Talking Langit



Yang paling kelihatan dari Langit kecil adalah, ngoceh. Belum 1 tahun, Langit udah bisa manggil ibu, nenen, mamam, bola, bapak, nin, kung, dan banyak lagi. Diatas setahun, omongannya udah bisa dimengerti orang lain. 1,5 tahun udah lancar jaya.

Kalau ditilik dari gue atau bapaknya, kami sama-sama nggak banyak omong, lho. Bersyukur juga sih, punya anak cerewet. Di usia 4 tahun ini, gileeee….ocehannya dahsyat! Mulai dari pertanyaan sampai celetukan yang polos dan bikin ngakak atau terharu.

Gue belajar untuk berkompromi dari ngobrol sama Langit

Langit: “aku mau kelengkeng”
Gue: “makan nasi dulu, ya”
Langit: “nggak ah, makan kelengkeng aja”
Gue: “makan nasi dulu, baru makan kelengkeng..”
Langit: “kelengkeng satu aja, terus makan nasi, ya bu?”
Gue: (mikir sebentar) “oke deh, habis makan kelengkeng satu lalu makan nasi, ya”

Belajar disiplin

Langit: “topi aku mana?”
Gue: “nggak apa-apa deh, nggak pake topi, kan nggak ikut baris. Di kelas kan nggak pake topi”
Langit: “ibu sih bangun telat, besok bangun pagi-pagi biar aku baris”

Menjelaskan hal yang memang seharusnya dijelaskan

Langit: (sambil merapikan rambutnya yang pake bando) “aku rapi ya, bu? Kalau begini, aku ganti nama aja jadi Stacy, gimana?”
Gue: (menjengit) “nggak ah, nama kamu kan Langit”
Langit: “kalau Whitney?”
Gue: (menarik napas) “nama Langit kan bagus. Coba kita lihat langit diatas sana tuh,  bagus kan? Ibu bikin nama kamu dari langit yang di atas itu. Terus ada pelangi, kamu suka pelangi nggak? Warnanya bagus kaaan? Nama kamu kan Langit Kilau Pelangi, bagus kan?”
Langit: “ya udah bobo aja deh”

Tadi pagi pas nganter ke sekolah, gue sempat ngobrol sama guru kelasnya. Terus gurunya bilang, udah beberapa hari ini Langit kalau ditanya namanya sudah jadi jadi Langit lagi setelah sebelumnya Langiti, Tasya dan Stacy -___-. Alhamdulillah dong, berarti omongan gue dia dengar.

Mungkin kaya lebay ya, anak baru 4 tahun mau dipanggil dengan nama yang lain kayanya wajar. Tapi gue berusaha sih, supaya Langit mencintai dirinya apa adanya. Bukan seperti Tasya Kamila si Anak Gembala atau Stacy temannya Barney.

Omongan lainnya apa, ya? Banyak sih, she talks a lot. Aselik. Libur lebaran 2 minggu kemaren gue benar-benar menghabiskan waktu bertigaan sama Langit dan Igun. Kami kemana-mana dan sepanjang jalan itu Langit adaaaaaaa aja yang diocehin atau nyanyi.

Untuk urusan bahasa, gue insyaallah nggak terlalu khawatir. Langit kelihatannya sangat tertarik mempelajari huruf dan menyerap lebih cepat kata-kata dibandingkan urusan matematika *ambil kaca*. Hidup di lingkungan yang full berbahasa Indonesia (dan sekolahnya pun gue pilihyang bahasa Indonesia), ternyata nggak bikin dia gagap sama bahasa Inggris. Sesekali gue sisipkan kata-kata bahasa Inggris (terutama kalau dia bertanya) dan ngulang apa yang dia dapat di sekolah (seminggu sekali sekolahnya ada sesi bahasa Inggris). Walaupun belum bisa baca, tapi untuk menulis dan mengenal huruf, alhamdulillah sudah bisa. 
gambarnya sekarang udah lebih bagus dari gambar gue, haha


Tapi kemampuannya yang menurut patut dibanggakan (secara emaknya bekerja di dunia kreatif yang penuh dengan mengarang) adalah, mengembangkan atau menciptakan cerita. 'Membaca kembali buku pengantar tidurnya, kalau pas bagian dia nggak hapal atau lupa, maka dia bakal improvisasi jalan cerita sesuai dengan gambar atau di lain hari, Langit sering gambar yang kemudian bisa dia ceritakan maksud dari gambar tersebut.

Ga apa-apa lah ya, belum bisa bahasa canggih-canggih, yang penting otak kanannya dimana imajinasi, kreativitas, seni dan emosi berkembang dengan baik. Amin.

Ini biasanya sampe naik2 meja kalo nyanyi :))
Eh, bukan berarti gue mengabaikan otak kiri lho, tapi berdasarkan pengalaman, sekolah dan dunia menitikberatkan pengembangan otak kiri. Lihat aja, tes masuk sekolah pake calistung,  kalo nilai matematika lebih rendah daripada bahasa dianggap bodoh, anak yang masuk kelas bahasa dicap pemalas karena nggak masuk IPA, dst dsb. 

Padahal kalo gue sih, maunya anak gue nantinya bekerja di bidang yang nggak jauh-jauh dari emak bapaknya. Biarin nggak tajir-tajir amat, tapi secara emosional tersalurkan :D

Nah, ngomongin masalah ini, waktu itu pernah nanya, Langit cita-citanya jadi apa? Beberapa bulan lalu, dia jawab jadi masinis, kemudian berubah jadi guru, lalu jadi princess, dan terakhir jadi penyanyi. #okesip

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

4 comments:

  1. sehat teruus ya cantikkk.. makin pinter dan ceriwis biar ibu makin pusing ngejawab pertanyaan langit :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin, segini aja udh pusyiing, tapi gpp berarti kritis yaa :D Kiss untuk Tania :*

      Delete
  2. utk anak2 apalagi yg usia balita, kl mnrt sy juga mendingan kenal bahasa ibu dulu deh ^^

    ReplyDelete