Wednesday, June 28, 2017

Lebaran: Macet, Harga Bahan Makanan, Jadwal Libur, Dan Seterusnya



Selama belasan tahun, keluarga gue selalu ketempatan kalau lebaran. Beberapa tahun yang lalu, almarhum nenek dari nyokap tinggal sama keluarga gue dan bokap adalah anak paling tua sementara orangtuanya sudah nggak ada. Alhasil, kerepotan bin keribetan jelang lebaran sudah biasa gue hadapi. 


Gue memang nggak bisa masak, tapi bukan berarti gagap di dapur. Dari zaman belum punya anak, sudah biasa akrobat di dapur, walaupun sebatas membantu. Eh, tapi gue ini klaim nggak bisa masak hanya karena gue sebenernya nggak tahu rasa, lho. Gue bingung saat nyobain makanan itu, apa yang kurang rasanya? Garam? Cabe? Lada? Gula? Hihihi, karena bagi gue makanan itu hanya enak dan nggak doyan :D

Motong ketupat? Berapa puluh juga bisa dilakuin sendiri! Marut papaya muda buat sayur godog? Sambil merem! Nyuci piring ‘after party’ 70-an orang? Sampe jari kapalan! Apa lagi cobak? :D

Day 1

Day 2
Jadi, kadar keribetan gue memang bukan menciptakan masakan. Tapi urusan bebenah rumah, nyuci, supporting kegiatan masak memasak, disuruh belanja yang kurang-kurang, bahkan sampe angkat meja kursi, my mom can count on me :D

Tahun lalu juga pernah gue tulis kehebohannya di sini.

Lebaran kali ini, alhamdulillah tampak luar cukup tenang. Walaupun di dalam sana ada gelombang emosi yang ingin keluar. Tapi sudahlah. Dengan memaafkan dan menerima, insyaallah belajar ikhlas. 

Oke, sebelum salah fokus dan terlalu jauh ntar curhat, mari kita alihkan isu. 

Catatan gue di lebaran tahun ini:

Harga bahan makanan nggak naik secara signifikan

Biasanya jelang lebaran nyokap udah teriak-teriak harga bahan makanan yang melonjak tinggi. Mulai dari cabe, bawang, daging, ayam, dsb. Tapi tahun ini, dia anteng aja tuh. Dan memang di beberapa media juga bilang bahwa harga bahan makanan di pasar cenderung stabil. Sehingga kami bisa makan dengan tenang tanpa harus mendengar keluh kesah buibu akan harga :D

Makasih Pak Jokowi! 

Kemacetan 

Di hari lebaran sih, konon macetnya gile bener. Sepupu gue itu keluar tol Jatibening sekitar jam 3, lalu sampe area Bintara [tempat keluarga kami ngumpul hari lebaran] jam 18.30-an. Sedap!

Banyak juga yang gue baca di status medsos, kena macet dalam kota. Ada yang dari Pangkalan Jati ke area Galaxy itu 2 jam, ada yang dari Jatiwarna ke Galaxy 2 jam, dan seterusnya. Maap nih, ye, contohnya area Bekasi mulu. Haha. Maklum #UpperEastSiders

Nah, kalau menjelang libur lebaran, biasanya di Jakarta macet edan-edanan. Mungkin tahun ini karena gue nggak masuk ke tengah kota ya, jadi nggak terlalu merasakan.

Tapi JORR itu kan juara juga macetnya, tapi gue rasain biasa aja sih. Terakhir ke Bintaro itu tanggal 20 Juni, gue pulang jam 11 malam dari kantor. Ga sampe 30 menit udah sampe Jatiasih. Nah, dari Jatiasih ke simpang yang arah Cikampek baru deh macet.

Demikian juga hari Kamis, hari terakhir orang-orang harusnya pada ngantor. Gue ke tengah kota kan, ada acara bukber sama klien di Kuningan. Gue cabut dari Oakwood jam 9, sampe rumah jam 11. Dua jam lumayan lama ya? Tapi fyi, di hari biasa kadang suka sampe segitu lamanya juga. 

Mungkin hal di atas berkaitan dengan.. 

Jadwal libur

Tahun ini jadwal libur resmi dari pemerintahnya lumayan lama. Dari 23 Juni dan baru masuk lagi 3 Juli. Asiknyaaaaa... 

Memang nggak semua kantor menaati peraturan ini. Banyak yang Jumat 23 Juni masih ngantor, atau 29 Juni udah masuk juga, malah sepupu gue 27 Juni udah ngantor. Hihi. 

Menurut beberapa media sih, keputusan pemerintah meliburkan kantor lebih awal sebagai salah satu upaya mengurai kemacetan. Nah, buat yang mudik, apakah berhasil cara ini?

Libur sekolah

Bertepatan sama libur sekolah. Langit libur dari 16 Juni dan baru sekolah lagi 17 Juli. Sebulan boook, lama beut! 

Seperti pernah gue tulis di sini, kalo libur pas puasa biasanya dia gue kasih project biar nggak bosen. 
Tahun ini, project-nya bikin amplop buat uang angpao lebaran. Tahun-tahun sebelumnya kan gue yang bikin, dan Langit hanya membantu. Nah, tahun ini idenya adalah pake gambar Langit. Tapi karena Langit nggak suka mewarnai, maka gue yang mewarnai. Eh kebetulan gue doyan banget warnain, dulu zaman kecil, koran bokap gue warnain. Biar bacanya seru.  Hehe. 

Nah, anak ini kan perfeksionis kalo urusan gambar, dianjurkan sama kakeknya [yang juga doyan gambar] untuk bikin 2 gambar aja lalu difotokopi perbanyak sesuai jumlah amplop. Eh, dia nggak mau. Dia maunya customized. Setiap orang gambarnya harus beda, diambil dari karakter film. Dan dari 1 film hanya boleh diambil 2 karakter. Yang dibikin ada 27 amplop, lho. PR nggak tuh mikirin karakternya? 



Alhamdulillah jadi. Anaknya ngerjainnya juga happy dan lebih happy lagi pas di hari lebaran dia menerima pujian atas karyanya. 

Tahun depan lagi, yuk! 

Selamat Idul Fitri, mohon maaf kalau ada salah-salah kata atau perbuatan baik secara virtual ataupun yang kenal di dunia nyata :)
Semoga tahun depan kita masih bisa ketemu sama Ramadan dan saling bermaafan ya!

Gimana lebarannya? Kena macet atau ada hal-hal lain yang seru?

Wednesday, June 21, 2017

Bukber: Pertemanan Yang Datang Setahun Sekali



“Buka bersama yuk!”

Selama bulan puasa, pasti sering banget dengar kalimat ini. Ada yang sungguh-sungguh mengajak bertemu, tapi nggak sedikit yang basa basi, for the sake of kesopanan.

Demikian juga dengan mendatangi acara buka puasa bersama. Ada yang memang datang karena sungguh-sungguh ingin bertemu, di mana selama pertemuan gadget diletakkan di tas, aura kehangatan hadir di sana sini, bahkan sesi foto-foto kerap hanya jadi pemanis belaka.

Di sisi lain, ada juga yang mendatangi acara buka puasa bersama karena takut ketinggalan. Takut nggak ke-tag di sosmed, hehe. Atau semacam FOMO alias fear of missing out. Hemm.. missing out apa tapi ya? Keramaian, keseruan, haha hihi, padahal ketika pertemuan sibuk dengan gadget masing-masing? [di sini gue jadi inget sebuah iklan radio yang menggambarkan 3 cewek udah lama nggak ketemu teriak "kangen" satu sama lain, kemudian hal pertama yang dilakukan saat bertemu adalah: foto. Ke dua: upload sosmed. Terus ditutup dengan kalimat narasi "Lah, katanya kangen, kok malah pada sibuk sama gadget masing-masing?"]

FO·MO
ˈfōmō/
noun
informal
noun: FOMO
anxiety that an exciting or interesting event may currently be happening elsewhere, often aroused by posts seen on a social media website.
Gue nyinyir ya?

Beberapa tahun yang lalu, gue sempat rajin datang buka puasa bersama. Siapapun yang ajak, gue iyain. Karena emang gue pengin bertemu. Karena gue emang mau ngobrol. Kopi darat. Me time. Tapi rupanya nggak semua peserta sevisi dengan gue. Ada yang sibuk dengan gadget, sibuk foto-foto, hadir hanya sebentar yang penting foto bareng buat bahan eksistensi dengan caption”Kangen banget sama kalian semua”, atau “Selalu seru kalau sama kalian”, dan seterusnya.

Kemudian gue juga menelaah ke dalam diri sendiri. Saat buka puasa bersama yang biasanya di tempat umum itu, sudahlah macet di perjalanan, tempat makan biasanya penuh jadi bikin kita nggak nyaman untuk ngobrol, mau salat maghrib juga begitu, da pokoknya mah enakan buka puasa di rumah atau di kantor aja. Atau ya kalau mau ketemuan nggak harus pas maghrib kan?

Sejak 2 tahun lalu, gue mulai jarang menghadiri rutinitas buka puasa bersama. Cuma yang benar-benar wajib hadir aja yang gue datangi. Dan yang wajib hadir, di H-3 lebaran tahun ini baru 3 kali :D

Bukber pertama dengan ICAS, persahabatan 20 tahun
 
Bukber resmi kantor
Bukber dengan klien
Memang sih, buka puasa bersama merupakan salah satu ajang silaturahmi paling esensial. Alasan yang tepat untuk reuni, ketemuan sama teman-teman yang udah lama nggak ketemu, temu kangen. I second that. 

Senang banget kan ketemu sama teman yang puluhan tahun nggak ketemu? Dulu zaman SD kita pernah tahu dia cengengnya kaya apa, sekarang udah jadi pak bos, misalnya. Kan seru. Itu makanya gue kemarin-kemarin sempat rajin datang bukber karena memang gue tipenya kan senang ngumpul :)

Tapi belakangan ini, selain alasan-alasan teknikal yang gue sebut di atas [resto penuh, susah salat, dkk], gue jadi nyadar bahwa beberapa dari orang yang kita anggap sobat, ternyata nggak segitunya. Macam bertepuk sebelah tangan. Bukber jadi semacam pertemanan yang datang setahun sekali.
Malah ada yang tiap tahun tadinya wajib ketemu di bulan puasa karena seru dan rindu, kemudian ajakan demi ajakan bertemu hanya wacana, sampai akhirnya semua luntur dan hilang tak membekas.

 Ternyata, kita cuma segitu aja

 Selamat menikmati hari-hari terakhir Ramadan 1438H, ya :)