The Bright One

Sadar dong, di setiap keluarga pasti ada 'the bright one'. Yang kehidupannya berjalan mulus, prestasi sempurna, the one we can hold on, kehidupannya nyaris tanpa cacat.
In my case, my sister is the bright one.
She's a straight A student, sebagai kakak, tentu semua orang berharap gue menjadikan dia panutan. Sekolah, gue selalu menjadikan kakak gue patokan, SMP yang ia masuki, gue juga harus masuk situ. Ternyata nggak. Ndilalah, pas SMA, entah dapat keajaiban darimana, NEM gue lebih bagus. Tentu berharapnya bisa masuk SMA yang sama. Eh ternyata nggak. Demikian dengan kuliah, kakak gue lulus UMPTN. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang sederhana, udah pasti bokap nyokap berharap gue dapat negeri juga. Eh, ternyata nggak.
Pekerjaan, bisa dibilang, sedikit banyak terpengaruh dari kakak gue. Tapi kalo ini, kebetulan sejak sekolah, gue cukup bisa dibanggakan untuk hal yang berurusan dengan Bahasa Indonesia dan menulis, eh tepatnya mengarang! Jawaban-jawaban soal ulangan gue itu kebanyakan improvisasi! :)) Nah, bermanfaat kan, untuk pekerjaan gue yang kebanyakan berkaitan sama dunia menulis.
Tapi ya itu, kakak gue bisa betah dalam 1 lingkup kerja bertahun-tahun. Sementara gue? Senang mencoba tantangan baru :D
Love life. Hadeeeeh, udah deh, my sister never fall in love with a wrong man. Semua yang dia bawa ke rumah ibaratnya udah lolos QC :))
Sementara gue, berkali-kali kenanya sama bad boy. Sekalinya pacaran sama yang bener, gue-nya ga bener :))
Kehidupan pernikahan pun, mungkin gue cuma melihat dari luar, ya. She's got all, alhamdulillah. A very nice husband, a pretty daughter, sekarang jadi jago masak, dst dsb.
Sementara gue, bolak balik berantem. Eh, alhamdulillah, bolak balik setidaknya masih ada kata 'balik', ya? :D
Mungkin kalo kakak gue bikin blogpost tentang gue, judulnya 'The Rebellious One' :D
Ada yang pernah baca komik Seven Magic? Nah, disitu Nana kan selalu 'membedakan' dirinya dengan Yuri, kakak kembarnya yang cantik, lemah lembut, dst. Gue sih, ngakuin aja, sepertinya itu yang terjadi sama gue.

Kami dekat, dekat sekali. Nyokap 'memaksa' kami untuk sekamar seumur hidup kami. Mungkin ini yang bikin gue deket banget sama kakak gue. Berantem? Sepanjang ingatan gue (yang kebetulan ga terlalu panjang ini), yang paling parah cuma pernah 1x. Penyebabnya apa, gue lupa *tepok jidat*. Sisanya, paling berantem gegara ga mau matiin lampu atau cabut charger handphone.
Dulu jaman masih liputan suka ketemu di lapangan, kami pasti barengan duduknya lalu terlibat obrolan seru. Ga sekali dua kali orang-orang nanya, "kalian di rumah nggak ketemu ya?" :p
Saat udah nggak ketemu liputan, jangan sedih, kami clubbing bareng, main billiard, karaoke, nongkrong sampe subuh, dst dsb. Kalo orang-orang suka pada bilang temenan udah kaya sodara, nah gue kakak ade tapi udah kaya temenan :)
Eh, kalo ada yang baca blogpost ini dan anggap gue iri sama kakak gue, kalian salah buesaaaar.. I'm proud of her. Beneran!
Di atas gue bilang, the we can hold on to. Well, she's the one I can hold on to. Kalo ga karena dia, gue mungkin akan menikah dengan orang lain. Kalo bukan karena dia (dan suaminya yang superb) mungkin saat ini gue udah tinggal sama orangtua gue lagi.
Saat gue diajakin kawin, yang pertama gue kasih tau, ya kakak gue. Bukan sahabat, bukan nyokap. Banyak banget hal yang terjadi dalam hidup gue karena kakak gue.
Mungkin satu-satunya hal dimana gue bisa 'mengalahkan' dia adalah, tanggal kawin dan punya anak duluan :D
I know you love me, sis, but you know i love you even more :*
*judul blogpost ini udah lama ada di otak, tapi bingung isinya tentang apa. So, you are my inspiration :D
sent from my Telkomsel Rockin'Berry®
















Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

No comments:

Post a Comment