Bangga Sama Indonesia

Ya, ya... pasti banyak banget yang caci maki negaranya sendiri, secara ya, kondisi negara Indonesia carut marut begini. Mulai dari kondisi sosial, ekonomi, politik, alam, dan banyak lagi.

Tapi itu nggak bikin gue menyesal atau pengen keluar dari negara ini. Iye deh, gue lebay, tapi serius! Nggak kebayang harus tinggal di luar Indonesia. Igun beberapa tahun lalu pernah ditawari untuk bekerja di negara tetangga, tapi jawabnya "Nggak ah, ntar anak gue tumbuh dan besar di negara orang, nasionalismenya berkurang".
Eh, ini jangan dianggap bercanda, ya. Serius. Gue sama Igun sama-sama cinta sekali sama Indonesia. Kami concern banget sama kondisi negara ini, makanya kalo pasangan-pasangan ngobrolnya itu tentang hal-hal seputar keluarga, kami baru akan seru ngobrol kalo udah ngomongin negara, aneka konspirasi dibalik sebuah kasus, dan hal-hal semacam itu.

Gue pribadi (sekarang ganti pake 'gue' aja karena kalo 'kami' kaya keluarga berencana :p ), sangat ingin Langit bisa mencintai negaranya ini. Jangan sampe saat dia remaja, dewasa, harus kehilangan jati dirinya sebagai orang Indonesia. Membuka diri sama dunia luar, itu harus. Wajib, malah, supaya pemikiran juga nggak cupet. Tapiii, menghargai perjuangan para laskar bambu runcing untuk memerdekakan Indonesia juga penting!

Salah satu cara yang paling gampang, lewat mengenalkan anak-anak permainan tradisional, misalnya. Seperti yang pernah gue tulis di Mommies Daily, Mengajari Tradisi Lewat Permainan.
LinkBokap nyokap gue nggak terlalu 'tradisionil' sih, mereka benar-benar go with the flow aja. Tapi lewat dongeng bokap gue, gue tau banyak cerita-cerita rakyat, dari masakan nyokap gue tau makanan khas daerah tertentu, dan dari lingkungan gue bisa belajar bahasa Betawi *halah*.

Selain lewat permainan, gue juga sering makein Langit batik. Cuma makein batik doang, emangnya bisa bikin anak cinta Indonesia? Pengennya sih, sesuai dengan usianya, nanti akan gue sambil ceritain mengenai batik di Indonesia. Kebetulan pas di Sariayu dulu gue cukup banyak mendapatkan ilmu mengenai batiknya orang Indonesia. Cara lainnya dengan partisipasi event Satu Batik Jutaan Jari. Event ini berlangsung hingga 30 April 2012. Caranya cuma upload cap sidik jari si kecil ke fanpage Kebaikan bodrexin saja, nanti sidik jari si kecil akan diabadikan menjadi motif batik tertentu.
Ini salah satu dress bati Langit yang gue bikin dan dipake sejak usia 7 bulan, dan sampe 3,5 tahun masih muat, lho!

Dress: Jahit dong
Shoes: Mothercare

Btw, Mommies Daily sama bodrexin juga bikin kompetisi, lho. Tinggal bikin blogpost di blog pribadi berkaitan dengan batik dan event ini, lalu daftarin link blogpostnya di forum ini. Detail mengenai kompetisi ini juga bisa dilihat di link tersebut. Hadiahnya: Tas Kate Spade!
Hadeeeeh, kabita ini gueee...

Ok, back to topic
Tadi di perjalanan gue sempat mikir, apa orang-orang yang duduk di pemerintahan itu nggak mikir, nggak malu sama hal yang sudah mereka lakukan? Korupsi, misalnya? Atau hanya ingin kedudukan tanpa mau membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Apa mereka nggak mikir bahwa pejuang-pejuang Indonesia dulu dengan begitu gigih mati-matian bela negaranya?
Itu Diponegoro, Jendral Sudirman, dan lain-lain, apa mereka berjuang karena pengen usaha mereka sendiri maju? Pengen rumah mewah? Atau beliin istrinya tas Hermes?
Terus, tiba-tiba gue mellow aja gitu, gara-gara mikirin semua hal tersebut.

Kalau kata Manic Street Preachers, "If you tolerate this, then your children will be next". Apa kita mau, anak kita nantinya jadi orang-orang yang melupakan sejarah perjuangan bangsa? Gue nggak mau anak gue jadi orang yang "gue pindah warga negara aja, males banget sama Indonesia", ih amit-amit, tar ga bisa makan gado-gado setiap hari *dangkal* atau jadi mereka yang mengejek negaranya sendiri.
Indonesia udah banyak leluconnya karena mungkin beberapa generasi diatas kita mendiamkan hal ini. Kalo ga di stop dari generasi gue ini, apa yang terjadi 20-30 tahun ke depan? Jangan-jangan malah udah nggak ada nama Indonesia :(

Mungkin nggak banyak yang gue lakukan untuk Indonesia, makanya gue nggak mau menuntut banyak dulu. Mungkin gue bukan mereka yang turun ke jalan, menyuarakan aspirasi rakyat. Dan gue bukan juga mereka yang duduk di Gedung Senayan sana, yang (harusnya) mewakili rakyat, dipilih oleh rakyat tapi melupakan rakyatnya.

Gue cuma bisa melakukan apa yang harus gue lakukan, bekerja, berkarya (syukur kalau hasil kerja dan karya bisa diakui dan Indonesia banget) plus terus mencintai Indonesia. How about you? :)

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

2 comments:

  1. halo...haloo?
    tes...

    halo lita.lam kenal yah. gwe suka baca blog lo *tapi gag pernah komen :)*
    sungguh gwe terharu baca postingan ini.
    tauk kenapa gwe sering sekali berpikir kalo indonesia itu negara sempurna yang nasibnya disia-siakan *mewek*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haii, thanks for stopping by :)
      Waaah, terharu, ya? Iya, sama sih, gue juga kalo mengingat potensi Indonesia suka sedih dan gemes :(

      Delete