Antara Rasa Kecewa Dan Soto Betawi

Gue rasa setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya kekecewaan.




Kecewa sendiri menurut kbbi adalah:

kecewa /ke·ce·wa/ /kecĂ©wa/ a 1 kecil hati; tidak puas (krn tidak terkabul keinginannya, harapannya, dsb); tidak senang: kami -- thd penyambutannya yg dingin; 2 cacat; cela: tidak ada -- nya; 3 gagal (tidak berhasil) dl usahanya dsb: segala tindakan pengamanan akan tetap -- jika biang keladi kejahatannya tidak dibasmi;--

Blogpost gue yang ini bakal bak motivator, nih, Hahaha. Sebenarnya diilhami oleh anak magang di kantor yang lagi  nyusun skripsi dan bolak balik nyari teori tentang kekecewaan.

Gue pernah kecewa nggak?

Ya pasti pernah. Gue yakin, lo semua juga pernah. Mulai dari kecewa terhadap hal kecil sepeti udah kelaparan banget ngebayangin mau makan Soto Betawi setelah syuting, mana di jalan macet, eh sampe kantin kantor nggak taunya tukang Soto Betawinya lagi pulang dulu (padahal dagangannya masih banyak). Ini terlalu spesifik ya. Jadi jelas deh, pengalaman nyata :D

Sampai kekecewaan ke tingkat yang lebih tinggi, semisal kecewa pada wakil rakyat yang kita pilih ternyata ketangkep KPK.

Kalau kata Iwan Fals dalam sebuah lagu Seperti Matahari, “Keinginan adalah sumber penderitaan”. Ini kalau mau dengar lagunya, bagus banget.


Dan ya, gue juga merasakan hal tersebut. Ada hal-hal dalam hidup ini yang kita semua pasti ingin raih. Entah itu dalam karir, menjadi orangtua, dan seterusnya. Bagi pekerja, ingin karir yang lebih bagus, ingin dihargai oleh atasan, ingin hasil kerja maksimal, dan seterusnya adalah hal yang wajar diinginkan. Tapi saat ada satu dua hal yang nggak sesuai dengan keinginan, maka kecewalah kita. Runtuhlah semangat kita untuk menjalankan pekerjaan sebagaimana mestinya.

Demikian juga dengan menjadi orangtua. Ingin anak kita jadi anak yang manis, pintar, nggak pemalu, dsb. Gue rasa, saat jadi orangtua kita menaruh banyak keinginan pada pundak anak dan berusaha sekuat tenaga agar keinginan tersebut terpenuhi.

Yang harus disadari adalah, bukan kita yang menjalankan keinginan tersebut. Anak kita adalah pribadi yang berbeda dengan kita, mereka kan punya keinginan sendiri.

Ah jadi ngelantur.

Baiklah, lalu bagaimana menghadapi kekecewaan? Gue bukan psikolog (udah pasti), tapi yah mungkin ada hal-hal yang bisa diambil olehh teman-teman semua.

Let it out
Saat gue kecewa, gue akan marah. Jarang kekecewaan gue diwujudkan dalam bentuk tangisan. Mungkin karena air mata gue mulai berkurang jumlahnya, literally :p

Gue bakal marah, gue cerita ke orang-orang yang gue percaya mengenai kekecewaan tersebut.

Eh, tapi mungkin berhubung gue adalah tipe pendengar bukan pencerita, jadi suka kentang kalo lagi curhat. Kentangnya? Kadang lawan bicara gue suka punya cerita lebih seru yang pada akhirnya gue jadi dengerin alih-alih curhat -__-

Salah satu cara gue mengeluarkan emosi gue adalah lewat tulisan. Sayangnya tulisan gue nggak bisa jadi karya seperti halnya Glenn Fredly saat putus cinta captain lagunya bagus-bagus banget. Tulisan gue, ya hanya berupa blogpost atau random thoughts yang tersebar di social media. Huff.

Mencari pembenaran
Iya, gue akan cari pembenaran atas kekecewaan yang gue rasakan. Misalnya, hasil kerja gue bikin gue kecewa. Maka gue akan cari pembenaran atas rasa kecewa yang gue rasain. Eh paham kan ya?

Jadi gini, tarolah hasil karya gue dikritik orang atau dibilang nggak oke. Maka gue akan cari sudut pandang lain yang bisa menguatkan bahwa karya gue sebenarnya baik-baik saja tapi dengan sejumlah catatan. Atau gue cari hal positif lain seputar karya tersebut. Bukan untuk alat serangan balik, tapi hanya untuk bikin gue merasa lebih baik aja.

Ini juga bukan berarti gue nggak mau salah ya. Tapi gue rasa benar dan salah itu relatif, ya. Harus disesuaikan dengan kondisi juga. Misalnya nih, Langit di sekolahnya pas ujian kemarin ada pertanyaan, “Sampah harus di..?”

Pilihan jawaban ada dibakar, disimpan, dibiarkan.

Yang benar yang mana? Menurut kunci jawaban, yang benar adalah dibakar. Tapi jawaban Langit “dibiarkan”. 

Kebetulan, gue emang sering komentar bahwa membakar sampah adalah perbuatan tidak terpuji. Gimana nggak, meracuni udara bok! Berapa banyak orang yang dirugikan tuh? Mungkin komentar ini dia ingat ya.
Apa gue kecewa dengan jawaban Langit? Atau kecewa sama kunci jawabannya? Ya nggak juga. Benar atau salah menurut gue tergantung dari sudut pandang mana kita melihat sebuah kasus.

Membuat limit
Ada tahapan-tahapan di mana gue bisa menerima rasa kecewa. Kalo sekedar nggak jadi makan Soto Betawi sih, level kekecewaannya masih rendah, ya. Jadi gue bisa mengatasinya dengan makan Ayam Penyet. Haha.

Ada beberapa kekecewaan yang nggak bisa ditolerir, gue nggak bisa mengatasinya sehingga akhirnya gue memilih untuk cabut. Apa gue berarti lari dari masalah? Bukan. Itu berarti rasa kecewa gue udah melewati limit. Udah nggak bisa  diapa-apain lagi gitu maksudnya. Kalo gue terusin yang ada rasa kecewa itu menggerogoti dan bikin hati gue busuk sehingga bukan nggak mungkin memengaruhi orang lain. Gue nggak mau.

Gimana cara membuat limit? Menurut gue lagi, setiap orang batasannya beda-beda. Ini mirip sama tingkat kesabaran. Tiap orang berbeda jauh tingkat kesabarannya. Biasanya sih, semakin sabar seseorang, semakin tinggi toleransinya terhadap rasa kecewa. Correct me if im wrong, ya.

Acceptance
Pada akhirnya rasa kecewa itu harus diredam dan diterima. Bentuk penerimaan dari rasa kecewa juga macam-macam sih. Kalo masalah Soto Betawi akhirnya gue terima bahwa Si Abangnya bakal lama balik lagi ke gerobaknya dia, maka gue putuskan untuk pesan Ayam Penyet.

Acceptance, apalagi untuk hal yang pahit itu gue yakin nggak gampang. Banyak hal yang harus kita pikirin untuk bisa menerima atau menelan terutama sebuah rasa kecewa. Tapi coba dipikirin lagi, gue sih nggak mau terus menerus berkubang dalam rasa kekecewaan. Hidup gue yang ada jadi nggak produktif.

Bismillah aja, percaya bahwa hidup kita ini sudah ada jalannya. Kalau masalah kekecewaannya di karir dan membuat lo memilih cabut dari kerjaan sekarang, anggap aja memang rezekinya udah expired di tempat tersebut. Ya kan?




Kecewa itu pasti kita rasain dalam setiap sisi kehidupan. Baik seremeh Soto Betawi sampai sesulit kecewa terhadap pasangan. Tapi menurut gue, rasa ini bikin kita lebih kuat. Sayang banget kalau hidup kita yang harusnya produktif malah dihabiskan hanya untuk sebuah rasa yaitu kecewa.


“Don’t let today’s disappointments cast a shadow on tomorrow’s dreams.” ~Unknown

Anyway, gue yakin pasti banyak juga yang pernah merasa kecewa sama gue. Seperti yang gue tulis di sini, nggak bisa semua orang suka dengan apa yang kita lakukan kan?

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

8 comments:

  1. ah SUKA BANGET sama tulisan mbak lit ini.
    aku kalo kecewa juga harus marah, tapi harus juga ceita ke orang. lucunya, suami bukan pilihanku. hihi
    kmrn2 sempet berpikir, kenapa gak ditulis aja sih rasa kecewanya. ternyata aku salah, kalo dibaca lagi either keinget-inget jd bt lagi, atau malah buat lucu2an. mendingan gak nulis samsek.

    duh mbak lit...te-o-pe banget deh tulisannya kali ini, nenangin :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah kamu mah anaknya muji aku, aku kan jadi nalu. Haha.

      Makasih ya, Prita, semoga kita semua bisa mengelola rasa kecewa dengan baik. #LitaSangMotivator :)))

      Delete
  2. merasa kecewa pasti pernah ya mbak, trus mengecewakan orang hmmm mungkin orang lain yang bisa menilai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurutku ,kadang kita bs tau lho suatu tindakan kita bisa mengecewakan org lain apa nggak. Apalagi saat harus memutuskan sesuatu yang nggak bisa mengakomodir kemauan orang banyak, kan.. Tapi mudah2an sih nggak banyak atau menimbulkan kecewa yg mendalam banget yaaa..

      Delete
  3. Aduh Lit, itu soto betawinya kok menggoda iman banget, mana lagi laperr *maap salah fokus*.
    Tapi tampaknya aku juga akan kecewa karena di sini susah (banget) nyari soto betawi *cari bebek goreng ajalah* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya emang Soto betawi ini enak banget (DAN MURAH!) hahaha... Coba lemparin bebek goreng :p

      Delete
  4. Rasa kecewa itu ketika angkot udah di dpn mata, tapi trus ditinggal!!! Terpaksa jln kaki krn angkotnya udah cabut sblm angkot yg laen dateng *angkot yg aneh*rejeki koq ditolak*masih gondok*

    ReplyDelete
    Replies
    1. OMG, aku pernah kaya gitu. Pulang kemalaman, omprengan udah jarang. Pas aku di jembatan penyeberangan, udah kelihatan omprengan lagi ngetem tau2 berapa langkah kemudian dia jalan T___T

      Delete