Delapan Hal Tentang Menjadi Ibu

Hari ini, tepat 8 tahun gue jadi ibu. Dari semalam pikiran gue melayang ke masa-masa kehamilan yang amat sangat bergejolak. Sampe sekarang masih bergejolak sih. Haha.

Kalau tahun lalu gue nulis bahwa menjadi ibu berarti menjadi gue yang lebih baik, maka di hari ini, hari ulang tahun Langit yang ke delapan, ada 8 hal yang gue catat tentang menjadi ibu..





Ibu, dunia yang kompleks.
Sebelumnya, dunia gue ya hanya gue. Gue bisa memutuskan berbagai hal secara spontan tanpa harus memikirkan efeknya pada orang lain.
Setelah jadi ibu, permasalahan makin kompleks. Whatever I do, I think about her. Masalah gue udah bukan jadi yang utama. Seiring Langit besar, bukan makin enak. Tapi justru tantangannya makin gede. Anaknya udah sosialisasi. Masalah mulai muncul dalam hidupnya. Sebagai ibu, ya harus bertanggungjawab atas kebahagiaan hidupnya.
So, masalah hidup gue pribadi sekarang dikalikan dua.
Selain itu, jadi ibu juga mengalami perasaan yang kompleks. Seperti hari ini Langit ulang tahun ke delapan. Ada rasa haru di hati gue, "anak gue udah gede ya", rasa ga rela karena anak gue udah gede. Kok cepet banget? Padahal sering bilang ke Langit, "kamu kan udah gede, ayo dong tanggung jawab sama pensil/ buku/ mainannya". Satu sisi mendorong anak lekas besar, di sisi lain nggak rela kalo dia udah besar. Ribet yes?

Ibu, dunia yang kompetitip.
Welcome to motherhood, di mana segala hal dijadikan kompetisi. Mulai dari remeh temeh seperti benda yang dipakai anak sampai kecerdasan dan tumbuh kembang anak.
Kalo nggak woles, bukan nggak mungkin jadi ibu yang mendewakan anak. Anaknya yang ter di semua hal. Agak sedikit kurang waras bisa-bisa..
Kompetisi di dunia ibu nggak secetek zaman SMA. Dulu mah yang kita ikutsertakan ke arena kompetisi diri kita sendiri. Tapi sekarang, anak yang dijadikan bahan kompetisi. Ya walaupun ujungnya yang pengin dilihat adalah keberhasilan kita sebagai seorang ibu juga sih.

Ibu, mengubah prioritas hidup.
Gue seneng kerja. Dan sampe saat ini, kerja atau berkarya adalah bagian hidup gue. Itu identitas gue yang nggak bisa gue abaikan.
Tapi ada yang bergeser. Kalo dulu mau aja kerja dari pagi sampe pagi lagi, sekarang mah jam 8 belum sampe rumah aja udah gelisah. Nggak rela rasanya kalo langit tidur pas gue sampe rumah.
Walaupun kadang ada beberapa saat demi kewarasan gue, gue pulang agak telat untuk sekedar ber-metime ria.

Ibu, belajar bahagia
Dulu, gue moody. Gue bisa sebel atau kesel entah pada hal apapun dan berlarut-larut. Sekarang? Boro-boro!
Ga adil rasanya harus bermuka jutek padahal ada Langit yang meminta gue untuk happy saat diajak main Barbie. Ga mungkin marah terus saat dia banyak tanya.
Sejak hamil, gue belajar untuk menemukan kebahagiaan gue sendiri. Walaupun realita berkata lain, tapi gue percaya sama mantra bahwa ibu yang bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia. Gue nggak mau anak gue nggak bahagia.
So i learnt how to find happiness on my own..

Ibu, komitmen seumur hidup.
Ada sebuah joke yang bilang bahwa ibu adalah pekerjaan 24 jam sehari, 365 setahun tanpa libur DAN NGGAK BISA RESIGN.
Ketika dia tumbuh dalam rahim lo, berbagi darah, nafas, detak jantung, maka sejak itu dia jadi bagian hidup lo. Belahan jiwa, if i can say. Satu-satunya orang yang telah  berbagi tubuh sama gue ya Langit. Sejak saat itu pula tanpa sadar, badan kita melindungi bayi di dalam rahim. Sejak saat itu kita berkomitmen untuk bertanggungjawab atas kehidupannya di dunia ini.
Apa kelar setelah melahirkan? Nggak. Terus jadi tanggung jawab kita sampai nanti menutup mata.


Ibu, mengenal rasa sakit orang lain.
Sejak jadi ibu, gue yang emang dasarnya cengeng jadi makin cengeng kalo melihat penderitaan orang lain. Gue makin mellow apalagi sama hal yang berkaitan dengan motherhood.
Yang utama, gue merasakan rasa sakit kalau Langit disakiti. Gue marah saat ada yang bentak Langit. Gue sedih saat anak gue sakit.
Dulu nyokap sering bilang, "kalo udah jadi ibu kamu akan ngerti deh". Yap mom, now I know what you're trying to say, back then.

Ibu, jadi gue yang lebih baik.
Ini walaupun udah gue tulis tahun lalu, tetap bermakna buat gue pribadi. Namapun manusia nggak ada yang sempurna, tapi buat semua anak, ibunya adalah sosok yang sempurna.

Ibu, gue mengenal cinta.
Cinta itu apa sih? Gue agak susah mendefinisikannya versi gue. Tapi yang gue tau, cinta itu bisa bikin orang melakukan hal yang nggak masuk akal jadi wajar.
Panik saat anak demam..
Berani ngusir kecoak padahal biasanya takut..
Menganalisa pup anak, bahkan membauinya..
Pokoknya hal ajaib yang nggak masuk akal, kita lakukan.

Selamat ulang tahun Langitnya ibu. Mungkin ibumu ini jauh dari sosok ibu sempurna. Tapi insyaallah cinta ibu ke Langit sempurna :)

You're the sky of my universe..

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

6 comments:

  1. aw :")
    selamat ulang tahun Langit. semoga kelak Langit jadi anak yang baik yang dikelilingi hal-hal baik.

    ReplyDelete
  2. setuju sama semuaaa yang elo tulis, Lit.. elo tuh emang "ibu" banget, deh (bedakan dengan frase "ibuk-ibuk" yaa, hehehe). poin yang ini "..belajar bahagia
    Dulu, gue moody. Gue bisa sebel atau kesel entah pada hal apapun dan berlarut-larut" bikin gue jadi nyadar kalo gue belom bisa kayak gitu ;(

    thanks buat kontemplasinya, Litaa. mencerahkan! hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaahaha... Secara cita2 dari SMP jadi ibu yang baik :))

      Makasih Riskaaa :*

      Delete
  3. Betapa beruntung dan bahagianya Langit punya ibu yang ke"ibu"an kayak dirimu Lita... Happy 8th birthday Langit, hope the best for you and your ibu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih tante :*

      Masih belajar banyaaaaaak dari ibu yang lain, masih jauuuuh dr sempurna :)

      Delete