegang makin terasa saat berita dan informasi seliweran.

"40000 massa!"
"Dari luar Jakarta nggak boleh masuk!"
"Monas rusuh!"
"Gas air mata mulai ditembakkan"
Dan seterusnya..

Beberapa teman yang punya pengalaman buruk dengan kerusuhan 98, cemas. Wajar, mereka pernah mengalami hal yang amat buruk saat itu. Banyak yang tak hanya kehilangan harta, tapi juga sanak saudara. Yang lain, terus berdoa dan berharap. Sementara yang lainnya, tetap optimis sambil selfie dan mengunggahnya ke media sosial :D
"Kapan lagi foto di depan water canon.." :P
 
Pak, andai Anda mengucapkan selamat pada yang menang sebulan yang lalu, pasti rekam jejak Anda yang dipandang bermasalah, langsung terhapus dengan sikap legowo bak ksatria.
Ingat waktu Pilgub? Sekesal-kesalnya sama Cagub yang lain, tapi ketika ia mengucapkan selamat dan tak memperpanjang masalah, kami angkat topi untuknya.

Gue tau, banyak yang kecewa. Tapi ini demokrasi kan? Apa pendukung Faisal Basri nggak kecewa waktu Pilgub? Apa pendukung Taufik Basari nggak kecewa saat Taufik Basari nggak lolos pileg? Atau, apa penggemar Delon Idol nggak kecewa waktu yang menang adalah joy Tobing (duh, maap ya, taunya Idol pas angkatan mereka doang). Kalau semua suara harus diwakili, akan ada berapa presiden? Kalau semua suara harus diwakili, akan ada berapa banyak 'wakil rakyat' di Senayan sana? 


Semoga setelah ini tak ada perpanjangan masalah ya. Untuk kita semua, Indonesia Raya.

*Tapi ada pelajaran lain yang bisa dipetik dari pilpres kali ini: kita jadi lebih melek politik, paham apa itu form a5, C1, KPU tugasnya ngapain aja, DKPP itu apa, atau bahkan Hamdan Zoelva itu bagaimana rupanya :D


sent from @nenglita 's phone

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

No comments:

Post a Comment