Spread the love, shall we?

Dari hasil psikotes (mulai dari SD, SMP, SMA bahkan sampai pas psikotes kerja) maupun ramalan (yak, yang belakang ini sangat ga masuk akal) hasil pekerjaan yang cocok buat gue selalu ada: pekerja sosial.
Apa benar ya, gue cocok di lapangan kerja sosial?

Pertama yang pasti sih, gue sangat berterimakasih karena pernah ngerjain sebuah program sosial. Program itu ditayangkan sebulan penuh selama Ramadhan. Saat itu, harusnya gue punya tanggung jawab lain, tapi dengan semangat gue mengajukan diri ngerjain program ini mulai dari liputan, editing hingga live dan bahkan penyerahan hasilnya. Maap, bukan mau riya. Sumpah deh.

Banyak banget momen yang nggak terlupakan buat gue saat mengerjakan program ini. Ketemu sama keluarga serba nggak punya yang anaknya kena penyakit tertentu, masuk ke pelosok-pelosok kolong jembatan menemui warga dibawahnya, nongkrong sama anak-anak jalanan atau bahkan pernah lari tunggang langgang dikejar2 pake parang sama salah satu orangtua yang nggak mau anaknya di syuting.

Salah satu cerita yang nggak terlupakan, saat mengunjungi sekolah kartini milik ibu kembar. Jadi ibu kembar ini (asli sampai saat ini gue kesulitan menghapal baik nama mereka masing2 apalagi membedakan keduanya). Sekolah ini awal berdirinya hanya pake tenda terpal biru, anak-anaknya duduk di lantai pake tikar plastik. Kalo pas gue kesana siih, udah baguuuus... pake tembok kayu dan atap triplek. Anak2 juga udh punya kursi dan meja lho! Waktu kesana pas kedua kalinya, gue bawaiin mereka susu uht dan beberapa snack. Ya ampun, senangnya mereka! Dari dulu emang udah bakat jadi #timmewek, jadi saat satu2 anak itu salim sama gue dan kru, mewek deh gue T___T
Tapi teteub sih ada kerusuhan. Yaitu ketika orangtua mereka datang, pada ikut berebut bok! huff...

Masih di kolong jembatan area situ juga, kami kerumah salah satu nenek (duh, maafkan, lupa juga namanya). Nenek ini tinggal sendiri, penglihatannya sudah parah sekali. Salah satunya malah nggak bisa lihat sama sekali. Sebenarnya dia harus memakai satu obat yang bisa mmebantu matanya melihat dengan lebih baik guna menopang pekerjaannya yaitu mungutin plastik. Tapi apa daya ya, obat gratisan habis, ya nggak ada uang lagi juga untuk beli. Wong makan sehari-hari aja kalo terpenuhi sudah bagus. Yang nyebelinnya nih, si nenek pernah dong uangnya dirampok. Padahal sudah ditaro di tempat tersembunyi di rumahnya. Tega banget ya :(
Oh iya, bicara rumah, jangan bayangin rumah seperti yang kita tinggali ya. Lengkap ada atap, tembok dan pintu/ jendela. Bangunan yang dianggap rumah ini hanya 4 buah triplek yang disusun sedemikian rupa supaya nggak kena hujan.

Cerita lain, masih dari area yang sama. Ada seorang anak kira2 usianya 12-13 tahun. Ia sebatangkara. Menurut 'tetua' disitu, anak ini dibuang oleh orangtuanya saat ia berusia 4-5 tahunan di sekitar jembatan itu. Entah dibuang sengaja atau ketinggalan atau ditinggal. Sebut saja si B ini saat itu menjadi remaja yang serba curiga sama orang lain. Nggak mau ngobrol sama siapapun. Tidurnya? Di sebuah gerobak tempat ia mengangkut barang bekas.

Atau nongkrong bareng anak2 jalanan di perepatan Grogol juga pernah. Padahal disitu kan kesannya rawan ya, tapi alhamdulillah gue bisa menghabiskan senja sambil bercanda-canda sama mereka. Banyak cerita yang didapatkan. Mulai dari cita-cita mereka, keinginan saat ini (beliin nenek mukena, sekolah lagi sampai makan Mekdi!) atau pengalaman mereka di 'garuk' petugas sosial. Tahun 2009 gue berkantor di Daan Mogot, ada yang masih mengenali gue lho! Alhamdulillah, jadi aman jalan sekitar situ, hehehe...

Satu anak yang sampai saat ini saya ingat. Namanya Rahayu, usianya 3-4 tahunan. Ia penderita hydrochephallus. Ia sudah pernah dioperasi berkat donasi dari sekelompok mahasiswa. Tapii, bagi penderita hydrochephallus, operasi nggak hanya cukup sekali. Setelah mengeluarkan cairan dalam kepala, harus di rekonstruksi ulang tulang2 tengkorak kepalanya (cmiiw, ini yang gue tangkap saat itu ya). Jadi saat saya ketemu Rahayu, kondisi bentuk kepala botaknya masih belum layaknya kepala kita (saya masih kebayang gimana bentuknya- mewek beneran). Saya bawakan popok dan boneka (ala) barbie, karena katanya Ayu suka sama boneka perempuan dan ingin punya rambut panjang tergerai indah. Gue, kameramen, bahkan driver yang menemani syuting siang itu nangis semua.
Jeda sebulan dari tanggal kami syuting, Ayu ulangtahun. Gue janji untuk membawakan kue ulangtahun dan baju2 cantik yang bisa bikin dia kelihatan seperti boneka yang ia peluk. Tapi nggak lama setelah hasil syuting ditayangkan, dan gue akan menyerahkan hasil donasi episode tersebut, Rahayu ternyata sudah nggak ada.

Bicara soal kegiatan sosial atau apapun namanya, selalu bikin gue kalo nggak mewek yah efek2 tercekat biji kedondong atau berkaca-kaca. Gimana caranya supaya anak-anak jalanan atau mereka nggak lagi berada di bawah garis kemiskinan ya?

Makanya awal 2010 waktu Mommies Daily bikin #Mooveit, gue gegap gempita menyambutnya. Nah, tahun ini bikin #Mooveit lagi, mudah2an lancar dan berharap supportnya dari semua pihak. Amiiin...

Kalau mau tau #Mooveit itu apa, silakan klik banner yang nangkring manis di pojok kiri atas blog ini ya :) Mau pasang di blog masing2 juga boleh, hitung2 menyebarkan kebaikan. Kan kata Quran, "sebarkanlah meski hanya satu ayat".

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

2 comments:

  1. Lita, mewek deh baca cerita tentang Rahayu :(.
    hm... ini dia yg bikin kening berkerut, gimana caranya biar mereka nggak lagi berada di bawah garis kemiskinan. paling yg mungkin bisa dilakukan adalah ngasih bekal pendidikan (sebagai ganti kalau mereka gak bisa sekolah) ataupun keterampilan sehingga mereka bisa cari kerjaan. minimal agar mereka bisa menjadi anak jalanan yg lebih baiklah :)

    salut sama mereka yang selalu concern pada anak jalanan, bikin rumah singgah, dll.. dulu waktu masih di semarang, ada yg namanya PAJS (Paguyuban Anak Jalanan Semarang) dan mereka punya rumah singgah. sayang suatu hari rumah singgah mereka malah dirusak & mereka diusir dari situ o/ penduduk sekitar yg merasa terganggu dengan keberadaan mereka. :( - yoke

    ReplyDelete
  2. Iyaa, gue juga salut sama mereka yang bisa dedikasikan diri sepenuhnya untuk kegiatan sosial. Pengen sih mak, tapi mungkin nanti, entah kapan tapi ingin..
    Bangga juga sama beberapa anak muda yang kepikiran untuk bikin rumah singgah, walaupun banyakan yang akhirnya berhenti di tengah jalan akibat kekurangan dana :(
    Mudah2an pasal 34 mengenai fakir miskin dan anak2 terlantar dipelihara oleh negara akan segera terwujud sepenuhnya dengan cara yang manusiawi.. amin.

    ReplyDelete