People change

Waktu SMP gw ada temen kalem, baik, agamis. Waktu berlalu, tiba2 gw dengar dia sekarang akrab sama dunia malam, alkohol dan free sex. I'm not judging this is bad. This is her choice.
Kagetnya mungkin karena tau dulunya dia gimana dan sekarang jadi gimana.

People change.
Iyalah, pasti semua orang berubah.

Beberapa hari ini gw shock (sampe sekarang masih) akibat pemberitaan tentang terorisme itu. Bukan karena apa2, tapi yang menjadi headline ndilalah kami pernah kenal. Bukan hanya kenal dia-tau-nama-gw-gw-tau-nama-dia ya, tapi teman.
Oknum yg gw kenal ini baik dan sopan. Manggil gw selalu dengan panggilan 'teh', membahasakan dirinya sendiri pun dengan nama. Ga pernah saya/ aku atau bahkan gue. Kalo ngomong khas anak2 sunda yg sopan gitu.
Agak ga percaya kalo baca/ lihat berita, dia jadi pimpinannya serta kelihaiannya bikin benda2 mematikan. Apa bahasa yg dia gunakan saat diperiksa polisi? Tetap menggunakan namanya utk kata ganti dirinya-kah? Atau apa ya? Baca komentar orang2 yg menghujat, mencerca dia, langsung terngiang di kepala gw saat dia cerita mengenai Aceh atau niat dia mau nikah sama pacarnya. "ga disetujui orangtua D, teh.. Gimana atuh ya?"

4 tahun berlalu, tiba2 sekarang lihat/ dengar/ baca dia jadi headline di semua media sebagai otak teror bom.
Perubahan yang terlalu dahsyat, menurut gw.

Dear friend, I don't know what to say. Changing is good, but if only u choose the better way..
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

No comments:

Post a Comment