Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada..

Masihkah kita bersujud pada-Nya?

Akhir-akhir ini Langit udah mulai banyak tanya masalah ketuhanan, agama, konsep surga, neraka, dan sebagainya.

"Bu, katanya kalo masuk surga atau neraka nanti bisa muda lagi, lho"
"Di neraka kan ada api, tapi kalo kita kena api di sana sakit ga bu?"
"Kenapa kita harus pilihnya masuk surga bukan masuk neraka?"
"Emang di neraka nggak enak ya, bu?"
"Kenapa kalau kita berdoa nanti disayang Allah?"
Dan seterusnya.

Susah pertanyaannya?
Bagi gue, iya banget. Susah.
Mungkin karena dari lahir gue memeluk agama Islam, jadi udah terbiasa. Dulu pas masih kecil, mungkin gue pernah nanyain hal yang sama ke nyokap, ya. Nah sekarang giliran gue, dah.



Sebagai ibu moderen *tsah*, penginnya udah pasti kasih jawaban yang nggak asal jeplak. Semuanya harus masuk akal dan logika anak umur 5 tahun. Makanya gue ga mau bohong, walaupun jadi PR banget gimana cara jawab, "itu caranya gimana bu, kalo nenek-nenek meninggal ke surga, jadi muda lagi?". Mungkin ilmu agama gue masih cetek, jadi kesulitan menjawabnya.

Sebenernya gue belum sreg mengenalkan konsep yang baik masuk surga, yang nakal masuk neraka. Tapi rupanya, di sekolah diajarin beginian. Agak kurang sejalan aja kayanya.

Bukan, bukan berarti gue nggak suka, cuma gue ingin anak gue berbuat baik tanpa ada pamrih dia mau masuk surga.
Gue pengin anak gue berdoa, bersikap santun, dst memang karena ia ingin dan ia tau maksud dari semua kegiatan tersebut.
Bukan karena ada iming-iming surga di ujung kehidupannya nanti. Menurut gue, ini malah menumbuhkan rasa pamrih dalam diri seseorang. Kata gue lho ya.

Ini salah satu alasan kenapa gue cari sekolah yang mementingkan akhlaq dan budipekerti. Bukan semata hapal Quran saat lulus nanti.

Basically, TK-nya sekarang cukup mengedepankan akhlaq juga, tapi ternyata 'kecolongan'.

Mungkin ini pendapat pribadi, melihat gimana degradasi moral manusia; yang bunuh mantan pacar lah, anak bunuh ibu, ibu bunuh anak, suami bunuh istri, dst, bikin gue serem. Gue yakin mereka si pelaku udah kenal konsep surga dan neraka, ya. Toh, ternyata ga ngaruh. Apa mereka nggak diajarin untuk mengasihi orang lain?

Ga usah bunuh-bunuhan, wong kita yang saat ini udah tau konsep surga dan neraka juga masih sering mengabaikan apa yang dilarang dan apa yang diwajibkan, kan? Ngomongin orang *uhuk-keselek*, tabarruj alias berlebih-lebihan, meninggalkan sholat, etc, dsb.

Pertanyaan buat diri kita masing-masing, kalau kita nggak tau ada surga atau neraka, kita masih bersujud pada-Nya nggak?
Kalau surga dan neraka nggak pernah ada, kira-kira kita masih sholat 5 waktu ga?

Notes: ini hanya renungan diri sendiri. Mudah2an ga ada yang tersinggung.

*teteub kudu pake disclaimer ye bok*

nenglita

Aquarian, Realistic Mom, Random, Quick Thinker, a Shoulder to Cry On, Independent, Certified Ojek Consumer, Forever Skincare Newbie.

7 comments:

  1. Aku juga pengennya gitu Lit, menekankan pada anak bahwa berbuat baik itu karena harus, bukan karena kita mengharapkan "sesuatu" dari pencipta kita. Meski konon pamrih kepada Allah itu sah2 aja, tapi aku kok kurang sejalan juga dengan konsep ini. Aku sih mikirnya, kita ini siapa kok berani-beraninya pamrih sama Allah. Meski Dia ga keberatan dengan pamrihnya kita, kok aku malah lebih sreg kalo semua yang kita lakukan ini tujuannya untuk berterima kasih ke Dia atas semua yang dikasi ke kita yang pastinya ga ternilai. Perkara nanti kita dapet "bonus" yang lain ya itu urusan nanti. Soalnya biasanya kalo kita belum-belum sudah pamrih biasanya kecewa kan kalo ternyata apa yang kita harapkan hasilnya ternyata ga sesuai. Sebaliknya, kalo ekspektasi kita rendah dan pada akhirnya dapet "bonus" pasti menyenangkan sekali. *maaf ya Lit, komennya panjang dan mungkin agak ngelantur* hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini jleb banget, "kita ini siapa berani2nya pamrih sama Allah?".

      Hiks.

      Delete
  2. setuju dengan konsep yg lo pikirin ttg berbuat baik tanpa iming2 surga dan neraka.. dan gw jadi kepikiran juga sama paragraf ini

    Pertanyaan buat diri kita masing-masing, kalau kita nggak tau ada surga atau neraka, kita masih bersujud pada-Nya nggak?
    Kalau surga dan neraka nggak pernah ada, kira-kira kita masih sholat 5 waktu ga?

    karena ya jujur aja, gw pun beribadah kan tujuannya pengen masuk surga... apa itu termasuk pamrih ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Umm.. Bingung jg jawabnya. Kalo dari komen di atas, pamrih sama Allah itu boleh. Tapi jd timbul pertanyaan lain, "kita ini siapa kok berani2nya pamrih sama Allah?" :'(

      Delete
  3. Dari pengajian Al Galaxyah beberapa minggu yang lalu, bahwa kita beribadah itu bukan ngarepin surga dan neraka, tapi karena emang udah kewajiban kita sebagai hamba-Nya. Kadang, bukan gw mendeskriditkan kaum gw sendiri ya. Seringkali kita fokus ngajarin anak beribadah mengejar Hablum Minallah, sementara kita abaikan bagaimana anak bersosialisasi selayaknya juga ketentuan Hablum Minannas.

    Padahal yang namanya setiap saat ibadah itu gak musti dzikir tiap hari, baca Qur'an tiap saat. menjadi teman yang baik, anak yang baik, kakak yang baik, itu juga salah satu bentuk ibadah. Setiap kegiatan kita yang memberikan manfaat itu juga ibadah.

    Aish, gw makin ketagihan nih ngaji bareng Mbak Nana. Menurut gw, orangnya saklek dalam berprinsip. Black and white.
    Tapi semuanya berdasar sih...makanya gw cocok ngaji bareng. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue #timhablumminannas ndah. Bukan berarti hablumminallah nggak, ya. Cuma kayanya itu harusnya by default, ibadah pada umumnya. Hubungan antar manusia malah ga diperhatikan. Padahal kata Mbak Nana semua yg dilakukan di muka bumi ini kan ibadah.
      Kangen,Mbak Nana. Kabarinnya jangan dadakan dong, Ndah. Mau!

      Delete
  4. jadi inget postingan ini http://jihandavincka.wordpress.com/2013/04/17/ancaman-pluralisme-jika-surga-dan-neraka-tak-pernah-ada/

    ReplyDelete