Mom's War



Tujuh tahun jadi ibu, gue baru sadar bahwa kompetisi zaman SMA dulu nggak ada apa-apanya. Dunia ibu, harus kita akui dengan lapang dada, adalah dunia yang penuh kompetisi.

Pertanyaan "Kapan nikah" yang mungkin pernah terlontar pada kita beberapa tahun lalu dan bikin kita super galau, jadi terasa seringan kerupuk putih yang konon kalo dibakar warnanya hitam berarti mengandung plastik. Pertanyaan/ pernyataan "Anaknya ASI ga" atau "Anak gue udah bisa jalan umur 10 bulan", nah ini baru yang bisa bikin galau ga bisa makan bahkan sampe keluar duit banyak buat konsul sama para ahli.

Klaim bahwa, ibu pasti mau yang terbaik buat anaknya, kemudian jadi pembenaran. Ya, udah pasti ada benarnya sih. Ketika menjadi orang tua, secara psikologis kita pasti pengin anak mendapatkan kehidupan yang lebih baik dibanding kita dulu waktu seusianya. Makanya kemudian, hal yang kita inginkan waktu kecil, kita luapkan ke anak.



Anyway, di dunia ibu diam-diam ada beberapa Mom's War yang abadi. Di blogpost ini, gue bahas 2 aja ya. Yang paling hits sepanjang masa.



Sebelum ASI versus Sufor sebenarnya ada juga sih lahiran normal versus sesar. Gue jadi inget dulu pernah nyemprot rekan kerja yang padahal posisinya dia lebih senior daripada gue dan laki-laki pula, gara-gara dia bahas mengenai perempuan baru ngerasain jadi ibu kalau udah melahirkan normal alias vaginal. HELLLOOOOOH? Langsung gue kasih kuliah 3 sks di tempat. LOL.

Dari zaman dulu, yang namanya bayi sih disusuin sama ibunya. Kalo yang gue baca-baca, susu formula baru gencar beriklan di era 60-70-an (udah lama juga ya?) sampai saat ini. Marketing mereka emang dahsyat banget sih. Bukan hanya budgetnya yang gila-gilaan, tapi konsepnya juga bikin para orang tua (terutama ibu) ngiler. Misalnya, pemilihan bayi sehat montok bin lucu yang dikemas sedemikian rupa sehingga orang tua tertarik mendaftarkan anaknya. Atau menggunakan jasa tenaga kesehatan sebagai jubir (“susu ini bagus bu”, atau ujug-ujug dibekelin susu merek tertentu sepulangnya dari RS).

Beberapa tahun belakangan ini, ASI menjadi isu yang seksi di kalangan para orang tua. ASI menjadi kekinian. Semua orang tua seperti ‘malu’ kalo nggak ngasih ASI. Buat gue, ini adalah hal yang menggembirakan sih. Hehe.

Nggak usah lah kita bicara kenapa harus ASI? Keunggulannya, lo bisa liat di web AIMI atau tinggal ketik di Google ‘manfaat ASI’ atau ‘breastmilk benefit’ beribu-ribu tulisan yang membahas tentang keunggulan ASI tersedia. Justru yang harus ditanyakan adalah, Kenapa harus nggak ASI?

Kalau membaca tulisan gue di sini atau hasil tulisan gue di Mommies Daily dulu, pasti lo bakal kira gue ASI militant. Garis keras. Bakalan mengucilkan mereka yang kasih sufor. Well, salah besar.

Gue ‘membela’ ASI karena memang itu yang terbaik. Tapi kalau dalam praktiknya seorang ibu (teman, sahabat, kerabat) nggak bisa kasih ASI, ya masa lantas gue musuhin? Nggak sepicik itu. Gue yakin setiap orang pasti ada alasan saat memutuskan sesuatu. Walaupun, biasanya gue akan encourage untuk tetap prioritas memberikan ASI yaaa…

Gue sebel sama trik marketing sufor. Nggak usahlah bentuk promosinya yang keren banget itu, tapi gue sebel kalo mereka melibatkan tenaga kesehatan. Secara ya, banyak orang tua baru yang suka clueless dan desperate pasca melahirkan. Apalagi kalo ditambah ditakut-takutin bakal terjadi sesuatu pada newborn mereka.

“Kalo ASI nggak keluar, bayi bisa kuning. Kuning itu bisa menyebabkan kejang, blablabla..”. orang tua baru mana yang nggak panic digituin? Nah, trik ini yang gue sebelin. Yang ada orang tua baru parno, atau kalo yang udah kenyang sama info ASI malah jadi nggak percaya lalu beneran terjadi apa-apa sama bayinya. Kan kasihan L

Anyway, ‘perang’ yang satu ini menurut gue memang harus ambil sikap. Dukung sama sekali atau tidak. Nggak bisa setengah-setengah.

Working Mom versus Stay At Home Mom

Ini juga perang abadi. Dan buat gue yang nyebelin adalah ketika mereka yang nggak pernah jadi working mom (yes, termasuk kalian bapak-bapak), ikutan unjuk suara mengenai hal ini. Atau malah isu ini dimanfaatkan oleh bisnis MLM jadi strategi promosinya.

Seperti yang pernah gue tulis di sini, sini, dan sini, nggak usah ditanya “Emang nggak merasa salah ninggalin anak?”, nggak usah ditanya atau diingetin deh. Udah sepaket. Emang jadi SAHM nggak pernah merasa bersalah juga? Gue yakin, pernah.

Jadi ibu itu perasaan kita jadi kompleks. Ya rasa sayang berlebih, protective, kompetitip, sampe rasa bersalah. Nggak apa juga punya rasa bersalah, anggaplah itu sebagai alarm pengingat. Kalo lo nggak pernah merasa bersalah, berarti lo merasa selalu benar dong atas tindakan lo? Not good. Manusia nggak ada yang sempurna kak.

Untuk urusan WM versus SAHM, buat gue yang kebetulan pernah menjalani keduanya, adalah hal yang sama-sama berat. WM yang udah lelah pikiran, tenaga, waktu (perjalanan kantor-rumah saat ini kan di Jakarta sangat luar biasa) terus masih harus ‘bertugas’ di rumah juga. SAHM yang dikiranya santai-santai saat anak di sekolah, padahal seharian a lot things to do. Nggak ada yang ringan deh.

Kalo SAHM lihat socmed WM yang makan siang di mana, keseruan saat bekerja pasti mengiranya “Asik banget sih bisa seneng-seneng sama teman terus”, padahal di sela-sela menyiapkan presentasi, seorang WM harus membimbing anaknya mengerjakan PR lewat telepon.

Atau ketika WM lihat socmed SAHM yang lagi asik pelukan saat jam kerja, pasti jadi kangen anak dan iri karena SAHM bisa sama anak setiap saat. Padahal mungkin setelah foto itu diambil, SAHM baru saja menyelesaikan setumpuk setrikaan atau mobilnya mogok saat mau jemput anak di sekolah.

WM versus SAHM menurut gue Mom’s War yang nggak penting. Beda banget level urgency-nya sama ASI versus sufor. Semua ibu pasti mengemban tugas dan tangungjawab yang sama; mendidik anak bagaimanapun caranya. Status apapun menurut gue nggak akan mengubah citra seorang ibu di mata anaknya. Lo SAHM, 24 jam di samping anak tapi selama di sampingnya lo main hp mulu, judes sama anak, melontarkan kalimat-kalimat meremehkan terhadap kemampuan anak, apa lebih baik dari WM yang hanya ketemu anak 5 jam per hari tapi penuh suka cita? 

Baca blogpost mrsalwaysright yang ini deh. Cakep!

Ibu, ya ibu. Nggak peduli apapun statusnya.



Mom’s war menurut gue, penyebabnya ada 2 saja. Hal ini baru gue sadar pas kemarin diwawancara on air sama Radio B Bandung tempatnya salah satu perempuan kesayangan gue,@Sazqueen, pernah siaran.

Pertama, basic-nya kita memang suka nge-judge orang lain. Ada ibu yang main hp waktu di playground sementara anak sama baby sitter, langsung judge “Ibu macam apa tuh anaknya malah main sama BS?”, padahal sapa tau kalau di rumah anaknya justru nggak bisa lepas dari ibunya. Kalo di luar rumah sang ibu baru mendapatkan privilege pegang hp. Atau siapa tau si ibu lagi watsapan serius sama sahabatnya yang lagi curhat mengenai suaminya yang sakit keras. Menjadi ibu bukan berarti kita berhenti punya teman kan? Kita nggak pernah tau kisah di balik itu semua.

Ke dua, era socmed membuat kita bisa dapat info mengenai orang lain lebih detail. Nggak hanya sekedar OOTD, bahkan sampai lantai kamar mandi dia warnanya apa aja kita tau. Selain itu, di era socmed sekarang ini, kita merasa lebih mudah ‘menyuarakan’ pendapat kita. Mau kita kunci sekalipun akun socmed kita,selama ada teknologi screen capture, semuanya bisa viral. Nggak usah socmed di mana kita pasti berteman dengan lebih dari 50 orang, watsapan pribadi aja bisa kesebar kok!

Seperti yang pernah gue bahas di sini deh. Baca ya, biar paham *tsieh promo*

Akhir kata dari tulisan panjang lebar ini adalah, piss, love and gaul aja deh yuk buibu! Yang kita jalanin nggak lebih ringan daripada ibu lain, tapi juga yang kita jalanin nggak lebih berat daripada ibu lain. Semua ada bebannya, semua punya bahagianya. We never know what’s behind the closed door.

Peluk hangat buat semua buibu di luar sana! Akhir tahun serius amat tulisan gue, haha. Semoga di tahun-tahun ke depan, sesama ibu dilarang saling mendahului ya!


Girls compete with each other, while women empower one another!




Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

26 comments:

  1. aku juga, suka dianggap ibu asi garis keras, padahal gak segitunya. sama kok alasannya, kenapa dukung asi karena itu yang terbaik.

    dan kalau soal ngejudge, aku tertohok banget.. sadar gak sadar kadang masih suka gitu sih. padahal gak boleh yaaa :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga apa2 juga, namanya juga manusiawi :D alamiah itu mah, hahaha...

      Delete
  2. Saya belum menikah dan belum punya anak. Tapi juga berani nyemprot temen yang mendewakan lahiran normal dan bad-mouthing tentang ibu yang lahir cecar karena dia ngelahirin normal. Padahal who knows (amit-amit) kalo punya anak kedua gak ada opsi selain harus cecar. :(

    Sedih sama kenyataan bahwa memang kita manusia sering men-judge orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, ya kadang2 suka mau cuek tapi kalo u dh nyemprot rasanya lega ya.. Hahaha..

      Delete
  3. Pucing ya jadi ibu-ibu. Lebih pusing daripada jadi anak SMA x))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak SMA pucingnya kalo lupa ngerjain PR atau gebetan nggak nelp ya Sis :))

      Delete
  4. Bacaan yg saik cuy! \m/ gw prnah jd wm dan skrg sahm. Yg doyan ngejudge pasti nanti kena momennya sndiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyak, tapi da gimana ya, gue mah ngakuin suka reflek judging. Emang harus banyak2 nahan diri.. Thank you cuy:*

      Delete
    2. Gue jg sih kadang2....wkwkwkwk tp judgingnya minim kok ga sampe dikupas2 #pembelaan. Alamnya manusia kali ya cuy emg suka judging

      Delete
  5. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  6. seharian sama anak tapi sering main hp wkwkwkw..itu sering gw lakukan trus diprotes ma anaknya hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. Nah kalo anaknya udah bisa protes, tantangannya lebih berat yaaaa..

      Delete
  7. Huahahha..ibu2 ini emang hebat banget persaingannya ya mbak. Prinsipku, kalo dia sibuk nyari kejelekan pilihan orang lain (kasusnya sahm or wm) berarti dia lagi insecure sama pilihannya, jadi dia meyakinkan diri kalo pilihan yg satunya tuh lebih buruuukkkk dari pilihannya. Sayangnya,disuarakandi medsos 😁

    Kalo soal ASI, dulu aku sampe berantem sama mama dan mertuaku karena ngotot untuk ASI aja at least sampe 6 bulan, tapi setelah 11 bulan coba ASI tanpa sufor, aku nyerah karena hidupku jadi kurang tentram..hahah,pindah kerja, adaptasi lagi bikin asiku yg pas2an makin seret aja kakak. Aku stres banget dan akhirnya memutuskan campur sufor setelah 11 bulan (jadi curhat saya). Sampe sekarang tetap dukung ASI sbg yg terbaik, tapi semakin memahami mgkn ada kondisi yang lain yang membuat ibu lain tdk bs ASI.

    Tfs Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whoaaa... nah ini kan salah satu dari banyak cerita di balik sebuah keputusan. Thanks for sharing juga mbak :)

      Delete
  8. Seruuuu! Haha apa baedah, kalo boleh nambahin penyebabnya satu lagi sih menurut saya: the need for recognition. Terkadang para ibu itu ingin diakui bahwa mereka memberi yg terbaik. That is why. Kalo mereka gak perlu pengakuan itu, mo orang nyela apa kek ya dia cuek aja gak akan ikut kesulut dengan bikin barisan sendiri. Hihi. Imho ya ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju! Kalo seseorang udah content sama dirinya sendiri, rasanya nggak butuh the need of recognition ya. Percaya aja sama diri sendiri bahwa udh kasih yang terbaik ke anak dan keluarga :)

      Delete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. gw pernah ngejudge orang yang nekat ujan2an bawa anak naek motor. ealaah kejadian di gw karena kepepet harus pulang ujan2an ama bocah, gapapa ujan2an biar sampe rumah lgsg mandi, balur telon dll, drpd neduh yg pd saat itu masuknya ke buang waktu. dari situlah gw mikir2 kalo mau ngejudge, ya mungkin dia ada alesan yang make sense, sekalipun ga make sense juga bukan urusan gw. kalo deket mah gw kasih tau, kalo jauh dan kebayang ga ngaruh ya cuekin saja.

    gw yg skrg sahm juga ngerti bgt lah susah senengnya jadi wm. intinya mah kita ga tau behind the scene nyah.

    sahm kok ol mulu, ya kali dia jualan juga, ato ig an sambil di toilet, sambil masak bahkan. wm kok jalan2 mulu, ya kali tiap beberapa jam dia telp anaknyah, wa an ama anak yg udah bisa ngetik, gantian ama suami apa sodara jaga anak.

    kaya bener aja dah gw comment nyah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya ya, kita asik2 ngejudge orang eh ga taunya tanpa kita sadari kita ngelakuin juga. Fufu.. Namapun manusiaaa..

      Delete
  11. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete