career and ambition

Gw sering banget mengulangi statement bahwa gue bukan orang yang punya perencanaan dengan baik. Boro2 dengan hidup, masalah baju aje gue bisa ya, udah di pintu mau berangkat tiba2 ganti baju hanya karena perasaan yang nggak enak.
And yes, I trust my instinct.
Mungkin ga selalu benar, tapi sejauh ini, gw bersahabat dengan instinct atau feeling.
Lah, hubungannya dengan karir dan ambisi apa?
Sabar kale, kan itu baru prolog.
Di beberapa post blog ini, gue kerap merasa bersyukur dengan karir atau pekerjaan yang gue miliki. Semuanya berjalan dengan lancar atau malah terlalu smooth.
Tahun 2001 adalah atau berarti masih 20 tahun saat itu (damn, I'm old!) Gue magang di sebuah tabloid. Baru magang statusnya, selama 3 bulan. Kelar magang, ditawarin lanjut, redaktur dan pemred sempat memuji hasil tulisan gue yang katanya nggak kaya anak kuliah *uhuk-uhuk, jiwanya tua kali ye* tapi di saat bersamaan, gue dapet tawaran juga di PH tidak dengan status magang. Gajinya emang nggak seberapa, tapi yah, buat anak umur 20 tahun dan belum lulus kuliah, duit yang saat ini mungkin cuma cukup buat beli LC Cabas+jajan kopi starbuck, cukup bener!
Sejak pertama gue kerja di PH, bisa dibilang kenaikan karir gue cukup cepat. Dari reporter, produser pelaksana, produser lalu creative division head. Yang terakhir ini malah gw pegang pas umur gue baru 25tahun, sementara rekan selini lainnya rata2 sudah 30an.
Apa pencapaian itu karena ambisi? Sama sekali nggak. Gue bukan tipe yang ambisius when it comes to work or men or bags or anything. Eh jadi sebenernya, intinya gue bukan orang yang ambisius deh. Saat itu gue hanya menjalani apa yang harus gue jalani sebaik2nya. Saat jadi reporter, pas penulis naskahnya resign, kebetulan gue bisa nulis, yah gue yang nulis naskah. Saat jadi produser pelaksana, pas produsernya nggak jelas, yah gue yang ngedit, nemenin live di studio atau liputan kalo reporter nggak ada. Pas jd CDH, ketika orang art kelimpungan disuruh bikin 200 biji pompom (yg kaya cheerleader), ya gue ikut begadang bikin itu.
Itu ambisi bukan sih? Nggak sih, karena gue melakukannya bukan untuk tujuan pribadi, gue melakukannya untuk program yang gue pegang. Supaya bagus, supaya banyak yang nonton, banyak yang suka. That's it.

Tahun lalu, dapet beberapa tawaran yang lumayan. Pertama, jadi manajer produksi di sebuah PH. Beuh, walaupun yang ditawarkan amat sangat lumayan, tapi gua tau banget pasti kerjanya bakal lebih berat, tanggung jawabnya apalagi!
Kedua, tawaran jadi editor di sebuah majalah lifestyle franchise luar. Lumayan juga, but again, ada sebuah komitmen yang telanjur gue ucap untuk diri gue sendiri.
Ketiga, sebuah stasiun tv besar. Hummm, kangen memang sama dunia televisi. Tapi dengan lingkungan yang sudah sangat establish, bukan ga mungkin saling menjatuhkan terjadi.
Dan akhirnya gue end up di tempat sekarang. Minim persaingan, less stressed, dan lebih nyaman. Mencari ketenangankah gue? Mungkin. Lingkungan yang ambisius, penuh dengan sikut2an kayanya bukan diri gue deh. Bukan berarti gue ga punya keinginan kuat ya, yes I still have it. Tapi bukan dengan cara seperti itu. Persaingan sehat, diberikan kesempatan untuk membuktikan bahwa apa yang gue pegang akan lebih baik, serta nggak dibatasi kreativitas, itu yang gue cari.
Oh satu lagi deh, komitmen. Alhamdulillah, gue selalu mencoba komit dengan apa yang sudah gue ucapkan.
Sempat seorang mantan bos gue nanya, "lo sekarang gitu2 doang, neng? Nggak sayang?"
Percuma atau tidak, insyaallah gue tau, yang gue lakukan nggak hanya baik untuk diri gue sendiri tapi juga untuk orang lain. Amin.

*ini postingan nggak jelas ya, tapi yang pasti bukan nyombong. Intinya mau menekankan, komitmen&usaha itu pasti bisa mengalahkan orang yang pinternya kaya einstein sekalipun tapi cuma buat dirinya sendiri*
sent from my Telkomsel Rockin'Berry®

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

No comments:

Post a Comment