Dunia Maya Bukan Hanya Sosial Media

Banyak dari kita yang punya smartphone tapi hanya memanfaatkan buat update sosial media. Padahal, dunia maya yang udah semakin bikin kita ketergantungan ini banyak banget keuntungannya, lho. Masalah informasi sih udah pasti, ya. Gue suka ngenes kalo liat orang yang bisa gonta ganti status/ profpic tapi masih minim informasi mengenai ASI aja, misalnya.



Selain masalah informasi, keuntungan dunia maya lainnya adalah buat cari duit. Cari duit susah sih, haha, tapi maksudnya makin banyak dan mudah cara mendapatkan penghasilan tambahan kalo kita mau jeli dan cerdas ambil kesempatan.

Ada beberapa cara menambah penghasilan di era digital ini, misalnya:

Punya bisnis online
Gue pernah beberapa kali nyoba jualan secara online, tapi kayanya emang nggak bakat aja jualan. Hehe.
Beberapa tahun lalu jualan online masih manfaatin website atau forum ternama yang huruf depannya K itu. Dulu pun kalo mau jualan harus keluar modal buat beli barang. Makin ke sini, makin gampang aja jualannya. Berbagai macam platform bisa dimanfaatkan buat dagang online.

Ada yang spesial buat dagang, nggak sedikit juga yang memanfatkan media sosial buat dagang. Dagang di Facebook, Twitter sampe yang paling menyenangkan buat gue sebagai konsumen adalah pedagang di Instagram. Soalnya enak, gambar semua. Haha.

Terus bicara mengenai modal, ada juga yang dagang ga pake modal karena dia sifatnya jadi perantara. Si pemilik OLS tinggal posting foto yang udah disediakan supplier, terima pembayaran lalu ngurus pembelian ke supplier deh. Pengiriman dkk diurus sama supplier juga. OLS tinggal duduk manis, dapat untungnya kecil juga ga masalah, secara cuma posting dan modal kuota internet doang. Tinggal pinter-pinter cari lobang alias supplier yang harganya paling murah kan.

Bisnis online nggak hanya buka toko, tapi juga ada beberapa jenis lainnya. Gue sering lihat tuh di feed media social gue yang modelan kaya MLM gitu. Di antara sekian banyak bisnis online yang berseliweran di media social, ada satu yang menarik perhatian gue yaitu Zalora dengan Brand Ambassador Program-nya. Inti dari Brand Ambassador Program ini sih, merekomendasikan produk Zalora ke teman/ kerabat kemudian dapat komisi. Macam sales gitu kali ya, tapi via sosmed yang memang jadi basis pergaulan anak muda zaman sekarang (iya, gue udah ibu-ibu sih). Menyenangkan ya? Gue udah daftar sih, lumayan juga secara sering belanja di Zalora. Hehe.



Gabung dalam komunitas

Zaman sekarang yang namanya komunitas gampang banget dicari di dunia maya. Mau cari komunitas yang mainstream seperti olahraga lari sampai yang niche banget macam komunitas penyuka foundation atau lipstick (coba mampir ke femaledaily deh, bahagia banget nemu yang sakit jiwanya sama). Tinggal Googling jenis komunitas yang dicari, voila! Muncul di mana-mana.

Ikut komunitas, pastinya bisa nambah network. Nah, dari jaringan inilah kita bisa menambah penghasilan. Misalnya gue nih, kerja di bidang kreatif. Terus di komunitas yang gue ikuti ternyata ada butuh penulis naskah film, dia mintalah gue yang nulis, dan seterusnya. Hari gini, mau nambah penghasilan tapi ga mau networking, ya ke laut aja (ga tau kenapa harus ke laut, sih gue).

Masalah komunitas belakangan ini memang lagi jadi bidikan banyak brand. Karena dengan masuk ke komunitas, tujuan si pemilik produk sudah jelas sasarannya. Mau jualan mobil, ya masuknya ke komunitas otomotif (kecuali mobil keluarga, bisa deh tuh masuk ke komunitas ibu-ibu).

Jadi buzzer!

Haha. Yang terakhir ini sekonyong-konyong ya. Hangat deh pembicaraan mengenai ini.

Menurut gue untuk menjadi buzzer, pertama-tama adalah lo harus bisa memengaruhi orang lain dalam mengambil keputusan. Kalo dasarnya udah jadi arteis atau seleb sih, gampil. Nah gimana kalo gue yang macam remah-remah rempeyek di dalam kaleng Khong Guan? Ada satu dua yang beli produk atau melakukan sesuatu kemudian mention gue sebagai pemberi rekomendasi aja rasanya udah hepi banget! *anaknya easy to please*

Menjadi seseorang yang bisa memengaruhi orang lain atau influencer atau buzzer nggak semudah membalikkan telapak tangan. Ada yang sudah direncanakan sedemikian rupa citranya supaya perfect untuk dijadikan contoh/ role model tapi ada juga yang mengalir begitu saja.

Gue pribadi, lebih suka sama influencer yang apa adanya. Maksudnya, ya nggak dibuat-buat aja gitu. Nggak ngikut-ngikut gayanya influencer lain (lah situ kan influencer, harusnya meng-influence orang lain dong). Nggak tau ya, kalo gue sih suka berasa aja saat seseorang gayanya dibuat-buat atau nggak tulus. Hehe.

Jadi buzzer atau blogger dan menghasilkan, buat gue yang hobi nulis adalah hal yang menyenangkan. Gue hobi nulis, gue hobi merekomendasikan sesuatu (barang atau tempat), lalu dibayar. Asik, kan? Nanti gue tulis hal ini terpisah deh! (kayanya gue sering ya janjiin hal ini, haha, tapi kelupaan mulu).


Ada lagi nggak sih cara lain menambah penghasilan di era digital begini? Itu 3 yang kepikiran sama gue, kalau ada silakan tambahin di comment box ya!

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

2 comments:

  1. nah, berarti yg punya anggapan orang yg aktif banget di dumay itu orang yg suka galau SALAH BESAR ya mbak

    ReplyDelete