Tersesat Di Pengajian


Ini cerita udah lamaaaaaaa banget, tapi percaya nggak kalo gue baru berani bercerita secara terbuka beberapa tahun belakangan ini aja? 

Takut.
Itu alasannya. 
Kok takut? 

Read the rest of the story, ya. Ini agak berlompatan, tapi you will know how it relates.


Waktu SD, gue madrasah sore dekat rumah. Guru ngajinya sangat menyenangkan. Berwajah teduh, berkerudung panjang, sederhana, santun, tapi tetap asik. Dia nggak pernah nyuruh kami berkerudung, atau apapun. Beliau mengajak kami menjalankannya bersama. Sayangnya, bersamaan dengan gue lulus SD, bu guru kesayangan gue itu menikah lalu pindah tempat tinggal. 

Zaman SMP, itu waktu era majalah Annida naik daun. Ada yang tahu, Annida? 

Gue, yang memang pada dasarnya doyan baca, nggak ketinggalan ikut baca majalah muslimah muda itu. Cerpennya bagus-bagus, dan inspiring.

Gue pun teringat masa-masa madrasah. Masa di mana pernah tergugah, dan kenal sama Islam yang indah. 

Kelas 2 SMP, seorang teman ngajak gue ikut pengajian. Karena rame-rame sama teman sekelas, jadi gue mengiyakan. Nggak ada ruginya, kan? 

Sesi demi sesi kajian berlalu. Guru ngajinya laki-laki. Menurut gue, guru ngajinya seru. Bisa diajak bercanda, ngobrolnya juga nyambung. Tapi, kenapa pengajian harus selalu di rumah teman yang ibu bapaknya kerja, sehingga rumah teman itu isinya hanya kami? 

Ah curiga aja, lo, Lit

Sampailah kami pada materi di mana diceritakan bahwa semua manusia harus hijrah. Seperti layaknya Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah. Dari yang buruk ke yang baik. 

Pak Guru cerita, kalau hijrah itu harus dilakukan secara nyata, bukan sekadar niat. Namanya bocah, yang kepikir sama gue saat itu, "Kalo hijrahnya ke kota lain dan gue jadi pisah sama keluarga, ya nggak mau kali!"

Sebenernya udah mulai curiga, sih.Tapi satu sisi hati bilang, "Ah, curiga aja, Lit".

Dengan 2 orang teman, kami bertiga sepakat untuk hijrah. Sekitar 4 orang teman gue udah duluan hijrah. Tapi mereka nggak pernah cerita apa-apa. 

Di hari yang ditentukan, gue bolos sekolah. Kami dibawa berputar-putar [belakangan baru tahu, ada juga yang dibawa sambil ditutup matanya] ke satu daerah di Bekasi. Dulu SMP gue di Jaktim, jadi ke Bekasi jauh rasanya. 

Di sana kami ketemu dengan atasannya pak guru. Ditanya-tanya, apa ada keluarga yang polisi? ABRI? TNI? PNS? Lah, ada semua. Haha. Dia bercerita panjang lebar tentang pengajian ini. Singkat kata, singkat cerita, kami hijrah. Membaca syahadat, sampai berganti nama. Atasan pak guru titip pesan, kalau sayang keluarga, ajak mereka bergabung dan hijrah. Atau mereka akan jadi kafir selamanya karena nggak hijrah. Karena mereka kafir, maka kita berhak bohong sama mereka, mencuri dari mereka, pokoknya hal-hal buruk lah.

Pulang dari sana, gue kaya yang, err...

via GIPHY

Singkat cerita lagi, gue naik kelas 3 sekelas bertiga sama teman yang barengan hijrahnya. Mungkin ini campur tangan Yang Maha Kuasa. Kami bertiga mulai asik main sendiri jarang gabung sama teman-teman dari kelas 2 yang bareng di pengajian. Kami bertiga secara nggak sengaja menjauh. Jauh, jauh, jauh, sampai akhirnya berhenti sama sekali dari pengajian itu. 

Sebenernya, sebelum kami menjauh, sudah ada beberapa hal yang bikin gue ganjel:
  • Pengajian nggak dibedain mahram.
  • Menurut pak guru, ibadah kita masih sia-sia karena syariat Islam belum tegak. Jadi sah-sah aja nggak salat, nggak puasa, dkk. Lah, secara sini dari kecil udah dibiasain ibadah, ya, nggak terima aja.  
  • Suatu hari ada teman kabur dari rumah karena membela pengajian [kalo ga salah dia dicurigain sama ortunya] malah diterima dengan tangan terbuka di kontrakan pak guru yang kebetulan single, instead of dibalikin ke ortunya. Laaah, kan bisa jadi fitnah? 
  • Duit. Masing-masing dari anggota pengajian harus menyetor sejumlah uang tiap bulan yang besarnya sudah ditentukan. Udahlah masih anak SMP, sobat #simisqin pulak. Duit dari mana cobak? 
Setelah menjauh, apa udah berhenti sampai situ? Enggak gaes. Sampe SMA gue masih ada beberapa kali disamperin sama pak guru. Ditungguin depan sekolah, kadang diikutin sampe tempat nunggu angkot. 

Seram? Iya. Mungkin itu sebabnya gue nggak pernah berani cerita sama siapapun, apalagi menulis di media sosial.  

Tapi isu terorisme yang semakin merajalela belakangan ini, bahkan sampai ke anak-anak bikin gue ngeri. Cerita gue ini sebagai cerminan buat kita, para orangtua, supaya nggak take it for granted sama anak dan sekolah. What you can do?
  • Rajin ngecek obrolan di sekolah, apa sih yang lagi hits? Apa yang diobrolin antara murid dan guru? 
  • Apa visi misi sekolah? Cek lagu-lagu atau film yang dipakai sebagai referensi pelajaran. Ada seorang teman yang ngeluarin anaknya dari TK (!!) gara-gara lagu sekolahnya ada kalimat yang mencela/ menghujat kafir. Nggak pantes diucapkan sama anak TK lah! Ada juga teman yang mindahin sekolah anaknya karena di salah satu pelajaran, gurunya memutar film perang yang berkesan membakar semangat pemuda Islam agar berjuang [baca: filmnya tentang pembantaian muslim oleh kaum lain-red] 
  • Cek media sosial para pengajar sekolah. We just never know.. 
  • Ngobrol sama para pengajar sekolah, untuk cek-cek ombak aja kaya apa sih opini mereka terhadap suatu hal
Pengalaman gue pengajian itu memang bukan dari guru sekolah. Tapi, dari teman sekolah. Cuma sekarang ini, kaderisasi mereka sudah mulai masuk ke badan sekolah. Sebagai ortu, yang bisa kita lakukan hanya waspada. Terus gue mikir lagi, kalo saat itu bukan terkait isu agama tapi ke isu penculikan/ human trafficking, gimana? Deuh. Lita, bodoh kok dipelihara!

Anyway, pengalaman tersesat itu sejujurnya bikin gue parno sama yang namanya pengajian. Saat ini, gue kaya bingung mana yang harus diikuti, mana yang enggak. Ajakan ke berbagai kajian pun bikin gue alergi. Serius.

Karena pernah, beberapa tahun silam barengan sama beberapa ibu-ibu gue pengajian bareng. Sama, gurunya menyenangkan, asik diajak tukar pikiran, dan kalau ada pertanyaan remeh temeh misalnya, ngucapin hari raya ke agama lain, perayaan ulangtahun, atau hal-hal yang sering diributin di media sosial, mbak guru selalu bisa menjawab dan menekankan, “Kenapa sih mikirin begituan aja? Apa benar ibadah wajib kita udah diterima? Salat kita udah bener belum?” atau sebangsa itu. Buat gue, jawaban dia oke.

Lama kelamaan, kami jadi mulai curiga saat mbak guru mulai ngomongin masalah hijrah dan bai’at. Whew! Secara udah pernah kecebur, gue langsung parno. Cabut!
 
Mungkin gue salah, tapi pengalaman waktu SMP itu benar-benar bikin gue parno sama yang namanya pengajian. Gue tahu, nggak semuanya bakal berakhir sama dengan 2 pengalaman gue di atas, tapi namapun parno, gimana?

Setelah berani ngobrolin tentang ini, gue juga baru tahu ternyata, banyak teman senasib yang pernah tersesat di pengajian. Ada yang udah bertahun-tahun ikutan tapi sekarang udah sadar, ada yang baru diajakin [zaman kuliah juga pernah nih gue diajakin pengajian sama cewek ketemu di Metromini!], atau pacarnya yang ikut pengajian begini.

So yeah, ini bukan hal yang baru, udah lama banget. Mungkin hanya caranya yang beda, tampilannya yang beda, atau entah apa lagi yang beda. Tapi menurut gue, Islam yang gue kenal nggak kaya gitu.

Salah satu alasan akhirnya gue berani nulis tentang ini lebih karena gue berharapnya sih kita sebagai orangtua lebih aware sama pertemanan anak-anak dan sekolah anak kita. Bukan nakut-nakutin, sih, tapi yah, kok yang sekarang makin seram dan terbuka gitu ya. Kebayang nggak kalau kejadian gue bertahun-tahun yang lalu itu terjadi saat ini? Komunikasi makin mudah, anak-anak juga cenderung lebih kritis, berani bertindak, dkk. Duh, nggak kebayang.

Pesan gue buat para orang tua ini aja:



Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

20 comments:

  1. Waktu kuliah aku juga pernah hampir terjerumus. Mereka smooth banget lagi pendekatannya. Tapi begitu ngomongin hal-hal yang mirip kayak Mbak Lita ceritain langsung kadar keparnoan aku jadi naik. Untung bisa lepas.

    Sama kayak Mbak Lita, sejak itu aku agak parno ikut-ikut pengajian. Walaupun aku tahu itu salah. :'(

    ReplyDelete
  2. Iyaaa... apalagi sekarang pengajian makin aneh-aneh, yang ada tambah parno :'(

    ReplyDelete
  3. Bagaimana sama aku yg mualaf? Makanya setiap ada yg nawarin ikutan pengajian, nolak mulu. Tp klo hnya dngerin tausiah, msh mau lah. Trus kudu belajar dr mana ini? Huhubu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ujungnya sekarang harus lebih hati-hati dan cerdas aja sih dalam memilih panutan/ narasumber apalagi terkait agama, ya..

      Delete
  4. Wah pengalaman menarik! Semoga bisa jadi pelajaran ya .. ijin share

    ReplyDelete
  5. SMA? diajakin sama guru yg mana lit? Penasaran gua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampe SMA gue masih ada beberapa kali disamperin sama pak guru. Ditungguin depan sekolah, kadang diikutin sampe tempat nunggu angkot. --> Ini maksudnya refer to pak guru ngaji zaman SMP, Tu.

      Delete
  6. Wooooow... Kok bikin parno bingit, Lit. Dulu teteh gue pernah ikutan pengajian yg modelnya begini nih. Cuma krn sdh besar, dia akhir ngeh kl ada yg nggak beres. Tapi emang paling bener, PR paling besar itu, ya ngawasin dan kasih pengarahan ke anak, nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betuuuul.. terus teteh lo gimana, Dis?

      Delete
    2. Ya, untungnya teteh gue cerita sama nyokap bokap, Lit. Model pengajian dan kajian ya juga kaya yg sembunyi2 gitu, lho. Eh, gue jadi pengen tanya ke teteh gue lagi deh.

      Delete
    3. Alhadulillah. Tuh kan, kedekatan sama keluarga emang ngaruh yaaaa..

      Delete
  7. Alhamdulillah aku belum (jangan sampe) ada yang pernah ngajak2 ikut pengajian apalagi yang menjurus ke radikal gitu. Mungkin karena saking kepala batunya, jd yg mulai deketin udah nyerah duluan hahaha. Dulu waktu kos (udah kerja) pernah diantara tarawih-witir, kultumnya provokatif dan politis gitu. Ga pake lama, langsung walk out :D
    Soal anak, kalo aku emang berprinsip sekolah "hanya" membantu tugas kita sebagai pendidik utama anak kita. Jadi, instead of menyerahkan semua ke sekolah, kamilah (bapak ibunya) yang harus ekstra kerja keras mendidik anak (include agama). Soal sekolah, alhamdulillah (setelah seleksi sana sini) cukup puas dgn yang sekarang. Bukan sekolah islam, tapi tetep ada pelajaran agama 1 minggu sekali. 90% guru berkerudung (dan semua perempuan) tapi alhamdulillah nilai2 toleransi dijunjung tinggi (murid dari berbagai ras, kegiatan keagamaan semua dilibatkan). Berhubung Cha masih 5th, gaji di rumah sama Mama. Mau ikut ngaji sama temen2 di mesjid? Mama temenin :). (Bukan hanya ajaran ga bener yang ditakuti, pelecehan seksual pada anak sering dr org deket juga kan..)
    Maap ya Lit, komennya kepanjangan hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget Fiiiit, aku juga salah satu yang percaya bahwa sekolah/ infrastruktur lain hanyalah pendukung. Peran utamanya ya kita, orang tua :)

      Delete
  8. Litaa thanks banget uda membuka mata kita semua... turut simpati atas pengalaman yg pernah dialami, alhamdulillah masih dibukakan jalan sama Allah SWT utk tau mana yg baik buat dirimu... semoga anak2 kita selalu dilindungi dan dijauhkan dari orang2 nggak baik...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin, thanks Shinta!
      Iya, semoga anak dan keluarga kita dijauhkan dari hal-hal yang aneh-aneh yaaa

      Delete
  9. baru mau bilang...mana meme qasidah-nya? eh di bawah ada haha

    ReplyDelete
  10. Woaaaa NII ya mba? Dulu di kampus juga pernah ada isu NII. Ternyata ngincer anak smp juga ya. Ku kaget 😱

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayanya salah sasaran banget, ya. Pas aku kuliah juga ada pernah dengar2 temanku yg terlibat beginian ..

      Delete