Cerita Keluarga Penggemar Makanan Pedas



"Aduh, ini nggak ada pedas-pedasnya"

Langit sering banget ngomong kaya gitu kalau lagi makan yang menunya nggak pedas. Ah dasar, anak Sumatera! Banyak yang suka ngomong gitu. Padahal nggak juga, bukan karena bapaknya orang Sumatera, tapi juga karena gue doyan BANGET pedas.

Waktu Langit 1 tahun, dia udah gue cicipin rendang. Rendang kan nggak pedas, ya, hanya bold gitu rasanya. Terus gue pernah ngomong asal, "Ntar Langit kelas 1 SD paling enggak udah bisa makan Bebek Slamet pake sambal korek deh". Eh bener dong, kejadian. Kelas 1 SD udah makan sambel koreknya Bebek Slamet yang pedas banget itu, dan sekarang kalo makan nggak pake sambal, nggak semangat makannya. Ini serius, lho. Langit itu pernah bermasalah sama teman-temannya di sekolah gara-gara dikatain makannya lelet, haha. Terus gue tanya kan, emang makannya selama itu ya, Langit? Kenapa selama itu makannya? Jawab dia, "Karena nggak ada sambel" 😂

wajib ada di rumah :D

Kok bisa? 
Ya bisa aja. Seperti yang gue sebut di atas, karena doyan pedas jadi masakan di rumah selalu yang ada pedas-pedasannya. Kalo nggak ada menu pedas, harus ada sambal. Jadi mungkin Langit udah biasa ya, sama percabean. 

Kapan sih, anak boleh dikenalin sama makanan pedas?
Kalo gue baca dan secara logika, sih, di usia 2 tahun udah boleh tuh dikit-dikit dikenalin sama rasa pedas. Usia 2 tahun biasanya anak sudah terbiasa makan berbagai macam makanan. Jadi harusnya sih, udah lebih kuat, ya, pencernaannya.

Tapi makan pedas kan bisa panas dalam!

Nah, memang selain masuk angin, salah satu 'penyakit'yang sering kita suuzonin adalah panas dalam. Sariawan, pasti panas dalam. Bibir pecah-pecah, panas dalam. Tenggorokan meradang, panas dalam. Pokoknya semua karena panas dalam! 

Kalo gue baca-baca beberapa artikel, dalam medis penyakit panas dalam itu nggak ada istilahnya. Tapi memang di Indonesia istilah ini populer untuk kondisi di mana tubuh kita terasa panas atau kering di dalam, sehingga muncul kondisi fisik yang gue sebutin di atas. 

Alhamdulillah buat gue, walau Langit [dan kami sekeluarga] doyan pedas, tapi untuk jenis makanan lain seimbang. Konon penyebab panas dalam juga kalau makanan nggak seimbang antara yang tipe panas dan dingin. Nah, Langit doyan sayur. Nggak jarang, dia tuh makan sayur hanya mau sayur rebusan. Misal brokoli ya direbus gitu aja, buncis kek, wortel, dan sebagainya. Buah juga doyan banget. Sampe harus dibatasin, karena kalo enggak bisa kekenyangan makan buah doang. 

Minum air putih juga penting. Kecukupan minum air putih kan ada rumusnya. Nggak semua orang wajib minum 1 liter putih setiap hari. Yang beratnya 30kg tentu kebutuhannya akan air putih beda dengan yang beratnya 70kg. Rumus mudahnya untuk mengetahui berapa air putih yang dibutuhkan oleh tubuh adalah: berat badan dibagi 30. Jadi kalau berat gue 45kg [yearite], maka 45:30= 1,5. Maka gue butuh 1,5 liter air per hari.

Untungnya Langit termasuk yang doyan minum. Apalagi kalo minumnya “yang asik-asik”. Ini istilah dia untuk jenis minuman yang enak seperti susu, jus, dan Cap Kaki Tiga. Ini mah beneran. Kadang nggak lagi panas dalam juga minta minumnya ginian. Secara ya, Cap Kaki Tiga yang buat anak kan banyak pilihan rasa [dan rasa buah pula, secara anak gue doyan BANGET buah], jadi kalo diminum dingin emang segar banget.



Gue sih setelah jadi ibu kan jadi merhatiin kandungan makanan/ minuman kemasan, ya. Nah, Larutan Cap Kaki Tiga kan juga mengandung mengandung mineral alami (gypsum fibrosum dan calcitum) yang dapat mencegah dan mengobati panas dalam. Selain itu, kayanya Larutan Cap Kaki Tiga ini udah jadi top of mind gue buat obat panas dalam deh. Secara Larutan Cap Kaki Tiga sudah 80 tahun di Indonesia, bok. Nggak heran Larutan Cap Kaki Tiga jadi tepercaya turun temurun, malah kayanya sejak gue masih kecil udah minum ginian, deh. Nggak heran kan, kalo Cap Kaki Tiga klaim sebagai ahlinya panas dalam.

Yang nggak kalah penting juga buat gue nih, Larutan Cap Kaki Tiga telah mendapatkan sertifikat MUI dan telah terdaftar resmi di BPOM RI.

Dengan segala penjelasan tersebut jadi ya nggak apa-apa Langit minum itu. Daripada anak gue minum minuman kemasan yang gulanya tinggi dan nggak jelas? 

Nggak cuma Langit yang doyan Cap Kaki Tiga, gue juga sih. Soalnya mengonsumsinya kaya effortless aja. Varian yang nggak ada rasanya,  anggap aja minum air putih. Sementara varian yang ada rasanya? Ya anggap aja menyamankan penyakit dengan minuman yang asik. Kenapa nggak? 

Anyway, kalau dengar komen-komen mengenai hobi Langit yang doyan makan pedas ini lumayan seru sih. Mulai dari yang serius seperti, “Nggak ngeri tuh, anaknya doyan pedas gitu?”, sampai komentar ala #IbuBijak, “Enak ya, penghematan kalo masak di rumah nggak perlu dipisah-pisah”. Hahaha.

Buat gue yang penting jangan berlebihan, kan. Langit juga saat ini udah di tahap tahu sepedas apa dia boleh makan dan kapan harus berhenti kalau kepedasan. Kalau dulu, begitu ketemu makanan pedas...
 
palm face

Ada yang anaknya doyan pedas juga kaya Langit?

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

No comments:

Post a Comment