Masalah Bhinneka Tunggal Ika dan Anak Kita



Kemarin gue nangis. Setelah sekian lama nggak nangis, eh air mata tau-tau ngalir aja. Niatnya sih mau nyalahin hormon, tapi gue tahu pasti bahwa bukan hormon penyebab utamanya [ya, tentu saja dia punya andil]. 

Bukan, bukan masalah Ahok divonis penjaranya. Well, ya itu menjadi trigger, sih. Gue menangis lebih karena isu SARA dijadiin alat.

gambar dari sini

Gue ini cerminan kalangan 'mayoritas' banget. Islam, pake kerudung, bapak gue Solo asli, nyokap Sunda Betawi Banten. Islam sejak lahir. Islam KTP karena keturunan? Maybe. Tapi alhamdulillah pernah makan bangku pendidikan Islam. 

Monmaap manteman yang pengetahuan agamanya lebih dalam daripada gue. Gue ceritakan sedikit latar belakang keagamaan gue, ya.

Jauh sebelum saat ini banyak yang pasang status di sosmed sedang belajar agama di sana sini, gue udah belajar tentang Islam, alhamdulillah lengkap sama bahasanya [walaupun nyangkutnya dikit banget, mayan lah tapi buat belanja waktu Umrah] 

Jauh sebelum hijab jadi trendi, gue udah pake kerudung. Ada yang pernah nangis-nangis disuruh lepas kerudung karena foto ijazah nggak boleh pake kerudung? Pernah diomelin guru karena berkerudung? Gue ngalamin, sob. 

Jauh sebelum sebagian orang berteriak-teriak tegakkan syariat Islam dan kalahkan Pancasila, gue udah pernah terjebak dalam gerakan sejenis itu. Dan itu sangat tidak tepat. 

But that’s not something I want to discuss. That’s not something I should be proud of. Dan gue bersyukur teman-teman gue yang sebelumnya gue tahu gaya hidupnya gimana, sekarang mendalami ilmu agama. Tapi, tahukah kalian kalau belajar agamapun nggak bisa sembarangan? 


Contohnya udah gue sebutkan di atas.

Gue pernah belajar agama dan terjebak dalam satu gerakan yang ingin membubarkan Indonesia. Dan itu terjadi saat gue duduk di bangku SMP. See, kalau mau sombong, gue bisa bilang, “Heh, gue udah pernah mencari ilmu agama dari kalian masih mikirin pacaran”.

Anyway, beruntunglah gue pernah belajar dari yang salah. Katanya kan pengalaman adalah guru yang terbaik. 

Langit udah gue ajak untuk salat, mudah-mudahan ibadahnya bukan karena terpaksa atau karena berharap surga

Fast forward ke masa kini.

Langit sekolah di sekolah Islam. Alhamdulillah, sekolahnya sangat jauh dari pembicaraan masalah politik dan agama. Mungkin gue udah memilih sekolah yang tepat untuk Langit. Bukan satu dua kali kita dengar sekolah kerabat gue mendoktrin anak-anak [bahkan dari usia dini] masalah pandangan politik atas dasar agama, kan? Padahal di mata pelajaran mereka ada PKN dan IPS yang mengajarkan keberagaman di Indonesia. Sungguh ironis.

Pernah terjadi percakapan ini:

Langit: “Ahok itu Cina ya, bu?”.
Gue: “Iya. Kenapa?”
Langit: “Nggak apa-apa, kata xxxx [dia nyebut nama salah satu temannya] kalo Cina berarti Kristen”
Gue: “Nggak juga. Cina kan suku bangsa, Kristen itu agama. Banyak kok yang Cina tapi beragama bukan Kristen. Lah Tante XXX itu Kristen tapi bukan Cina. Tante XXX [gue sebut nama teman gue] juga Cina. Si XXX [gue sebut nama anak tetangga teman main Langit] juga Cina dan Kristen. Tapi temenan kan, sama kita? Baik kan?”
Langit: “Iya, ya. Kalo Kristen masuk surga juga nggak?”
Gue: “Kalau Langit mau masuk surga, gimana caranya?”
Langit: “Salat, nurut sama orangtua, baik sama orang lain…”
Gue: “Nah, iya, sama. Kristen juga gitu. Semua agama syarat masuk surganya hampir sama kok”.

Di lain waktu..

Langit: “Bu, katanya kalo Jokowi itu teman-temannya orang Kristen semua itu ada Ahok juga. Kalo Prabowo, Islam”
Gue: “Kata siapa?”
Langit: “Kata XXX [nyebut nama temannya lagi]”
Gue: “Memang kenapa kalo berteman sama orang Kristen? Langit punya teman orang Kristen nggak?”
Langit: “Punya”
Gue: “Jahat nggak?”
Langit: “Nggak. Teman ibu Tante XXX juga natalan kan? Kita pernah natalan ke rumahnya”
Gue: “Iya. Baik nggak, Tante XXX?”
Langit: “Baik, aku dikasih bingkisan pas pulang dari rumahnya”
Gue: “Jadi, agama itu nggak menentukan seseorang baik atau jahat, kan?”

*Masih banyak percakapan lain, termasuk mengenai vonis penjara untuk Ahok. Tapi kayanya belum bisa gue share, karena percakapan tadi masih gantung.
 
Gue mungkin masih jauh dari kata sempurna sebagai seorang ibu dan pemahamannya terhadap Islam. Gue nggak juga bilang bahwa dengan gue udah terpapar ilmu agama lebih dulu dibanding sebagian orang yang gue kenal, lalu gue jadi lebih baik. Nggak. Sungguh.

Gue nggak paham sistem hukum, apalagi politik dengan segala intrik.  Saat ini, gue hanya peduli sama masa depan anak-anak kita. Bukankah akan jadi ironis kalau di sekolah mereka belajar tentang Bhinneka Tunggal Ika alias keberagaman sementara kita, orangtuanya, justru mengagungkan suku/ agama/ golongan tertentu?

Gue percaya kekuatan seorang perempuan. Di tangan kita, generasi penerus bangsa ini dididik. Apapun opini kalian, gue hanya minta tolong sampaikanlah dengan pemikiran yang cerdas dan logis. Yakin bahwa hal apapun yang kalian pilih memang berdasarkan hal yang diyakini plus alasan logis. Jangan sebarkan kebencian dengan hujatan yang nggak perlu mereka dengar. Jangan jadikan anak-anak kita generasi yang bergerak karena emosi semata. 




Btw, dengerin Slank yang judulnya Utopia ini, deh. Potongan liriknya:

Kita orang yang paling beradab karna kita slalu taat beragama, kata siapa? Kita orang yang paling adil apalagi sama orang-orang kecil, kata siapa? 
Ini hanya khayalan saja. Ini hanya khayalan saja karangan orang tua..


Tentu kita nggak mau kalau Bhinneka Tunggal Ika hanya akan menjadi cerita buat anak-anak kita, kan? Nggak mau Indonesia yang dikenal orangnya ramah-ramah hanya mitos belaka? Yok gerak!



Mungkin kita nggak bisa mengubah dunia, tapi seenggaknya kita bisa menanamkan yang terbaik buat anak-anak kita.

Ps. Untuk teman-teman yang 'minoritas', gue nggak bisa berkata apa-apa selain "mohon maaf"

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

16 comments:

  1. Nice post mba! Badewai aku jadi inget film My Name Is Khan, dimana semua tetangganya mayoritas Hindu dan anti Islam. Trus ibunya Shah Rukh Khan jelasin pake analogi gambar ada orang mukul dan ada orang kasi permen. Kalo ditanya yang mana baik mana buruk langsung bisa jawab, kalo ditanya orang yang Ibu gambar tadi agamanya apa? Dia ga bisa jawab. Karena baik buruknya tidak menentukan agamanya.

    Aku juga pengen banget menanamkan ke Rey nanti kalo sekolah, berteman itu ya hubungan manusia, selama dia baik ya temenan aja. Masalah agama kita bangun sendiri dalam diri kita, toh selama ibadah ga pernah saling mengganggu.


    Sungguh lah aku sebagai anak Rembang asli, damai banget mba disana. Ada ponpes Gus Mus yang gede banget. Ada pula etnis cina yang buanyaaaaaak karena Rembang pesisir banyak dulu orang Cina yang berlabuh. tapi kita damai damai aja. so sad lah :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahagialah kita udah biasa mengenal perbedaan.

      Orang2 yang intolerance, mungkinnnnn... memang kurang terpapar dengan perbedaan ya :)

      Delete
  2. Woilah.... Baca tulisan elo malah merembes... Iya, sih... Ngeri ya kalau anak2 kita punya pemikiran kalau orang yang di luar muslim itu jahat. Ah... Jgn sampai deh, anak2 kedoktrin kaya begitu....

    ReplyDelete
  3. nice post mbak...thanks for sharing...*brebes mili mungutin kepingan hati*

    ReplyDelete
  4. Tulisannya keren Mba.... πŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌ Salut dengan Mba yang punya pikiran terbuka...dan berani untuk nulis.

    ReplyDelete
  5. Terimakasih karena sudah berani menulis.

    mungutin kepingan hati.. dan terus bedoa untuk Indonesia..

    ReplyDelete
  6. Hati adem sekali, Mbak, baca postingan ini. Terharu dengan anak kecil yang udah berani paham dan menerima keanekaragaman yah.

    Sebagai kaum minoritas di Indonesia, terkadang aku punya pemahaman sendiri dengan perbedaan yang ada. Tapi aku nggak pernah menjadikan latar belakangku sebagai penghalang untuk bergaul dengan siapapun.

    Intinya, selalu berbuat yang benar ke semua orang yah. Tuhan yang akan menilai (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. SETUJU banget dengan kalimat terakhirmu!

      Kadang ketika kita merasa diri kita minoritas/ mayoritas, di situlah permasalahan dimulai. Kita sama-sama Indonesia, titik :)

      Aku juga adem baca komennya. Makasih ya!

      Delete
  7. Thank you for posting something like this mba.

    Saya lahir sebagai minoritas itu, tapi keluarga saya majemuk sekali. Ada yang budha, ada yg katolik, kristen dan muslim. Kami semua rukun dan saling membantu. Semoga anak saya dapat melihat contoh damainya kemajemukan dari keluarga besar kami.

    Saya pun yang minoritas harus tetap berkarya dan memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara. I was born here and i am Indonesia.

    Once again, thank you for sharing :) *hug*

    ReplyDelete
    Replies
    1. *hug*

      Walaupun aku pribadi mencerminkan 'mayoritas' saat ini, tapi aku pernah jadi 'minoritas' karena pake kerudung di zaman kerudung belum tren. Haha.

      Alhamdulillah keluargaku juga cukup beragam baik agama atau kepercayaannya. Tapi itu nggak menghalangi kekeluargaan kami. Karena sejatinya, kepercayaan kita adalah hal yang pribadi, ibadah kita yang menilai bukan sesama manusia :)

      Delete
  8. Mba Lita berani nulis begini sih luar biasa... saya nggak sanggup deh mba... Hensaaap...

    Saya juga terlahir dari kedua orang tua yang beragama Islam. Alhamdulillah. Keluarga saya banyak yang berbeda religi. Kebetulan kampung bapak berasal dari basecamp-nya Katolik se-Indonesia Raya ini. Banyak keluarga kita yang agamanya Katolik. Dari pihak nyokap, banyak yang KongHucu... Karena kakek buyut saya pun aseli dari Tionghoa.

    Saya bersyukur banget, dengan keberagaman begini, kita tetap damai. Saling menghormati...

    Mau musuhin agama dan etnis lain...? Bisa-bisa nggak punya sodara. Belum sanggup deh kehilangan saudara sedarah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. *mewek*

      Salam hormat untuk keluargamu ya :)

      Delete