SPT Freelancer

Telat, ya, bikin postingan ini?

Tahun-tahun sebelumnya, gue nggak begitu ribet ngurusin SPT. Karena penghasilan gue dan suami, tetap. Jadi lembaran potong pajaknya udah keluar dari kantor masing-masing.

Tahun lalu pas urus SPT, gue udah mencium gelagat kerepotan yang akan terjadi tahun ini. Kenapa? Karena saat itu, Igun memutuskan untuk melepas pekerjaan tetapnya dan memulai hidup baru *ceile* sebagai freelancer.

Setiap dia deal sebuah proyek, gue udah repot aja ngingetin perkara pajak. Bukannya apa-apa, ya, tapi gue tau banget, yang akan urus SPT-nya pasti gue.

O, iya, NPWP gue ikut suami. Alasannya, ga ada alasan khusus, biar lebih akrab aja *apasih*.
Sejak masuk bulan Maret, gue udah browsing sana-sini mengenai laporan SPT untuk freelancer. Coba ngerjain sendiri, ga bisa. Minta bantuan Manda (yang juga konsultasi sama temannya yang paham pajak), gagal juga. Akhirnya minta petunjuk dari Mbak Pajak, Mares alias Resti. Mares, lalu mengirimkan form SPT untuk freelancer yang ternyata ga sama dengan form SPT yang selama ini gue isi. Pantesaaaaaan, isi pake form lama ga bisa-bisa.

Di bawah ini ada beberapa hal yang perlu dicatat dari SPT seorang freelancer:
- form yang digunakan 1770 (tanpa S atau SS)
- ada 2 pilihan untuk menghitung penghasilan, berdasarkan norma atau pembukuan.
- gue pilih pake norma. Jadi norma ini adalah, bikin penghasilan nett-nya pake hitungan yang ada di pasal (berapa, ya, aku lupa), bisa dicek di pajak.go.id. Norma, dibagi ke beberapa bidang. Misalnya pedagang, normanya sekian persen, dokter sekian persen, pekerja seni sekian persen, dsb.
- kalo memilih pembukuan, boleh juga. Cuma harus diaudit atau ada auditornya. Menurut gue ini lebih cocok untuk pengusaha/ apa gitu yang penghasilannya ber-M-M kali ya. Lah, kalo gue pake sistem ini, bayar auditornya aja udah ngabisin setengah penghasilan *lebay*

Setelah tau ini semua, apa langsung kelar ngisinya?
O, tentu tidak. Saya tetap bingung, saudara-saudara! Bolak balik bbm Mares, padahal dia lagi sibuk *maafkan ya, Mares- salim*.

Di hari-hari terakhir penyerahan SPT, tepatnya hari Kamis, gue lihat @ruangfreelance tweet dia punya video tutorial pengisian SPT untuk freelancer. Gue langsung favorit-in, terus gue tonton, wow, ternyata semudah itu!

Ini videonya dari Ruangfreelance.com



Selain hal di atas, juga harus siapkan:
- surat pernyataan penggunaan norma yang ditandatangani wajib pajak
- rekapitulasi penghasilan, idem, ditandatangani si wajib pajak

Dua form di atas, bisa didapat di mana-mana, tinggal googling. Tapi gue dapatnya di ortax.org, situs tentang pajak gitu.

Gue menyelesaikan itu semua hari Kamis, setelah itu long weekend. Sebenarnya bisa via pos, tapi karena merasa ga yakin, gue nanya Mares (lagi) kalau hari Senin masih bisa/ nggak. Ternyata bisa, cuma kena denda. Gue googling dendanya, menurut pajak.go.id, 100 ribu. Okelah, gpp. O, iya, gue lebih sreg langsung karena gue ada kekurangan bayar pajaknya. Jadi biar sekalian tuntas, gitu.
Jadilah, Senin gue ke KPP Kramat Jati di Jl. Dewi Sartika (pas, searah, lebih tepatnya emang daerah jajahan juga, sih). Masuk langsung ke helpdesk, disuruh bayar kekurangan di loket Bank DKI. Setelah bayar, buktinya dilampirkan bareng SPT dan surat-suratan lainnya, ke helpdesk lagi untuk diperiksa kelengkapannya. Pas dinyatakan lengkap, langsung diserahkan dan terima bukti penyerahannya. Selesai!

Yeay, sudah lapor!

Ga sampe 30 menit.

Di sana, kebanyakan gue dengar beberapa orang yang bilang bahwa mereka freelancer. Entah, mungkin pedagang, pengusaha atau pekerja seni juga.

Menurut gue, hal ini salah satu bukti bahwa sosialisasi masalah pajak/ pengisian SPT masih kurang di kalangan freelancer. Atau kesadaran para freelancer yang masih kurang untuk menyerahkan SPT? Hehe.

Setelah melakukan ngisi SPT freelancer kemarin, aku tak takut lagi menghadapi lapor pajak tahun depan! Batal, deh, niat misah NPWP, haha..

Yuk, ah, bayar pajak. Kalo kata Naga Bonar, "hari gini ga bayar pajak? apa kata dunia?" :D

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

7 comments:

  1. Hoo. makasih Mba Lita, beneran baru tau kalo formnya ternyata beda dan pastinya itung-itungan bakalan beda ya. Sempat belajar tentang norma dan pembukuan cuman karena nyangkutnya ke pajak masih pusing. :P
    Ada rencana mau jadi freelancer juga tapi masih lama sih. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahh, emang memusingkan! Tapi setelah nonton video tutorialnya baru ngeh, ternyata ga susah koook :)

      Delete
  2. selain form2 diatas, apakah perlu mencantumkan berkas2 lain seperti fotokopi npwp atau ktp ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks ya! Postnya membantu banget! :)

      Delete
    2. Halo Mbak Lita, mau tanya apakah untuk freelancer perlu lapor dan setor pajak per bulan ? saya sempat membaca beberapa artikel karena terkait PPh 25 jadi perlu lapor per bulan ? Terima kasih.

      Delete