10 Questions to: Wawaraji, When You Lose Someone, You Gain An Angel..



Suatu hari, gue buka timeline di facebook dan mendapati status seorang sahabat yang kehilangan putri tercintanya. Kaget bukan buatan karena beberapa tahun yang lalu, Wardah Fajri, sahabat yang sedang berduka, pernah berbagi cerita tentang kegiatannya sebagai jurnalis dan ibu ke gue waktu kami liputan bareng. Wawa juga cerita perjuangannya setelah melahirkan.

Setelah beberapa lama, akhirnya gue beraniin diri untuk minta Wawa share mengenai ceritanya dan putri kecilnya Dahayu yang pemberani. This is gonna be a looong post, but trust me, it is worth to read. Gue nggak mengedit sama sekali karena nggak mau mengubah apapun dari cerita Wawa dan terutama kenangan yang ia miliki :)

So here it is.. 




Wa, bisa cerita sedikit tentang kepergian Dayu?

Dahayu meninggal setelah dirawat dua hari di ruang rawat inap dan empat hari di ICU. Enam hari di RS. Enggak ada gejala yang mengkhawatirkan, maksudnya Dahayu enggak sakit, baik-baik aja, ceria seperti biasanya, dan masih main dengan kakeknya Minggu pagi. Minggu siang 31 Juli 2016, Dahayu muntah-muntah, saya diberi kabar pengasuh dan neneknya di rumah sementara saya sedang bekerja hadiri acara di CFD pagi-pagi sekali. Pagi saat berangkat Dahayu juga enggak menunjukkan tanda sakit. Siang hari saya pulang terlambat, dari janji ke Dahayu pulang jam 12 saya tiba pukul 14:00 dan Dahayu sudah muntah, tidak mau makan, badannya lemas, mau minum teh dan air putih, masih bisa bicara minta minum, tapi muntah tak berhenti, dan makin lemas badannya. 

Saya panik karena suami enggak ada di rumah, dan memutuskan ke RS bersama pengasuhnya. Langsung ke UGD. Diambil darahnya dan saya minta rawat. Dicarikan kamar inap dan dirawat. Dalam perawatan dengan prosedur normal (infus), Dahayu mulai berhenti muntah dan masih bisa ngocehnamun sulit sekali minum oralit yang disarankan tenaga medis. Senin pagi Dahayu mulai diare tidak hentinya. Saya sempat pulang ke rumah untuk bersihkan badan, suami di RS, sambil terus berkabaran bahwa Dahayu enggak berhenti diare. Saat suami harus urus BPJS, saya ganti jaga, diare Dahayu enggak juga berhenti dan dia sudah mulai lemas, mulai diam tak bersuara. Saya makin khawatir, merasa ada yang salah dengan kondisinya. Saya bangunkan dan dia lemas sekali, bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya, pandangannya nanar, saya panggil tidak merespons.
Sampai akhirnya sore dia kejang, tanpa panas. Saya panik, suami akhirnya tiba di RS, saya panik karena saya merasa perawat tidak menangani dengan tepat, mungkin karena saya panik karena Dahayu tidak pernah ada riwayat kejang dari lahir hingga 3 tahun usianya. Dahayu berkali-kali kejang, meski sudah ditangani obat. Dan mulai malam itu tidak sadar, terus keluar lendir dari mulut dan hidungnya. Dahayu sudah tidak sadarkan diri, tidak bisa diajak komunikasi dan mulai dipasang selang oksigen dengan lendir terus keluar dari mulut dan hidung. Saya makin khawatir karena hanya ditangani di ruang rawat inap bisa. Saya mulai memikirkan pindah RS dan bertanya prosedurnya ke dokter. 

Selasa pagi saya makin khawatir, mulai bertanya sana sini cari RS yang bisa menampung tapi tidak berhasil. Saya minta dokter untuk masukkan Dahayu ke ICU demi perawatan lebih intensif tapi kata dokter belum ada indikasi yang mengharuskan dia ke ICU. Saya makin khawatir sambil terus berpikir dan diskusi dengan suami apa yang sebaiknya dilakukan. Akhirnya kami pasrah menyerahkan pengobatan sesuai prosedur RS dan dokter di RS itu.

Selasa siang Dahayu gagal nafas di ruang rawat inap, dan akhirnya dokter jaga merujuknya ke ICU. Selasa siang Dahayu masuk ICU. Perawat ICU bilang Dahayu masuk ke ICU dengan kondisi gagal nafas dan tidak sadar diri. Dokter di ruang ICU menjelaskan Dahayu Shock Septik infeksi menyebar ke seluruh tubuhnya, itu penjelasan singkatnya yang saya pahami. Yang pasti kondisinya tidak sadar dengan alat bantu nafas dll terpasang. Malam hari dokter ICU dokter penyakit dalam menjelaskan kondisinya kepada kami orangtuanya, dan dijelaskan kondisinya memburuk. Saya shock. Saya menangis di kamar mandi. Tidak menyangka secepat itu semuanya terjadi dan Dahayu dirawat di ICU dengan kondisi yang saya enggak sepenuhnya bisa pahami, ada apa, kenapa. Shock septik adalah kata-kata yang saya ingat. Berhari-hari tidak banyak perubahan. Keinginan untuk pindah RS juga urung dan tidak memungkinkan. Sampai akhirnya saya mendapatkan penguatan dari dokter saraf anak dokternya Dahayu, yang baik hati mau menjadi konsultan. Kami urus prosedurnya. Dan atas arahannya kami pasrah Dahayu sebaiknya tidak pindah RS dan terapi obat sesuai prosedur. 

Jumat kami dapat info kondisi Dahayu memburuk. Sabtu pagi saat saya baru kembali ke RS dari rumah (saya pulang malam Sabtu karena merasa sangat lelah, sangat lelah, dan memilih tidur di rumah, mandi, ganti pakaian) berencana Sabtu pagi mau bertemu dokter saraf anak Dahayu untuk konsultasi. Belum sempat ke dokter anak saraf di tempat pratiknya di Pondok Pinang, Dahayu pukul 6,30 kritis, saya tiba di rumah sakit dengan kondisi ayah Dahayu sudah di sampingnya dengan selang sudah dilepas dan Dahayu dibantu nafas dengan pompa dari tangan suster. Kami pasrah, berusaha melepas, karena dokter sudah menyatakan mati batang otak. Saya memastikan ke dokter saraf anak melalui telepon, apa yang terjadi, apakah sudah maksimal usahanya, pengobatannya, dokter bilang sudah, dan meminta saya bersabar.

Keputusan ada di kami, orangtuanya, untuk ikhlas melepas. Begitu suster kami minta berhenti memompa, maka Dahayu sudah tidak ada karena seluruh fungsi organnya sudah tidak berfungsi. Mati batang otak, dengan diagnosis awal masuk ICU shock septik. Hanya itu yg bisa saya pahami dari kejadian hari itu. Kami sudah tidak mempertanyakan apa-apa lagi ke RS dan dokter, dan menerima bahwa sudah waktunya Dahayu pulang, dan ini yang terbaik menurut Allah untuknya.

Banyak teman yang bilang bahwa Wawa sangat tegar saat itu. Apa yang bisa bikin Wawa tabah?

Saya bisa dan selalu bilang Allah yang bikin kami tabah. Mungkin klise atau terkesan apa. Sok tegar atau apa. Tapi memang itu yang kami rasakan. Rabu dini hari setelah beberapa jam Dahayu masuk ICU, setelah dokter ICU bilang kondisi Dahayu memburuk, saya dan suami bicara berdua dari hati ke hati, berusaha memahami apa sebenarnya yang sedang kami hadapi, kami bicara banyak dan menangis berdua di ruang tunggu ICU. Kami enggak tau mesti gimana, tapi kami sepakat kami cuma punya dua pilihan kondisi. Kalau memang menurut Allah Dahayu pulang kepada-NYA, dan itu yang terbaik, maka kami ikhlas. Kalau memang menurut Allah kami masih diizinkan mengurus kembali Dahayu, maka sadarkan Dahayu, sehatkan dia, kami siap merawatnya. Apa yang terbaik menurut Allah kami berusaha jalani. Kami berdoa kepada Allah, menyatukan pikiran dan hati kami, apa yang terbaik untuk Dahayu, kami ikhlas. Doa itu kami sampaikan berdua dengan penuh kesadaran dan kesedihan luar biasa. 

Sabtu pagi Allah jawab doa kami dengan mengambil kembali Dahayu. Kami yakini itu yg terbaik kami berusaha kuatkan hati untuk ikhlas meski berat susah gak bisa mulut saya mengucap Innalillahi.

Saat orang-orang dekat Dahayu sudah kumpul di ruang ICU, kakek, mbah( kakek dari pihak ayahnya), om, tante, kami kumpul, kami ikhlas, saya hanya berdoa minta Tuhan kuatkan. Dan Tuhan kuatkan saya mengucap innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Bagaimana menata hati setelah Dayu pergi?

Bahkan saat menulis ini saya enggak tau gimana cara menata hati, karena saya menangis lagi. Yang saya tau, saya hanya berusaha ikhlas. Dan menjadi ikhlas itu enggak semudah mengucapkannya. Ikhlasnya saya bisa naik turun. Saat saya lupa ikhlas, saya ingat kejadian Rabu dini hari di RS dan Sabtu pagi saat melepas Dahayu. Ada kekuatan yang alhamdulillah Allah kasih. Yang  bisa bikin saya dan suami kuat dan ikhlas, ikhlas yang enggak bisa dijelaskan rasanya yg pasti kami dikuatkan dan begitu banyak support doa dan kekuatan dari teman-teman dan keluarga. Itu yang buat kami tabah.

Dan menata hati setelahnya? Itu perjuangan saya yg enggak pernah bisa berhenti dan enggak tau kapan bisa tertata. Karena saya seperti menjalani hidup yang lain, yang beda, yang enggak seperti biasanya, dan yang hanya bisa saya lakukan adalah mengingat Allah dan mengingat bagaimana Allah menguatkan saya hari sabtu itu. Saya ingatkan diri saya lagi untuk kembalikan semuanya ke Allah supaya saat sedih saat mulai kangen, hati saya masih bisa dikendalikan rasanya. Cara lainnya saya ke makam Dahayu, sekadar nyapu bersih-bersih makam, buat saya itu terapi untuk menata hati. Saya beli bunga segar dan taburkan di makam. Lalu kembali baca innalilllahi, baca yasin, baca doa ziarah kubur, yang saya resapi artinya bahwa semua milik Allah semua akan kembali ke Allah, Dahayu sudah lebih awal, saya akan menyusul, dan saya ingin baik2 di dunia siapin bekal supaya bisa menyusul Dahayu dan bertemu dengannya jika diizinkan. Itu cara saya mengatasi kesedihan. Ke makam dan meresapi lagi kalau saya enggak berhak minta apa-apa karena Dahayu memang milik Allah yang kapan aja mau diambil itu udah hak Allah.


Kalau lihat di medsos, you are so strong. Tapi share dong, ada nggak sih momen yang suka bikin Wawa sedih atau haru mengingat Dayu?

Saat kangen, dan itu bisa muncul kapan aja gak bisa ditebak. Yang pasti saya gak tahan buka lemari pakaiannya. Bahkan utk beresin pakaian utk disumbangkan saya enggak bisa. Enggak sanggup karena pakaian itu saya yang tiap hari pakaikan ke Dahayu setiap kali habis mandi.

Saat saya tidur di kamar sendirian, saya seringkali nangis gak tahan diri, sedih, kangen, karena biasanya di kasur itu ada yang nungguin saya pulang, ada yang tidur sama saya. Dahayu memang lebih suka tidur sama saya, dia enggak mau tidur bertiga sama ayahnya. Jadi saya enggak bisa tidur sendirian dan merasa lebih tenang kalau ada suami.

Saat mandi, saya suka ingat Dahayu, karena memang tiap hari saya dan suami bergantian memandikan. Lebih sering saya yang memandikan Dahayu tiap harinya. Saya suka nangis sendiri di kamar mandi.

Dalam mobil,dengan suami nyetir, saya suka nangis tiba-tiba. Karena kangen karena pikiran saya kadang suka ke sana. Kalau lihat langit cerah, saya selalu ingat dan kangen Dahayu dan suka menulis di sosmed yang hubungannya sama langit dan kerinduan saya dengan Dahayu.


Sosial media saya kuat jika maksudnya saya suka sharing semangati diri, bukan apa, saya hanya gak mau meratapi, karena rasanya menyiksa. Apa yang saya tulis di sosial media terkait Dahayu, itulah yang memang sedang saya pikirkan dan rasanya, bukan berpura-pura kuat. Menulis adalah terapi saya. Ada 2 tulisan di blog ttg Dahayu sepeninggalnya. Ada tulisan di FB page, di status, dan puisi-puisi di Instagram. Buat saya terapi. Dan dukungan teman-teman sungguh menguatkan saya. Sosial media dengan dukungan teman-teman menguatkan saya.

Atau ada hal yang disesalkan nggak atas peristiwa ini? Maksudnya kadang kita suka "andai waktu itu gue.." atau "coba kalau.."

Pasti. Paling susah mengatasi rasa bersalah. Saya merasa bersalah kenapa hari minggu pagi itu saya memaksakan diri kerja. Saya merasa bersalah kenapa saya telat pulang siang itu. Saya merasa bersalah membawa Dahayu ke RS itu bukan ke RS lain di mana ada dokter saraf anak dokternya Dahayu. Saya merasa bersalah enggak bisa menjaga Dahayu dari infeksi bakteri. Saya merasa bersalah banyak hal. Tapi untuk apa? Hanya menyiksa saya. Kalau pikiran itu udah mulai muncul saya selalu bilang sama suami dan suami yg ingatkan untuk enggak mikir ke sana lagi. Sama aja menyalahkan tuhan. Semua ini udah terjadi atas maunya tuhan. Memang sudah begitu rencana tuhan. Sesempurna apa pun rencana dan cara kita mencegah ini itu, jalannya memang harus seperti ini. saya enggak mau menggugat tuhan. Saya enggak mau pikiran dan rasa bersalah itu malah menjauhkan saya dari ridha Allah atas saya. Saya mau masuk surga biar ketemu Dahayu nanti, jadi saya harus bisa mengatasi rasa bersalah saya dengan tidak bertanya lagi kenapa begini.

 Bagaimana komunikasi dengan suami setelah kepergian Dayu?

Sepertinya sudah cukup jelas bagaimana kami berkomunikasi dari sejak Dahayu masuk ICU. Kalau bukan karena kami berkomunikasi terus menerus, saya gak sekuat ini. kami gak sekuat ini.

Ada di luar sana ibu yang mengalami hal yang mirip, bagi kiat bagaimana agar mereka bisa sekuat Wawa dong..

Enggak tau ya saya sekuat apa. Ada kalanya saya lemah kok. Tapi saat lemah kuncinya Penyerahan diri ke Allah. Serahkan ke Allah. Karena itu jadi kuat lagi. Nunduk malu kalau kita ini enggak punya daya apa-apa. Rencana kita enggak ada apa-apanya dibandingkan rencana Allah untuk kita, yakin aja rencana Allah untuk kita itu yang terbaik, kita enggak pernah tau apa, jadi tugas kita cari tahu apa sih rencana Allah untuk kita, sambil terus yakini, itu pasti yang terbaik. Berpikir baik do good think good berbaik sangka sama Allah dengan segala kehendak-NYA.

Sekarang cerita sedikit mengenai hari-hari setelah Dayu pergi, bagaimana mengisinya?

Saya selalu ingat kata teman saya Febria Silaen yang akhirnya saya juga setuju kalau saya ini sebenarnya sedang menempuh hidup baru. Saya punya kehidupan baru sekarang, hidup tanpa anak tanpa ada Dahayu setelah 3,5 tahun kami sama-sama, dari kelahirannya yang susah payah hampir meninggal karena pendarahan, dari terapi tumbuh kembangnya yang luar biasa panjang perjuangannya. Jadi saya ini lagi menyesuaikan dengan hidup baru.

Tapi di sisi lain, saya selalu merasa saya punya cinta yang besar banget kaya too much love. Saat ada Dahayu, cinta saya sepenuhnya untuk dia. Dunia saya berubah sejak ada Dahayu, dunia saya sepenuhnya untuk dia dan saya enggak keberatan dengan itu. saya beranikan diri resign saat pekerjaan sedang bagus-bagusnya demi Dahayu, demi bisa bersama dia, demi bisa terapi lebih baik lagi, harapannya bisa memaksimalkan terapi tumbuh kembang dia yang terlambat. Saya hidup untuk Dahayu

Ternyata terlalu cinta gitu enggak baik juga ya. Sempat mikir mungkin Allah enggak suka yaaaa saya terlalu cinta sama anak. Tapi ya udahlah saya enggak mau berburuk sangka. Cinta yang besar itu kayak udah gak punya tempat penyalurannya. Kalau untuk adopsi anak saya belum siap. Untuk punya anak, meski gak KB saya juga masih ragu-ragu entah kenapa.

Jadi saat ini saya curahkan cinta yang besar itu ke pekerjaan saya  menulis dan berkomunitas. Menulis saya pilih blogging. Lagi seneng bangun blog pribadi. Saya juga suka berkomunitas, menciptakan kegiatan, saya suka people development, saya suka bergaul dan bikin apa aja yang saya merasa puas kalau bisa wujudkan. Saya memang sibukkan diri dengan pekerjaan aja. Pekerjaan dari hobi sih, hobi menulis dan berkomunitas. Ada yang bilang jangan sampai jadi kayak pelarian. Saya sih enggak merasa gitu yaa tapi memang waktu saya kayak enggak cukup aja untuk kerja, ada aja yang harus diurusin. Sampai sempat kecapekan dan dirawat. tapi saya suka dan merasakan ada kepuasan kalau bisa produktif menulis dan memfasilitasi teman-teman penulis.

Kayanya lagi fokus di Blogger Crony, ya, apa sih itu? Ceritain dikit..

Nah ini terkait pertanyaan no.8. saya sudah mendirikan komunitas blogger multiplatform, multigender, multigenre, multidisipllin, namanya BloggerCrony sejak masih ada Dahayu. Pekerjaan saya sejak lulus kuliah selalu berhubungan dengan dunia komunitas, di media mainstream sampai sekarang di media sosial. Saya memang suka berkomunitas dan pernah bikin komunitas anak-anak, capacity building untuk anak-anak tahun 2008, lalu 2015 bikin BloggerCrony bareng teman blogger Anesa Nisa dan suami Satto Raji. Saya membaca sekitar, kondisi, dan kebutuhan aja menurut pengamatan saya. Ada yang kurang diperhatikan dalam dunia blogging, yaitu kegiatan nonkomersial dengan tujuan empowerment/self improvement/capacity building yang tujuannya membantu blogger update skill dan jadi lebih profesional, blogger baru/pemula atau bahkan yang sudah berpengalaman, menurut saya skill dan potensinya sangat bisa digali terus naik kelas terus. Saya senang bikin workshop tidak berbayar untuk anggota komunitas dan sama-sama belajar bareng supaya bisa terus perbaiki diri, upgrade skill. 

Bloggercrony fasilitasi kebutuhan itu yang ternyata responsnya positif dari blogger yang haus ilmu.
Selain itu dengan relasi yang saya punya, kepercayaan dari teman-teman di PR Consultant, brand, perusahaan juga bisa membuka banyak kesempatan untuk blogger. Saya hanya memfasilitasi saja lewat community partnership dengan bloggercrony. Saya bukan agensi tapi lebih kepada komunitas yang memfasilitasi anggotanya jika dapat kepercayaan dari partner. Alhamdulillah teman-teman percaya saya mengelola berbagai event yang melibatkan blogger sebagai audiens aktif produktif dan sebagai mitra untuk publikasi dari sudut pandang blogger dengan storytelling, bercerita lewat blognya.

Alhamdulillah Saya juga dipercaya jadi social media strategist oleh konsultan PR dan jika ada kesempatan untuk melibatkan komunitas maka anggota BloggerCrony akan saya libatkan jika ada pekerjaan yang butuh skill khusus, dan blogger punya potensi dan kompetensi untuk itu. Empowerment sih prinsipnya. Sambil terus berusaha mengelola komunitas untuk blogging sesuai pemahaman dan pengamatan yang saya tau dari pengalaman kerja di media dan di social blog, Kompasiana, juga dari mengamati tren blogging.

Bloggercrony kayak anak saya sendiri. Saya passionate banget ngerawatinnya. I am happy developing community from zero. Enggak selalu mudah tapi alhamdulillah saya sih merasanya selalu dimudahkan. Prinsipnya karena saya juga suka isu human capital, people development, empowerment, jadi komunitas terkait banget dengan isu itu.

Apa harapan ke depan sebagai perempuan, ibu dan istri?

Tujuan saya hidup sekarang hanya ingin berjalan atas kehendak Tuhan, supaya Tuhan sayang dan mengizinkan saya masuk surga supaya bisa ketemu Dahayu. Saya manusia biasa, suka emosi, marah, khilaf, tapi saya berusaha untuk kembali ingat apa tujuan saya, jadi sebagai ibu sebagai istri sebagai perempuan saya maunya saya bisa ketemu jalan dan petunjuk untuk selalu bisa jalan atas maunya Tuhan, dan itu gak selalu mudah, karena saya bisa banget salah kata salah sikap, jadi saya struggling terus menjadi diri sendiri, jadi istri, jadi ibu dan jaga diri saya untuk gak keluar dari apa yang Tuhan mau, dan itu susah untuk bisa menemukan apa yang Tuhan mau atas saya, jadi harapannya dan doa saya yang gak berubah adalah semoga saya selalu dikasih petunjuk sama Allah dan cepat dapat menerima petunjuk itu supaya jalan saya selalu dalam jalur-NYA selalu dibantu dilindungi diarahkan untuk menuju-NYA supaya saya bisa punya bekal banyak ketemu Dahayu nanti.

---
Di rubrik ini, gue selalu menulis tentang mereka yang gue kenal di dunia nyata bukan sekadar dunia maya, jadi gue tau bagaimana inspiring-nya mereka bukan sekadar dunia maya aja. Nah, gue tau bagaimana positifnya Wawa menjalani hidup. Gue tau bagaimana cerianya Wawa bahkan setelah musibah yang bisa bikin ibu manapun menangis sampai kering air matanya. That’s why I choose her untuk gue feature di Hari Ibu ini.

Stay strong Wawa, Dahayu menunggumu di surga kelak :)

Tulisan Wawa yang lain bisa dibaca di:


https://www.facebook.com/ceritaibu.wawaraji

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

13 comments:

  1. Lita.. Speechless... Enggak nyangka kalau ditulis apa adanya. Thanks for choosing me...thanks for supporting me

    ReplyDelete
    Replies
    1. Look at that Lita you raise me up. Thank you. GBU. Entah knp gw mau jawab ini yaaaah hehehe... You are powerful lita

      Delete
  2. Menyentuh ... semangaaaat mba wawa *Hugs

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hugs... Say hi to your mom.. Katanya kangen emak

      Delete
  3. gak sanggup baca , nangis, bahkan sampai skr kalo ktmu mbk wawa, ga berani nanya krn akunya bakalan nangis heboh sementra mbk wawa akan menengkan aku ..hikss makasih mbk wawa

    ReplyDelete
  4. Big hug Mba wawa, yang sudah kasih kita pelajaran dalam hidup.

    ReplyDelete
  5. Ini bacanya nyess banget bikin air mata tau2 keluar. Allah sayang banget sama dahayu ya *peluk mbak wawa*

    ReplyDelete