Membantu Sesama Perempuan Lewat #12000pelukan



Ketika media sosial semakin mudah diakses, maka rujukan informasi seseorang tak lagi hanya pada media konvensional seperti media cetak atau televisi. Yah, berapa banyak sih, dari kita yang masih baca koran? Mungkin yang generasi di atas kita kaya bokap, nyokap, kakek, masih baca koran. Tapi bahkan nyokap gue aja udah baca berita dari Facebook :D

Media sosial yang tadinya hanya berfungsi sebagai bersosialisasi pun sekarang bak ujung tombak informasi. Semua orang bisa memberikan informasi. Tabrakan di jalan, tinggal upload ke media sosial. Situasi terkini dari demo besar-besaran, bisa didapat dari media sosial. Lebih real time. Semua orang bisa jadi wartawan yang langsung melaporkan dari tempat kejadian.

Begitupun dengan rujukan yang bersifat personal. Seperti makeup, fashion, gaya hidup atau pola asuh, media sosial jadi juara. Media sosial mampu melahirkan pakar-pakar baru sesuai dengan passion masing-masing orang, sehingga mereka jadi selebriti dunia maya.

Berapa tahun yang lalu, mungkin kita nggak kenal siapa itu Ria Ricis, Zahratul Jannah, dan seterusnya. Tapi sekarang, nama-nama mereka banyak dijadikan panutan untuk bidang yang sesuai dengan apa yang mereka upload di media sosial.Kalo gue pernah tulis di sini sih, sekarang dunia maya membuat semua orang bisa jadi seleb!

*evil grin*
Demikian juga dengan selebriti beneran. Maksudnya mereka yang udah jadi seleb sebelum media sosial ada. Yang tadinya kita kenal sebagai penyanyi, tiba-tiba jadi panutan di bidang pola asuh. Yang tadinya aktris, kita jadikan panutan dengan gaya hidupnya yang sehat. Yang tadinya anak band, kita jadikan panutan akan foto-foto di galeri Instagramnya yang ciamik. Yang tadinya pemain sinetron, kita jadikan panutan akan desain interior karena galeri Instagramnya kerap membagikan rumahnya yang apik. Dan banyak lagi.

Perkara media sosial memang cukup pelik, kalau gue perhatiin, ya. Di satu sisi, buat kita yang tahu kehidupan seseorang gimana, kok beda dengan yang ditampilkan di media sosialnya? Atau malah bikin kita terinspirasi dengan apa yang kita lihat di galeri media sosialnya. Meminjam judul di salah satu artikel kumpara.com, "Etalase Semu".
Some people aren’t really all that they “post” to be
Anyway, gue nggak mau ngomongin media sosial sih. Walaupun gatel pengin bergosip. Haha.
Jadi yang mau gue obrolin adalah, beruntunglah kita yang memiliki akses ke dunia maya sehingga bisa mendapatkan informasi seluas-luasnya tanpa batas baik dari media beneran atau media sosial.

Gue ngerasain banget saat hamil, menyusui dan melalui tahapan tumbuh kembang Langit. Tanpa kehadiran media sosial atau teman-teman yang kenal di dunia maya, mungkin gue masih berpandangan konvensional. You know, yang percaya bahwa ASI nggak cukup buat pertumbuhan anak, anak umur 4 bulan nggak apa-apa dikasih pisang, dan sebagainya. kehadiran media sosial buat gue sangat membantu gue dalam proses menjadi ibu.

Media sosial pula yang membuat gue diundang ke acara peluncuran produk Blackmores Pregnancy and Breastfeeding Gold. Bareng beberapa blogger yang concern pada dunia parenting, kami menerima pemaparan mengenai fakta-fakta seputar ibu hamil dan perkembangan bayi. Salah satu fakta yang cukup bikin nyesek adalah masih banyak sekali kasus kematian atau kelainan pada bayi dikarenakan nutrisi yang diterima kurang optimal. 


Nah, kemarin tuh gue baru benar-benar memerhatikan, berdasarkan kuantitas yang kita butuhkan nutrient dibedakan menjadi  2 jenis: makronutrien dan mikronutrien. Makronutrien adalah zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah besar oleh tubuh seperti karbohidrat, protein, dan sebagainya. Sementara mikronutrien adalah  zat gizi yang diperlukan oleh tubuh manusia selama hidupnya dalam jumlah kecil untuk melaksanakan fungsi-fungsi fisiologis, tetapi tidak dapat dihasilkan sendiri oleh tubuh.

Di Indonesia, ibu hamil biasanya dimanja deh. Ini gue alami sendiri. Zaman hamil, teman sekantor itu bisa menuruti gue mau makan apa. Biasa kan, kalau makan siang di kantor itu kan suka ribet menentukan lokasi, waktu gue hamil mah gue mendapat privilege untuk menentukan lokasi dan jenis makanan :D

Anyway, kalo soal makanan alias makronutrian ibu hamil itu pasti terjamin, gimana dengan mikronutrien?

Faktanya, Ibu hamil di Indonesia mengalami kekurangan asupan berbagai mikronutrien bahkan di kota besar sekalipun. Padahal, kekurangan mikronutrien bisa menyebabkan banyak hal, misalnya kekurangan zat besi 10-40% bisa menyebabkan BBLR atau berat badan lahir rendah, kekurangan asam folat bisa menghambat pertumbuhan janin atau menciptakan peluang neural tube defect (NTD) atau cacat bawaan yang timbul akibat tidak sempurnanya penutupan tabung saraf selama pertumbuhan janin, dan seterusnya.

Bahkan, Dr. med. dr. Damar Prasmusinto, SpOG(K)., Konsultan Fetomaternal, Departemen Obsteri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia yang menjadi narasumber siang itu memberikan contoh dengan kasus-kasus kejahatan yang terjadi baru-baru ini. “Inget kasus pembakaran orang di Bekasi? Nah, itu bisa terjadi karena saraf empati si pelakunya nggak ada. Kenapa bisa nggak ada? Karena mungkin saat pelaku dalam kandungan atau bayi, dia nggak mendapat nutrisi yang cukup sehingga saraf yang seharusnya untuk empati nggak kebentuk”. Begitu kira-kira kata pak dokter. Ngeri, ya?

Bahkan empati yang gue pikir bisa dibentuk dari luar atau hasil didikan/ pola kebiasaan, ternyata juga dipengaruhi nutrisi sejak ibu mengandung. 

Waktu hamil dan nyusuin, gue termasuk yang giat minum aneka vitamin. Kalau hamil memang dikasih vitamin sama dokter, nah pas menyusui itu deh yang ikhtiar banget supaya ASI gue banyak. Kalau yang udah sering baca tulisan gue zaman di Mommies Daily, tahu deh, bahwa produksi ASI gue seadanya bahkan sampe minum jus pare supaya produksi ASI gue lancar.

Andai dulu udah kenal sama Blackmores yang Pregnancy and Breastfeeding Gold ini, ya. Pasti Bakal gue coba. Secara Blackmores Pregnancy and Breastfeeding Gold mengandung tinggi DHA, kalsium, zat besi, asam folat, vitamin dan mineral yang diperlukan selama masa kehamilan dan menyusui. Gue jadi penasaran, ada yang udah pernah nyobain dan ngebuktiin nggak?


Sejak jadi orangtua, gue cukup concern dengan masalah yang berkaitan dengan kehamilan, menyusui dan pola asuh. Saat ini Blackmores sedang mengadakan campaign #12000pelukan, dan gue langsung ikutan! Jadi, campaign #12000 pelukan ini adalah di mana Blackmores akan membantu para ibu hamil dan menyusui yang tidak seberuntung kita dalam perkara mendapat informasi dan nutrisi dengan menyumbangkan Blackmores Pregnancy and Breastfeeding Gold. Blackmores akan menyumbang lewat Yayasan Bumi Sehat milik Ibu Robin di Bali. Tahu dong Yayasan Bumi Sehat? Mungkin buat sebagian orang tahu yayasan ini karena begitu banyak selebriti yang melahirkan anaknya di sana. Tapi sebenarnya, Yayasan Bumi Sehat banyak membantu proses melahirkan para ibu hamil yang kurang mampu secara gratis.

Gimana cara berpartisipasinya?

Upload foto seolah sedang memeluk bayi.
Share di social media dengan hastag #12000Pelukan dan #BlackmoresIndonesia serta tag 3 teman kamu untuk ajak mereka ikut beraksi.

Udah, gitu aja! Setiap foto yang diunggah sama dengan 1 botol Blackmores Pregnancy and Breastfeeding Gold yang disumbangkan lewat Yayasan Bumi Sehat. Tuh, berapa banyak foto yang lo unggah ke media sosial per hari? Coba luangkan waktu buat unggah 1 foto, yuk, buat para ibu hamil yang nggak seberuntung kita. Karena gue percaya, sebagai sesama perempuan harusnya kita saling mendukung. Setuju nggak?





Lita Iqtianti

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

No comments:

Post a Comment