Review Film Gundala, Hati-hati Spoiler!

Dulu tuh gue cukup sering nulis review film. Biasanya yang gue tulis, ya karena cukup memorable dan nyangkut di kepala gue. Beberapa hari belakangan, jagad media sosial lagi 'demam' Gundala. Review-nya bisa mudah didapat di mana-mana.

Gue termasuk beruntung, nonton di hari pertama, GRATIS pula. Sorry banget perlu nulis gratisnya. LOL. Sama Abimana pulak. Sorry lagi, nih, gengs. LOL.



Perlu diakui bahwa menulis review tanpa spoiler itu sulit. Gue mencoba untuk nulis sehalus mungkin, nih, ya. Kalo ternyata ada spoiler dan lo nggak suka spoiler, jangan baca.

Tapi, bukankah review -review apapun itu- memang akan ada spoiler?

Tapi diingetin sama Abimana, gimana dong!?

Alasan pertama gue nulis tentang film Gundala adalah gue merasa ikut bangga ada film superhero Indonesia yang standarnya bagus. Ada flaws, pastinya, misalnya ada yang bilang CGI masih kasar, atau teknis lainnya. Tapi gue sih, memaafkan. Bikin film tanpa CGI aja menurut gue cukup kompleks yang diurusin, apalagi ini?

Kemudian, ada banyak hal yang nempel dan bikin gue penasaran karena film ini memang dibuat untuk periode panjang alias bakal ada film-film di universe Bumi Langit selanjutnya.

Sebanyak ini! Nggak sabar banget, gue..

Pertama, kehadiran Awang. Jujur, gue belum baca komiknya. Tapi saat nonton filmnya, gue udah terkesan dengan kehadiran Awang. Nih anak w liat-liat berantemnya jago banget. Bukan yang pas mau syuting baru belajar bela diri. Beberapa hari setelah nonton, baru tahu bahwa Faris Fajar, pemeran Awang memang anak asuh [edit lagi: ternyata Faris adalah anak kandung Kang Cecep. Eh tapi walaupun paham kan, ya, maksud gue anak asuh ini adalah lebih ke anak didik. Anyway, buah jatuh tak jauh dari pohonnya kalo begini, mah!] Kang Cecep (sok akrab ya, gue), aktor laga dan juga koreografer adegan laga di film-film keren, sebut aja yang terakhir di John Wick 3 ngelatih Keanu Reeves!

Awang dan Sancaka kecil. Sancaka kecil juga kecil juga baguuuus aktingnya!
Nah, awal nonton, gue menyayangkan hadir Awang yang cuma sebentar. Sebagus itu laganya, kok cuma 15 menitan? Ternyata eh, ternyata, kehadiran Awang yang ngajarin Sancaka kecil bela diri, adalah planting buat tokoh di Bumi Langit Universe selanjutnya, Godam. Ah! Gue nggak sabar!!

Hal nempel berikutnya adalah kehadiran sepasang suami istri di salah satu adegan yang menyelamatkan Sancaka kecil dari kejaran preman tanggung. Di sana mereka bawa Sancaka ke mobil dan menawarkan Sancaka untuk ikut dan jadi anak mereka.

Kalo ini bukan film Joko Anwar dan bukan film yang universe-nya sebesar ini, mungkin akan gue lupakan. Tapi, karena tahu film Gundala adalah pembuka Bumi Langit Universe, maka gue yakin banyak hal yang di-planting di sini. Yah, kaya film-film superhero lainnya deh, misalnya di Iron Man 1 ternyata nyambung ke Avengers, dsb.

Lalu ada penampilan ciamik Ario Bayu berdialog Bahasa Jawa Kuno dengan lawan mainnya menjelang akhir film. Sekeren itu. Lawan mainnya biarlah jadi kejutan, karena gue juga kaget, lho kok ada dia? Rasaan namanya nggak disebut-sebut main di sini? Atau gue yang kelewat infonya?


Setelah baca sana sini, konon Bahasa Jawa Kuno yang digunakan juga nggak sembarangan. Melainkan Bahasa Jawa Kuno yang kemunculannya setelah Bahasa Sansakerta. Kalo mau baca ulasan lengkap mengenai bahasa dan bahkan ilmu hitam yang terkait dengan scene antara Ario Bayu dan lawan mainnya di film Gundala, cek di sini deh!

Lewat adegan ini juga, buat gue yang nggak baca komiknya, jadi berusaha cari tahu universe-nya Gundala gimana. Gue kemudian tahu bahwa universe-nya ada 4 era. Mulai dari Legenda, Jawara, Patriot, dan Revolusi. Gundala sendiri masuk di fase Patriot bersama Godam, Aquanus, dkk. Tokohnya masih banyak banget, inget, kan waktu pengumuman pemain-pemain Bumi Langit Universe? Caem semua!

Dan ini konon belum semua diumumkan, lho!

Walaupun 'cuma' komik, tapi karena karya Indonesia, gue jadi belajar lagi mitologi dewa dewi Indonesia. Bahwa ternyata Sri Asih merupakan titisan Dewi Sri, Gundala diciptakan karena terinspirasi dari Ki Ageng Selo, dsb.

Btw, OOT dikit. Buat yang mengagungkan Wonder Woman atau jagoan perempuan bule lainnya, coba cari tahu tentang Sri Asih, deh. Malahan, Sri Asih ini diciptakan lebih dulu dibanding Gundala.

Di Twitter kemarin sempat ada yang share tentang Sri Asih, silakan cek di sini.

Hal yang nempel lainnya adalah tokoh Pak Agung, bos Sancaka dewasa. Mukanya lempeng, kalimatnya quote-able, nada suara datar, tapi berhasil mancing kelucuan-kelucuan lewat ceplosannya. Sayang, Pak Agung nggak dieksplor lebih jauh, malahan di akhir dia… ah, sudahlah!

Kemudian Pengkor, musuhnya Gundala di film ini. Sebagus itu sampe nyebelinnya dapet. Tapi pas diceritain latar belakang/ alasan Pengkor begitu menyebalkan malah bikin sedih, sih.

Pernah lihat image #diteleponbapak?



Nah, buat yang belum nonton, ini bakal spoiler. Jadi ada salah satu adegan di mana Pengkor, yang punya banyak anak asuh yang loyal, menelepon mereka semua gara-gara Gundala. Keren-keren sekali, serius! Walaupun tokoh-tokoh tersebut sayangnya nggak tereksplor banyak di film ini.

Kalau di atas adalah hal yang nempel dari sisi positif, maka ada pula beberapa hal yang gue sayangkan. Misalnya, di film ini begitu banyak tokoh yang ingin dikenalkan, sampai-sampai porsinya nggak dapat banyak dan nggak dalam. Paling panjang memang ya Pengkor dan Gundala sendiri. Ya wajar, sih, kan memang bagiannya mereka. Cuma sayang aja gitu sekelas Dony Alamsyah atau Tanta Ginting cuma dapet peran jadi preman pasar. Walaupun keren banget, sih, aktingnya.

yak, dipilih, dipilih...

Adegan laganya juga kurang dieksplor dengan baik. Bukan berarti gue doyan nonton film berantem, ya. Ngilu, saya tuh kalo lihat orang dibanting-banting. Cuma memang kalo dibanding sama The Raid, Headshoot, atau film laganya Iko, lah, masih jauh banget. Ini masih kelihatan desain koreografinya, gitu.

Kemudian ada pula yang komen CGI, udah gue sebut di atas sedikit, ya. Siapalah gue komentar tentang CGI? Ngerti aja nggak.

Terakhir yang menurut gue agak ganggu adalah dialognya ada yang baku dan ada yang enggak. Kalo memang mau baku, yaudah baku aja semua. Jadi nggak belang. Menurut gue lho, ya.

Satu lagi, deh, ceritanya memang agak patah dan ada konflik yang berulang. Gue sotoy, sih, mungkin. Tapi gue rasa hal ini terjadi karena durasi, deh. Mungkin kalo nggak perlu motong durasi, bakal lebih enak dan nggak patah.


Kesimpulan akhir: gue mau nonton lagi, kok, untuk melototin easter egg yang ditebarkan Joko Anwar di film ini.

Oh iya satu lagi, kemarin @adity_titania sempat watsap nanyain pendapat gue apakah anak-anak boleh nonton film ini? Jawaban gue:

Silakan baca keseluruhan artikel di sini, ya!
Terakhir nih..

Pernah gue share di stories, sih. Gue tuh nggak pernah menganggap Abimana ganteng, nggak masukin Abimana ke radar ganteng gue, dah (siap ditimpuk fans-nya, nih). Tapi sungguh lah, di film ini Abimana body-nya bagus sekali! Dan bukan subyektif ini, lho, terbukti ada yang nge-twit ini ke Joko Anwar:


Di sini tuh, body-nya Abimana nggak bulky layaknya superhero/ jagoan, biasa gitu, tapi ramping berotot dan... ah, sudahlah! Pokoknya..


nenglita

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

No comments:

Post a Comment