LM vs infotainment

Beberapa hari ini infotainment lagi rame sama kasusnya dengan Luna Maya.

Akar permasalahannya, Luna marah gara-gara dia lagi gendong anaknya Ariel yang tidur tapi dikejar-kejar sama infotainment sampe salah satu kamera infotainment kena kepala anaknya Ariel. Luna pun marah dan menulis emosinya di akun Twitter miliknya.

Karena hal ini, pihak infotainment merasa dilecehkan dan melaporkan Luna ke polisi.

Siapa yang salah?

Di satu sisi, sebagai perempuan dan seorang ibu, gw ngerti banget perasaan Luna. gw pun pasti akan ngamuk kalo lagi gendong Langit terus dikelilingi orang yang mau wawancara, bahkan sampe dikejar-kejar saat turun tangga dan seterusnya. Kalo anak gw jatoh gimana? Laporin ke polisi semua infotainment gara-gara hal ini?

Di sisi lain, gw pernah kerja buat infotainment juga ngerti banget bahwa berita Luna yang nonton filmnya Ariel bareng keluarga Ariel dan bahkan anaknya Ariel anteng digendong sama Luna bisa jadi berita yang bagus. Apalagi pasangan ini kan bisa dibilang pasangan superstar dan kisah cinta mereka juga kalo diberitain pasti mengundang penonton yang notabene mendongkrak rating.
Rating infotainment naik, stasiun tv kebanjiran iklan, kontrak diperpanjang. semua senang kan?

Ternyata nggak semua orang senang.
Bagaimana dengan Luna-Luna lainnya yang merasa privacy atau mengalami kasus yang sama dengannya? Misalnya Mas Parto (gw kebiasaan manggil Mas Parto, karena sempet beberapa kali kerjasama dengan dia) waktu kasus menembakkan pistolnya di hadapan wartawan. Lebay memang, tapi itu dia lakukan untuk melindungi anak istrinya yang dikejar wartawan sedemikian rupa. Nggak ada korban jiwa. Menurut gw kasus keduanya mirip. sama-sama emosi, marah, namun karena melindungi orang yang mereka sayang.

Beberapa taun yang lalu saat gw reporter infotainment, pernah gw dapat kabar istri seorang musisi anaknya meninggal dalam kandungan. Kebetulan gw dapat berita ini dari sepupunya yang notabene sahabat gw. insting 'wartawan' pun muncul dan mendatangi rumah duka untuk meliput secara eksklusif (karena nggak ada infotainment lain yang tau). sampai di sana, kameramen gw langsung ambil gambar suasana rumah duka. Keluarga ngeliatin semua. Gw langsung suruh kameramen gw matiin kamera, dan gw menemui musisi tersebut (tanpa mic tentunya). Gw minta izin sama sang musisi untuk wawancara perihal berita duka tersebut, namun secara tegas ia menolak, berterimakasih atas empati yang gw sampaikan dan mohon maaf agar gw mengerti duka ia dan keluarganya.

Yang gw lakukan?
Cabut dari TKP dan tidak menuliskan/ menyiarkan sedikitpun tentang berita tersebut.

Atau pernah juga nge-gep aktor berinisial G bersama pacar baru setelah perceraiannya dengan sesama artis. Kameramen saya sigap mengambil gambar mereka berdua. lalu setelah itu, saya dekati G dan meminta izin wawancara. G mengizinkan lengkap bersama si kekasih baru. Liputan saya beres, eksklusif, dan ga pake berantem.

Menurut gw rekan infotainment tetap harus menghargai artis sebagai manusia, demikian sebaliknya. gw yakin, Ga ada artis yang nggak mau diwawancara. Biar gimana pun mereka butuh publikasi. namun yang perlu dicatat adalah CARA-nya.

Sekarang kalo liat infotainment ngejar-ngejar artis, udah kaya liat berita maling ayam ketangkep. Dikejar, dikerubutin, dan seterusnya. Padahal, gw yakin kalau meminta dengan cara yang baik pasti mereka mau. kalau pun mereka nggak mau, ya sudahlah hargai juga mereka.

Pandangan gw tentang PWI melaporkan Luna ke polisi, salah besar. Bukan seperti itu memberikan pelajaran pada artis/ siapapun. PWI sebagai lembaga wartawan senior (atau yang pertama di Indonesia) harusnya bisa bijak menyikapi hal ini.

Pertama yang harus dilakukan menurut gw adalah, memberikan edukasi buat para awak infotainment dalam menjalankan profesinya. karena saat ini, nama wartawan ikut tercoreng, padahal yang melakukan hal tersebut belum tentu memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik yang benar. Menurut gw lagi, nggak mungkin meniadakan infotainment karena biar gimana infotainment bisa jadi salah satu acara unggulan yang dongkrak rating sebuah TV. Dan percaya atau tidak, semakin banyak orang menghujat infotainment, maka akan banyak orang yang penasaran mengenai berita itu.

PWI seksi infotainment terdiri atas awak infotainment senior (kebetulan saya kenal beberapa dari mereka), yang memulai karirnya sebagai wartawan. Setau saya, mereka wartawan hebat. Mampu menghadirkan berita yang menggigit namun tetap bersahabat dengan para narasumbernya. Kenapa tidak berbagi ilmunya dengan para awak infotainment yang baru 1-2 tahun di dunia infotainment (tapi terkadang lagaknya tau segalanya - maaf saya juga kurang suka dengan infotainment belakangan ini, makin parah!)

Banyak kok artis yang butuh infotainment, baik itu sekuter (selebriti kurang terkenal) atau mereka yang memang seleb kelas A Indonesia. Karena muncul di infotainment kan salah satu publikasi tanpa biaya...

**bagian II tentang publikasi artis di infotainment tanpa (atau dengan) biaya ...

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

6 comments:

  1. lupa ditulis diatas, beberapa tahun singkat menjalankan infotainment bukan berarti mulus2 aja. gw juga sempet kepeleset beberapa kali sama artis, tapi alhamdulillah semua selesai dengan damai dan masih berhubungan baik dengan mereka semua :)

    ReplyDelete
  2. Sayangnya, wartawan infotainment yang kayak elo palingan bisa dihitung dengan jari, Lit. Ngga semuanya pake naluri. :) Great post!

    ReplyDelete
  3. kalo setau gw ada lah yang masih pake nurani, tapi kadang tekanan sana sini itu pi yang bikin mereka seperti heartless dalam menyiarkan liputan...
    *gw ga mau menggunakan kata wartawan krn most of them belum pantas disebut wartawan sayangnya...*

    ReplyDelete
  4. waaa...andai smua wartawan impocemen kyk ginii..
    go luna go!!

    ReplyDelete
  5. hahai...amieenn!
    oiya, catatan gw ga bela luna atau pun infotainment yak :)

    ReplyDelete
  6. La ijin copas artikelnya bwt referensi contoh wartawan infotainment yg baik yaa... :)

    ReplyDelete