Meributkan Keyakinan

Baru-baru ini lagi pada rame twitwar mengenai susu. Tokoh A bilang susu penuh dengan mudharat (halah) ya maksudnya, nggak bermanfaat gitu buat tubuh. Sementara dokter B bilangnya, susu tetap ada manfaatnya.

Masing-masing pendapat diperkuat dengan jurnal ilmiah, penelitian, survey dan testimoni segala. Pemirsa pun bingung dibuatnya. Percaya sama siapa?

#KaloKataGue....

Meributkan hal ini seperti ngeributin lebih jago mana Manchester United sama Liverpool. Nah, nah, ABU alias Asal Bukan United pasti bilang Liverpool. Sementara Red Army alias fans-nya MU pasti bilangnya MU the best.

Sayang gue bukan penggila sepak bola, jadi nggak bisa kasih analisa mendalam mengenai kekuatan masing-masing klub sepak bola ini. Suami gue sih, Liverpudlian sejati. Sementara gue dulu jaman SMA ngefans-nya sama Solskjaer si no 26 dari MU :D

Analogi lain, hal ini seperti meributkan iPhone (apa apple?) versus Samsung. Yang satu klaim memiki segalanya, yang satu dituduh mengekor, yang satu klaim lebih baik, yang lain klaim tercepat, dst dsb.
Sampe keluar iklannya yang kaya gini:


*kalo berdasarkan etika periklanan, harusnya yang menjatuhkan kompetitor secara langsung dilarang lho, cmiiw*

Kebetulan kalo mengenai gadget, mamah ini nggak terlalu mendewakan, ya. Semampunya ajah :p

Hal-hal seperti gue katakan diatas, rasanya nggak perlu bikin sampe ribut ya? Berbeda pendapat, nggak usah sama orang-orang di dunia maya, sama kakak sendiri juga sah-sah aja. Malah keren, namanya punya prinsip. Kalo semuanya harus sama, kok seperti nggak punya pendirian. Nggak ada salahnya kok, beda.

Kalau hal seperti itu saja bikin ribut, nggak heran lah anak-anak sekolah pada tawuran. Hubungannya apa? Mungkin salah satunya perbedaan pendapat atau merasa pendapatnya lebih keren dari yang lain.

Atau, nggak heran jualan SARA masih laku. Beda agama, dibilang nggak kompeten sebagai pemimpin. Kalau bagi yang muslim harus memilih sesama muslim, lah yang muslim nggak mikirin non muslim selama ini dipimpin sama muslim? (eh, bingung nggak bacanya? Hihihi)

Memilih pemimpin berdasarkan agama atau suk masing-masing. Lah, buat apa ada Bhinneka Tunggal Ika? Ada Pancasila? Itu kan dibuat untuk memadukan keragaman yang ada di Indonesia. Untuk urusan memilih pemimpin ibadah, ya lihat dari agamanya. Kalau memilih pemimpin negara, ya berdasarkan kompetensi, dong. Memang yang seagama atau sesuku, sudah pasti mendengarkan aspirasi? Sudah pasti nggak korupsi? *telat marah-marah*

Nah, balik lagi. Kalau dari dunia maya aja (yang notabene nggak kenal kali ye) masih bisa bikin berantem, apa kabar di dunia nyata? Kalau masalah susu aje bikin ribut, kapan Indonesia mau jadi negara maju?

Ya nggak sih?

*iya dong :p *

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

2 comments:

  1. brilliant, neng Lita


    ps: pengikut setia yang nggak pernah bilang folbek ya neng di twitter =))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akun twitter-mu opo thoooo? Nanti ku folbek tanpa harus meminta :D

      Delete