Pencitraan

Kalau lihat foto ini rasanya keren, ya. Ah, andai kalian lihat proses di balik pemotretan ini. Haha.

Anyway, minggu lalu mempublikasikan tulisan ini: http://mommiesdaily.com/2014/05/16/parenting-pressure-curhatan-mimin/ dan isinya kok curhatan saya juga ya. Hahaha..

Gue pribadi nih, selalu merasa beruntung karena bisa dapat akses yang cukup mudah ke orang-orang yang kompeten di bidangnya. Tapi hal ini tentu ga sekonyong-konyong bikin gue bak ibu peri yang menerapkan segalanya dalam kehidupan nyata. Apalagi yang berurusan dengan area kesabaran... Duh, sumbu suka pendek -_-'

Tapi kan nggak mungkin (dan jangan sampe ya..) gue galak yang pake fisik. Cubit, pukul, nggak banget deh. Untuk urusan ini, nggak pake pencitraan deh. What you see is what you get.

Nggak cuma para mimin akun situs parenting, kesehatan dkk yang butuh pencitraan, tapi gue rasa banyak status lain yang butuh pencitraan.

Misalnya, politisi. (ehm-ehm)
Sidak ke pasar, sekolah, institusi tertentu, marah sama anak buah, nyemplung ke gorong-gorong, nangis lihat taman rusak, pake baju nggak bermerek, naik kendaraan umum, memilih kelas ekonomi di pesawat, naik sepeda,  dan sebagainya dan seterusnya...

Apa benar, semua yang kita baca, kita lihat kita dengar itu pencitraan semata?

Ada beberapa hal yang bisa kita lihat sih, untuk mengatakan pencitraan apa bukan.



Misalnya, politisi melakukan hal itu apakah sebentar lagi mau pemilu? Apa ada pemilihan yang melibatkan dia atau golongannya? Apa dia diindikasi terlibat suatu kasus yang mencemarkan namanya? Apa lagi ya?

Lalu lihat juga, kinerja dia sebelumnya gimana? Kiprah si politisi selama ini gimana? Kalo tadinya ke mana-mana naik mobil mewah atau helikopter terus jelang pemilu dia main ke pasar, boleh curiga. Kalau tadinya anteng-anteng di dalam ruang kantornya tanpa ada yang tau mereka ngapain tapi jelang pemilu sibuk blusukan, bisa dicurigai.

Masalah pencitraan, menurut gue jadi hal yang wajar. Apalagi buat orang-orang yang harus menampilkan citra tertentu ke pihak umum. Yang pentiiiing, jangan bohong.

Lah mana bisa pencitraan nggak bohong?
Ya bisa lah. Misalnya, gue yang statusnya ada di belakang situs parenting, pantes nggak kalo gue upload foto atau tweet tentang clubbing? Eh, ini mungkin nggak ada hubungannya ya. Buat gue, seorang ibu, mau dia suka clubbing, karaoke, belanja, dst, selama dia berbuat kebaikan untuk anaknya, itu hak dia. Kalo gue karena emang (udah) nggak demen sama clubbing, jadi ya nggak pernah upload juga. Haha.

Nah kalo politisi, mau dicap pencitraan tapi kalo mereka jujur melakukan itu dari dalam hati mereka ya nggak apa-apa dong. Masalahnya sekarang, di mana cari politisi jujur? Manusia yang nyemplung ke politik tanpa kepentingan? Eh, kalo kepentingannya untuk rakyat, ya nggak apa-apa. Gue rasa semua orang, yang masuk ke politik pasti ada kepentingannya. Entah buat diri sendiri atau orang lain. Misalnya Wagub Jakarta, Ahok, seinget gue dia selalu bilang kalo jadi pejabat dia bisa bantu banyak orang, kalo cuma jadi orang kaya yang bisa dibantu terbatas. Itu kepentingan kan? Lepas dari jujur apa tidak, gue yakin kita bisa ngerasain kok. Bakal keliatan juga dari sikap, perbuatannya.

Percaya kan kalo orang jujur atau tulus itu bisa kita rasain dari perilakunya?
Kalo gue sih percaya, banyak hal yang gue jalanin atau putuskan berdasarkan feeling gue bahwa seseorang itu tulus ke gue. Salah satunya: nikah sama Igun.

*kalaupun kemudian banyak keputusan itu salah, gue yakin gue pernah ngerasain ketulusan seseorang di antara banyak kejadian*

Balik lagi masalah pencitraan, sebelum ngecap seseorang pencitraan, sebaiknya riset dulu. Gimana sih dia di masa lalu, rekam jejak lah istilahnya. Jangan lupa cari informasinya dari sumber yang tepat. Ini berlaku untuk semua hal, ya. Nggak cuma politik doang, tapi ASI, kesehatan anak, dkk.
Di zaman serba canggih, internet bisa memudahkan sekaligus menyesatkan. Kalo nggak cerdas-cerdas cari sumber, udah kena bodohnya eh disebarin pulak. Double combo dah!

Btw, di sini gue ga nyinggung nama Jokowi, abis banyak yang bilang dia pencitraan. Yang bilang begitu pasti baru tau namanya pas dia nyalon jadi gubernur ya? Cari tau dulu lah, baru menghakimi.

*nah ujung-ujungnya ada nama bapaknya juga. Plis pak, jangan pilih cawapres yang 'muka lama'*

Btw, kasihan juga jadi politisi. Melakukan 'hal baik', dibilang pencitraan. Diem aja, dibilang nggak ada gigi. Korupsi? Dicap jelek seumur hidup. Jadi mereka harus ngapain? :D

nenglita

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

2 comments: